Selasa, 10 Januari 2012

Mu'jizat Al Qur'an

Al-Qur’an adalah kitab petunjuk dan hidayah bagi manusia dan seluruh makhluk yang bertakwa di atas bumi ini. Sesuai dengan penegasan al-Qur’an yang artinya: Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. ( QS.2:2)
Tujuannya agar mereka dapat hidup teratur dan tertib serta benar dalam kehidupan ini. Seluruh alam yang luas beserta isinya dari bumi, laut dan segala isinya akan menjadi kecil di hadapan manusia yang lemah, karena ia telah diberi keistimewaan-keistimewaan seperti kemampuan berpikir untuk mengelola seluruh yang ada di hadapannya.
Allah tidak akan membiarkan manusia tanpa adanya wahyu pada setiap masa, agar mendapat petunjuk dan menjalankan kehidupannya dengan terang dan benar. Maka Allah mengutus Rasul-Nya dengan mu’jizat yang sesuai dengan kecanggihan kaum pada masanya, agar manusia mempercayai bahwa ajaran yang ia bawa datang dari Allah swt. Allah SWT menyampaikan risalah lewat orang yang memiliki kesucian jiwa dan kecerdasan yang luar biasa, sehingga mampu menerima informasi-informasi dari yang gaib.
Oleh karena akal manusia pada masa pertama perkembangannya lebih dapat menerima mu’jizat yang bersifat materi, maka mu’jizat juga berbentuk materi. Seperti tongkat Nabi Musa as yang bisa berubah menjadi ular besar. Demikian juga mu’jizat Nabi Isa as yang dapat menghidupkan orang yang mati dengan izin Allah, dan dapat menyembuhkan orang yang buta.
Ketika akal manusia mencapai kesempurnaannya, Allah memberikan risalah Muhammad yang kekal kepada seluruh umat manusia yang tidak terbatas pada kaum di masanya saja. Maka mu’jizatnya adalah mu’jizat yang kekal sesuai dengan kematangan perkembangan akal manusia.
Al-Qur’a>n sebagai Kalam Allah mempunyai banyak fungsi, salah satunya sebagai petunjuk yang jelas dan pedoman yang kekal bagi kebahagiaan hidup manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Al-Qur’a>n memberikan petunjuk global apa yang harus dilakukan hamba Allah SWT di dunia ini, baik untuk dirinya sendiri, dengan sesamanya dan dengan Allah Yang Maha Pencipta.
Al-Qur’a>n sebagai sumber ajaran, dan bukti kebenaran kerasulan Nabi Muhammad SAW. Sebagai sumber ajaran, memberikan berbagai norma kehidupan untuk petunjuk bagi kehidupan manusia mencapai kehidupan di dunia dan di akhirat, yang merupakan akhir dari pejalanan kehidupan mereka. Dengan berpegang teguh kepada al-Qur’a>n, merefleksikan ajarannya serta menghindari larangan-larangannya, maka manusia akan mendapatkan kebahagian di dunia maupun di akhirat kelak.
Sebagai mukjizat bagi Rasul dengan misi yang luar biasa, tentu al-Qur’a>n adalah kitab suci yang sangat luar biasa. berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya yaitu jaminan Allah SWT atas kemurniannya di sebut dalam Surah Al-Hijir 9;
  •     
Artinya: “Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (QS. 15: 9).

Sebagian keistimewaan al-Qur’a>n terletak pada ketinggian dan keunggulan susunan bahasanya. Sejak pertama kali diturunkan hingga sekarang tidak ada seorangpun yang sanggup meniru gubahannya, apalagi hendak menandinginya.
Pada sisi lain pula kita melihat al-Qur’a>n yang mempunyai nilai sastra yang tinggi, menjadikannya sebagai kitab yang mempunyai redaksi singkat, padat, penuh dengan metafosis (maja>z), sangat lentur, mempunyai banyak arti dan makna.

MUKJIZAT AL-QUR’AN

A. Pengertian Mukjizat al-Qur’an
Menurut bahasa kata mukjizat berasal dari bahasa Arab yaitu إعجــــــز berarti menetapkan kelemahan. Kelemahan menurut pengertian umum adalah ketidakmampuan mengerjakan sesuatu, lawan dari kemampuan. Apabila kemukjizatan telah terbukti maka nampaklah kemampuan mu’jiz (sesuatu yang melemahkan). Quraish Shihab mendefiniskan pelakunya dengan sebutan معجــــــز. Bila kemampuan membuktikan pada pihak lawan amat menonjol sehingga mampu membungkam lawan, maka ia dinamai معجــــــزة , tambahan ( ة ) ta marbutah pada akhir kata itu mengandung makna muba>laghah (superlative).
Mukjizat secara istilah berarti sesuatu yang luar biasa yang kelihatan pada diri seorang hamba pilihan Allah SWT yaitu Nabi dan Rasul. Keluarbiasaan yang dimiliki hamba pilihan Allah SWT ini akan terlihat dengan jelas apabila ditantang oleh orang lain. Namun tantangan itu tidak akan mampu mengalahkan keluarbiasaan hamba pilihan Allah SWT tersebut.
Mu’jizat al-Qur’a>n pada diri Nabi, merupakan bukti kebenaran bahwa dia adalah seorang Nabi utusan Allah untuk menyampaiakan risalah dari Allah SWT. Dan juga sebagai bukti bahwa al-Qur’a>n.sebagai kitab yang dapat dipercaya sekaligus bersih dari campur tangan dan rekayasa Nabi Muhammad SAW. Bila beritanya tidak terpercaya otomatis kerasulan Nabi Muhammad SAW tidak diakui keotentisitasnya dan tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Mu’jizat yang mampu mengantisipasi semua serangan yang ditujukan kepada al-Qur’a>n mutlak diperlukan karena posisi al-Qur’a>n yang sangat menentukan. Mu’jizat al-Qur’a>n.dalam pengertian ini adalah sesuatu yang dapat melemahkan lawan atau mengalahkan kecerdikan dan kekuatan musuh, karena keadaannya sangat menyalahi adat kebiasaan yang ada, melemahkan kekuatan lawan baik lahir maupun batin, baik kekuatan badan maupun kekuatan pikiran, guna membandinginya, mengimbanginya, menyerupainya dan bahkan menolaknya.
Dinamakan mukjizat (melemahkan) karena manusia lemah mendatangkan yang semisalnya, karena mukjizat sesuatu yang bertentangan dengan kebiasaan, keluar dari batas-batas sebab yang diketahui.
Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan bahwa mukjizat al-Qur’a>n adalah kemampuan internal al-Qur’a>n.yang sangat luar biasa yang membuktikan kepada lawan-lawannya, bahwa mereka tidak mampu membuat satu ayat pun sebagai tandingan yang akan menyamainya, baik secara perorangan maupun kelompok.
B. Tujuan dan Peranan Mukjizat al-Qur’a>n.
Al-Qur’a>n diturunkan berbahasa Arab kepada bangsa Arab. Datang dengan nilai sastra kepada kaum yang ahli sastra. Sementara Nabi pembawanya dikenal sebagai orang yang tidak mempuyai tradisi tulis baca (ummi), sehingga amat tidak mungkin mengarang al-Qur’a>n.
Dalam kondisi demikian al-Qur’a>n menantang bangsa Arab untuk mendatangkan karya yang menyamainya. Ketika tantangan itu tidak dipenuhi, maka nyatalah tujuan dan peranan mukjizat al-Qur’a>n, yakni memperlihatkan kebenaran kerasulan Muhammad SAW dan kitab suci yang dibawanya. Selain itu, untuk memperlihatkan kekeliruan bangsa Arab yang menantangnya, karena tantangan-tantangan yang dilontarkan Allah SWT dalam al-Qur’a>n tidak dapat mereka layani.
Ada banyak tujuan dan peranan mu’jizat al-Qur’a>n, diantaranya:
1. Membuktikan bahwa Nabi Muhammad SAW yang membawa mu’jizat kitab al-Qur’a>n adalah benar-benar seorang Nabi/Rasul Allah.
2. Membuktikan bahwa kitab al-Qur’a>n adalah benar-benar wahyu Allah, bukan buatan malaikat Jibril atau tulisan Nabi Muhammad SAW.
3. Menunjukkan kelemahan mutu sastra dan balaghah bahasan manusia, karena terbukti pakar-pakar pujangga sastra dan seni bahasa Arab tidak ada yang mampu mendatangkan kitab tandingan yang sama seperti al-Qur’a>n sebagaimana yang ditantangkan kepada mereka dalam berbagai tingkat dan bagian al-Qur’a>n
4. Menunjukkan kelemahan daya upaya dan rekayasa umat manusia yang tidak sebanding dengan keangkuhan dan kesombongannya.

Berdasarkan pemaparan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan dan peranan mukjizat al-Qur’a>n adalah sebagai keabsahan kerasulan Nabi Muhammad SAW yang diterimanya melalui wahyu dari Allah SWT yang membuat ketidakberdayaan mutu sastra dan balaghah bahasa manusia khususnya bangsa Arab pada waktu itu, dan pembuktian betapa lemahnya kemampuan manusia di hadapan Allah SWT. Hal itu disampaikan Allah:

     •               
Artinya dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.




C. Tahapan-tahapan dan Kadar Mukjizat al-Qur’an
1. Tahapan-tahapan Mukjizat al-Qur’an
Masyarakat Arab adalah masyarakat yang menyukai karya-karya sastra atau syair berbahasa Arab. masyarakat Arab pada waktu itu, syair dan penyair mendapat tempat tersendiri dan mempunyai kedudukan tinggi dalam masyarakat. Gambaran begitu tingginya apresiasi sastra dalam masyarakat Arab, setiap tahun para penyair terkemuka memasang karya mereka di Ka’bah dan nantinya dipilih yang terbaik dari karya-karya tersebut.
Mereka adalah ahli bahasa, sastrawan yang mahir mengenai syair-syair, pidato, dan pintar melukiskan keindahan dengan gubahan kata mutiara. Bahasa al-Qur’a>n adalah bahasa mereka sehari-hari. Mereka mempuyai kemampuan melahirkan karya-karya sastra dan merasa unggul dalam bidang kefasihannya. Itulah bahasa mereka sejak lahir yaitu bahasa al-Qur’a>n.
Keadaan ini sangat mendukung bagi terpenuhinya tantangan al-Qur’a>n. Semua persyaratan relatif terpenuhi, terlebih kemampuan sastra Arab mereka sebagai orang Arab sangat terlatih dan teruji. Dalam keadaan inilah tantangan al-Qur’a>n diajukan secara bertahap dengan tahapan sebagai berikut :

a. Tantangan untuk menandingi al-Qur’a>n secara utuh, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’a>n Surah al-Thur: 33-34
              
Artinya: Ataukah mereka mengatakan: "Dia (Muhammad) membuat-buatnya". Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal al-Qur’a>n itu jika mereka orang-orang yang benar (QS. 52: 33-34) ..

Tantangan semakna terdapat dalam surah al-Isra>’: 88. sebagai berikut :
                  
Artinya: Katakanlah! "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’a>n ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, Sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain".(QS. 17: 88) .
b. Tantangan untuk Menandingi Sepuluh Surah al-Qur’a>n
Karena tidak seorangpun yang bisa melayani tantangan al-Qur’a>n yang pertama karena terlalu berat, maka bobot tantangan dikurangi. Sebelumnya mereka harus membuat kitab besar dan lengkap, membahas berbagai asfek alam nyata dan ghaib, masa lalu, kini dan mendatang, serta menyangkut dunia dengan segala isinya dan akhirat dengan seluruh prosesnya. Lalu diturunkan kadar tantangan hanya mendatangkan sepuluh surah saja. Disebutkan dalam Surah Hud: 13-14.
                                     
Artinya: 13. bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat al-Qur’a>n itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), Maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar".14. jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu Maka ketahuilah, Sesungguhnya al-Qur’a>n itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, Maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)? (QS. 11: 13-14) .

c. Tantangan untuk Menandingi Satu Surah al-Qur’a>n.
Manakala sepuluh surat tidak mampu dibuat oleh bangsa Arab, bobot tantangan kembali menurun. Kali ini mereka ditantang untuk mendatangkan satu surah saja yang dapat menyamai al-Qur’a>n
Tantangan ketiga ini termaktub dalam Surah al-Baqarah: 22-23 dan Surah Yunus 38, sebagai berikut :
              •                •               
Artinya: “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’a>n yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), maka buatlah satu surah (saja)yang semisal al-Qur’a>n itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya), maka peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir”.
                 
Artinya: “Atau (patutkah) mereka mengatakan: “Muhammad membuat-buatnya”. Katakanlah: “ (Kalau benar yang kamu katakana itu), maka datangkan sebuah surah seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”.

Dari beberapa ayat al-Qur’a>n tadi penulis menyimpulkan bahwa tantangan al-Qur’a>n tidak saja menantang orang Arab yang hidup di masa turunnya al-Qur’a>n dan Rasulullah masih hidup, tetapi berlaku sepanjang masa bagi orang yang meragukan bahkan menolak dan mengingkari al-Qur’a>n. Namun bagi orang-orang yang beriman, kegagalan penentang dan perlawanan al-Qur’a>n sebagai pengokoh iman bahwa al-Qur’a>n benar-benar kitab suci yang dijadikan pedoman yang tidak ada seorang pun bisa menandinginya baik dari segi susunan bahasa, maupun maknannya.
2. Kadar Mukjizat al-Qur’a>n
Al-Qur’a>n secara terus menerus menantang semua ahli kesusastraan Arab untuk mencoba menandinginya, tapi tak seorang pun yang mampu menjawab tantangan al-Qur’a>n. Mereka bahkan tak sanggup menirunya karena memang al-Qur’a>n berada di atas puncak yang tak mungkin diungguli karena bukan kalam manusia.
Mukjizat al-Qur’a>n menurut Mu’tazilah terdapat pada setiap surah secara utuh. Kelemahan bangsa Arab mendatangkan semisal al-Qur’a>n secara keseluruhan dari awal sampai akhir adalah bukti mukjizat al-Qur’a>n.
‘Ulama>’ lain mengemukakan tiga macam pendapat tentang kadar mukjizat al-Qur’a>n, yaitu :
1. Mu’tazilah berpendapat bahwa mu’jizat al-Qur’a>n terletak pada seluruh al-Qur’a>n secara utuh.
2. Ada yang berpendapat bahwa mu’jizat al-Qur’a>n sedikit atau banyak tanpa mengharuskan satu surah. Hal ini didasari oleh pemahaman mereka terhadap surah al-Thur 34:
      
34. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Quran itu jika mereka orang-orang yang benar.

3. Yang lain berpendapat bahwa mukjizat al-Qur’a>n minimal satu surah yang sempurna walaupun pendek, bisa juga satu ayat atau beberapa ayat yang jumlah hurufnya sama dengan satu surah.
Berdasarkan beberapa pendapat yang sudah disampaikan, dapat dianalisa bahwa, al-Qur’a>n secara utuh adalah mukjizat. Lemahnya setiap upaya yang menandinginya sudah terbukti sampai saat ini. Hanya saja untuk menentukan kadar minimal mukjizat al-Qur’a>n haruslah berhati-hati dan merujuk pada teks al-Qur’a>n.
Ada 3 tahapan orang kafir ingin menandingi al-Qur’a>n tapi mereka tidak mampu. Selain tiga tahapan tantangan itu, tidak ada lagi dalil yang bermakna tantangan dan tidak ditemukan tantangan yang kurang dari satu surah. Seandainya kadar mukjizat al-Qur’a>n ukuran satu kata umpamanya, dan tantangan itu terpenuhi, tentu bukan mukjizat lagi namanya. Dan bila hal ini terjadi, mukjizat al-Qur’a>n sebagi perangkat pendukung pembenaran kerasulan Muhammad SAW tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.


D. Aspek-Aspek Mukjizat al-Qur’a>n
Mukjizat al-Qur’a>n ditinjau dari berbagai aspek, antara lain sebagai berikut :
1. Aspek Kebahasaan
Para pakar bahasa mengatakan “sebaik-baik pembicaraan adalah yang singkat tetapi mencakup”. Maksudnya adalah Kalimat yang baik adalah yang tidak bertele-tele dan tidak pula singkat sehingga mengaburkan pesan, Selanjutnya kata yang dipilih tidak asing bagi pendengar, mudah diucapkan serta tidak “berat” terdengar ditelinga. Diantara mukjizat al-Qur’a>n dari segi kebahasaan sebagai berikut:

a. Susunan Kata dan Kalimat al-Qur’a>n
Sebelum seseorang terpesona dengan kemukjizatan al-Qur’a>n terlebih dahulu ia akan terpukau oleh beberapa hal yang berkaitan dengan susunan kata dan kalimatnya. Antara lain sebagai berikut:
1. Nada dan lagunya
2. Singkat dan padat
3. Memuaskan para pemikir dan orang kebanyakan
4. Memuaskan akal dan jiwa
5. Keindahan dan ketepatan maknanya


b. Keseimbangan kosa kata al-Qur’a>n
1. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya. Contohnya adalah kata al-hayy (hidup) dan al-mawt (mati) masing-masing sebanyak 145 kali; an-naf’ (manfaat dan al-madharah (mudharat) masing-masing sebanyak 50 kali; al-harr (panas) dan al-bard (dingin) masing-masing sebanyak 4 kali; ash-sha>lihat (kebajikan) dan as-sayyiat (keburukan) masing-masing sebanyak 167 kali; dan al-rabh (cemas atau takut) dan raghbah (harap atau dingin) masing-masing sebanyak 8 kali.
2. Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonim atau makna yang dikandungnya. Antara lain, kata al-harts dan az-zira’ah (membajak, bertani) masing-masing sebanyak 14 kali; al-‘ushb dan adh-dhurur (membanggakan diri, angkuh) masing-masing sebanyak 27 kali; adh-dhallun dan mawta (orang sesat, mati jiwanya) masing-masing sebanyak 17 kali; al-qura>n, al-wahy, dan al-Isla>m (Alquran, wahyu dan Islam) masing-masing sebanyak 70 kali; al-‘aql dan an-nu>r (akal dan cahaya) masing-masing sebanyak 49 kali; dan aj-jahr dan al-’alaniyah (nyata) masing-masing sebanyak 16 kali.
3. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjuk kepada akibatnya. Diantaranya, kata al-infa>q (infak) dan ar-ridha> (kerelaan) masing-masing sebanyak 73 kali; al-bukhl (kekikiran) dan al-khasarah (penyesalan) masing-masing sebanyak 12 kali; dan an-na>r, al-ah}raq (neraka, pembakaran) masing-masing sebanyak 154 kali; az-zaka>h (zakat, penyucian) dengan ba>rakah (kebajikan) masing-masing sebanyak 32 kali; dan al-fah}syah (kekejian) dengan al-ghadhab (murka) masing-masing sebanyak 26 kali.
4. Keseimbangan antara jumlah kata dengan kata penyebabnya. Antara lain ada pada kata al-isyra>f (pemborosan) dengan as-sur’ah (ketergesa-gesaan) masing-masing sebanyak 23 kali; al-maw’izhah (nasihat, petuah) dengan al-lisa>n (lidah) masing-masing sebanyak 25 kali; al-asra> (tawanan) dan al-h{arb (perang) masing-masing sebanyak 6 kali; as-sala>m (kedamaian) dan ath-thayyibah (kebajikan) masing-masing sebanyak 60 kali
5. Keseimbangan khusus. Misalnya, kata yawm (hari) dalam bentuk tunggal ada sebanyak 365 yangs esuai dengan jumlah hari dalam setahun. Sedangkan kata ayya>m (hari dalam bentuk jamak) atau yawmaini (bentyk mutsanna) jumlah pemakaiannya hanya 30 atau sama dengan jumlah hari dalam sebulan. Di sisi lain, kata yang berarti “bulan” (syahr) hanya terdapat sebanyak 12 kali, atau sama dengan jumlah bulan dalam setahun. Demikian juga kata-kata yang menunjuk pada utusan Tuhan, yakni rasu>l, nabiy, basyi>r dan nadzi>r secara keseluruhan berjumlah 518 yang seimbang dengan jumlah penyebutan nama-nama nabi-rasul-pembawa berita ajaran keagamaan, yakni sebanyak 518.
2. Aspek Ilmiah
Di antara segi kemukjizatan al-Qur’a>n adalah adanya beberapa petunjuk yang detail mengenai sebagian ilmu pengetahuan umum yang telah ditemukan terlebih dahulu dalam al-Qur’a>n sebelum ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern. Teori al-Qur’a>n sama sekali tidak bertentangan dengan teori-teori ilmu pengetahuan modern.
Secara Ilmiah redaksi al-Qur’a>n sangat singkat dan sarat makna, sekaligus tidak terlepas dari ciri umum redaksinya yakni memuaskan orang awam dan para pemikir. Orang awam memahami redaksi tersebut ala kadarnya sedangkan para pemikir melalui renungan dan analisis mendapatkan makna-makna yang tidak terjangkau oleh orang awam. Seperti masalah Reproduksi Manusia, Kejadian Alam Semesta, awan, gunung, Pohon Hijau, Kalender Syamsiah dan Qamariah. Dll.
3. Aspek Pemberitaan Alam Gaib
al-Qur’a>n mengungkapkan sekian banyak hal gaib. al-Qur’a>n mengungkap kejadian masa lampau yang tidak diketahui lagi oleh manusia, karena masanya telah demikian lama, dan mengungkap juga peristiwa masa datang atau masa kini yang belum diketahui manusia. contohnya antara lain:
a. Berita gaib tentang masa lampau
1. Kaum ‘Ad serta kehancuran kota Ira>n
2. Berita tentang tenggelamnya dan selamatnya badan Fir’aun
3. Ashha>b Al-Kahfi
b. Prediksi berita gaib pada masa yang akan datang terbukti
1. Kemenangan Romawi setelah kekalahannya
2. Kasus al-Wali>d ibn Mughirah
3. Kasus Abu> Jahl
4. Aspek Akidah dan Shari’ah
Kemukjizatan dalam bidang Akidah merupakan tujuan utama dari semua segi mukjizat al-Qur’a>n. Kemukjizatan dalam asfek ini karena al-Qur’an telah membawa satu bentuk akidah yang belum pernah dikenal sebelumnya, baik dalam lingkungannya maupun oleh penganut-penganut agama-agama samawi sebelumnya. Ketuhanan yang diajarkannya jelas berbeda dengan konsep ketuhanan Yahudi, Nasrani, Persia dan lain-lain. Al-Qur’an datang dengan membawa akidah yang penuh toleran, murni, suci dan bersih tentang Zat Allah SWT. dan hak-hak Rasul-Nya yang mulia.
Dalam bidang shari’ah, al-Qur’a>n menetapkan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan sesama, antara sesama Muslim atau non muslim, baik dirumah, di dalam masyarakat, bangsa, maupun dalam masyarakat internasional. Kemukjizatan asfek syariah al-Qur’a>n terletak pada kemampuannya menciptakan keadilan antarsesama manusia tanpa mempertimbangkan jenis, warna kulit, bahkan agama.

5. Aspek Lain Sesuai Perkembangan Zaman
Al-Qur’a>n dengan seluruh aspek kemukjizatannya adalah abadi, tidak akan hilang dengan berlalunya masa, tidak akan terhenti dengan wafatnya Rasulullah SAW. al-Qur’a>n datang setelah kemampuan manusia itu lengkap, dan pola pemikirannya pun meningkat, karena risalah Nabi Muhammad SAW adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia setelah mencapai tahap kepintarannya sempurna. Ia berupa ide-ide abadi yang bias ditangkap kearifannya oleh setiap manusia dalam setiap generasi. Ia juga merupakan mukjizat untuk membimbing dan meluruskan jalan hidup semua manusia.


E. Karakteristik Mukjizat al-Qur’a>n
Terdapat 3 Karakteristik Mukjizat al-Qur’a>n
1. Ilmiah
Bila mukjizat-mukjizat Nabi dan Rasul terdahulu berupa mukjizat meteri yang bersifat indrawi maka mukjizat Nabi Muhammad SAW adalah berupa mukjiza ruhiyah yang bersifat rasional. Allah memberi keistimewaan kepadanya berupa al-Qur’a>n sebagai mukjizat rasional yang kekal sepanjang masa agar diperhatiakan oleh orang yang mempunyai hati dan pemikiran. Sehingga mereka bisa terkena pantulan sinarnya dan mempergunakan petunjuknya, di saat kini dan nanti. Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda yang artinya: “Tiada seorang Nabi pun dari Nabi-Nabi yang terdahulu, kecuali mereka diberi mukjizat yang sesuai, agar manusia mempercayainya, tetapi mukjizat yang diberikan kepadaku adalah berupa wahyu (pengetahuan) yang disampaikan Allah kepadaku. Aku mengharapkan agar aku menjadi Nabi yang paling banyak pengikutnya”.
2. Abadi
Al-Qur’an mengajak (mengantarkan) seluruh manusia untuk mengikuti petunjuk keselamatan dan kebaagiaan umat manusia, karena itu jelaslah perbedaan antara mukjizat Nabi Muhammad SAW dengan Nabi-Nabi yang lain. Mukjizat Nabi Muhammad SAW berlaku sepanjang masa sedangkan mukjizat Nabi-Nabi sebelumnya terbatas dan pendek masanya. Ia akan lenyap dengan tenggelamnya masa dan akan hilang dengan wafatnya mereka.
3. Selaras Dengan Perkembangan Zaman
Misi Rasulullah SAW penyempurna dan penutup risalah kenabian, yang bentuk risalahnya selalu selaras dengan perkembangan zaman. al-Qur’a>n hadir ditengah-tengah masyarakat dalam kondisi apapun selalu menawarkan petunjuk keselamatan dunia dan akhirat.

P E N U T U P
1. Mukjizat al-Qur’a>n adalah kemampuan internal al-Qur’a>n yang luar biasa dalam membuktikan kebenaran al-Qur’a>n sehingga mampu membungkam lawan-lawannya.
2. Tujuan dan Peranannya adalah :
a. Membenarkan kerasulan Muhammad SAW
b. Membuktikan bahwa al-Qur’a>n itu benar-benar wahyu Allah SWT.
c. Menunjukkan rendahnya mutu sastra makhluk dan tingginya (nilai) sastra Khalik.
d. Menunjukkan lemahnya kemampuan orang-orang sombong yang mengingkari kebenaran al-Qur’a>n.
3. Tahapan-tahapannya ialah :
a. Menantang menandingi al-Qur’a>n secara utuh.
b. Menantang mendatangkan sepuluh surah seperti surah al-Qur’a>n.
c. Menantang membuat satu surah yang menyerupai surah al-Qur’a>n.
4. Kadar mukjizat al-Qur’a>n dapat dibuktikan dengan satu huruf saja.
5. Berbagai kemukjizatan al-Qur’a>n, seperti :
a. Asfek Kebahasaan
b. Asfek Ilmiah
c. Aspek Pemberitaan Alam Gaib
d. Asfek Akidah dan Shari’ah





DAFTAR PUSTAKA

Djalal, Abdul. Ulu>mul Qur’a>n, Surabaya: Dunia Ilmu, 1998.
Izzan, Ahmad. Ullumul Quran, Bandung: Tafakur, 2009.
Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, Semarang: CV. Asy Syifa’, 2004.
Khalil, Munawar. Al-Qur’an dari Masa ke Masa, Semarang: CV. Ramadhani, tt.
Ash-Shaabuuniy, Muhammad Ali. Studi Ilmu Al-Qur’an: Terjemahan al-Tibyan fi Ulu>m al-Qur’a>n, Bandung: Pustaka Setia, 1998.
Qaththan (al), Manna’. Studi Ilmu-ilmu Qur’an, Bogor: Litera Antarnusa, 2011.
Abdullah, Mawardi. Ullumul Quran, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011.
Nasir, Ridlwan, H.M. Memahami Al-Qur’an; Perspektif Baru Metodologi Tafsir Muqarin, Surabaya: Indra Media, 2003.
Ritonga, A.Rahman. et.al., Ensiklopedi Hukum Islam, Vol. 4, ed. Abdul Aziz Dahlan et.al, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996.
Shihab, M. Quraish. Membumikan al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1998.
. Mukjizat al-Qur’an, Bandung: Mizan, 2001.
. Sejarah dan Ulumul Qur’an, ed. Azzumardi Azra, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001.
Syafruddin, Didin. Ilmu al-Qur’an sebagai Sumber Pemikiran, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam; Pemikiran dan Peradaban, ed. Taufiq Abdullah, et. Al., Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2001.

Tidak ada komentar: