Selasa, 10 Januari 2012

Ittihad dengan Tuhan

Berbicara tentang tasawuf tidak terlepas dari pembahasan tentang para sufi. Tujuan kaum sufi adalah mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Tuhan, sehingga mereka dapat melihat Tuhan (ma’rifat), bahkan lebih dekat dari itu, bisa mengalami persatuan (ittihad) dengan Tuhan.

Landasan filsafat tasawuf adalah Tuhan bersifat immateri dan Mahasuci. Maka unsur dari manusia yang dapat bertemu dengan Tuhan adalah unsur immateri manusia, yaitu ruh, dan ruh ini harus suci. Karena yang dapat mendekati Yang Mahasuci adalah yang suci. Ruh manusia, yang masuk ke tubuh manusia yang bernafsu, bisa dibuat kotor oleh hawa nafsu. Oleh karena itu, ruh harus disucikan dahulu dari kotoran-kotoran yang melekat pada dirinya.[1]

Pembersihan itu dilakukan dengan melaksanakan ibadah shalat, puasa dan haji, membaca al Qur’a>n dan banyak mengingat Tuhan dengan berdzikir. Maka dari itu, seorang sufi banyak melakukan shalat, puasa dan haji. Shalatnya tidak cukup hanya shalat lima waktu, tetapi dilengkapi dengan shalat sunnah dan lain-lain. Mereka banyak membaca al Qur’a>n, bahkan ada yang mengkhatamkannya dalam waktu sehari. Lidah mereka senantiasa berdzikir mengingat Tuhan. Kaum sufi juga banyak melakukan puasa. Dalam istilah sufi, puasa dapat mematikan nafsu. Kalau nafsu mati, sufi pun bebas dari godaan materi, dan ia pun menjadi suci. Pada saat itu, ia sudah mulai dekat dengan Tuhan.

Untuk mencapai kedekatan dengan Tuhan, seorang sufi harus menempuh jalan (thari}qah) yang tidak mudah, dan berisi stasiun-stasiun (maqa>mat)[2]. Stasiun pertama adalah tobat. Baik tobat dari dosa besar maupun dosa kecil. Kemudian tobat lagi dari hal-hal yang makruh dan syubhat.

Stasiun selanjutnya adalah zuhd atau mengasingkan diri dari dunia ramai. Maqam selanjutnya adalah wara’. Setelah wara’, para sufi pindah ke stasiun faqr. Mereka hidup sebagai orang fakir. Bagi mereka cukup satu helai pakaian. Jika ada makanan akan dimakan. Namun apabila tidak maka mereka akan puasa. Mereka tidak meminta, namun juga tidak menolak pemberian.

Ketika faqr sudah dilalui maka mereka harus memasuki shabr atau sabar. Mereka harus bersabar atas apa yang mereka alami. Kemudian mereka harus tawakkal, menyerah sebulat-bulatnya kepada keputusan Tuhan. Mereka lalu mengalami ridha>, yaitu dekat dengan Tuhan. Rasa cinta yang bergelora dalam hatinya membuatnya sampai ke stasiun mahabbah, cinta Ilahiah. Di hatinya tidak ada lagi rasa benci terhadap apa dan siapapun. Kemudian Tuhan membalas rasa cinta sehingga para sufi mampu melihat Tuhan dengan mata hatinya. Tidak ada tabir lagi. Mereka telah sampai ke stasiun ma’rifah.

Namun para sufi masih juga belum puas. Mereka ingin lebih dekat lagi, ingin bersatu dengan Tuhan. Mereka berusaha melupakan diri dan memusatkan kesadaran pada diri Tuhan. Mereka pun sampai ke tingkat fana’, hancur kesadaran tentang dirinya dan tinggal kesadarannya tentang diri Tuhan. Yang terakhir ini disebut baqa’.[3] Dengan hancurnya kesadaran para sufi tentang dirinya dan tinggal kesadaran mereka tentang diri Tuhan, mereka akhirnya sampai pada tingkat ittihad, bersatu dengan Tuham. Di sini pada sufi sampai pada tujuan akhirnya. Mereka telah sampai ke Tuhan, bahkan bersatu dengan Tuhan, dasar dari segala dasar.

Rosihon Anwar membagi tasawuf menjadi dua. Pertama adalah tasawuf akhlaki, yang berarti membersihkan tingkah laku manusia. Di dalamnya membahas moralitas yang terukur, seperti kejujuran, keikhlasan dan berkata benar. Kedua, tasawuf irfani yang tidak hanya membahas tentang keikhlasan dalam hubungan antarmanusia, namun lebih jauh menetapkan bahwa apa yang kita lakukan sesungguhnya tidak pernah kita lakukan. ini adalah tingkatan ikhlas paling tinggi. Karena tidak ingin dipuji, atau jika dipuji tidak berubah dan apabila dicaci maki juga tidak akan berubah. Ittihad termasuk dalam kategori yang kedua. Ulama sufi yang memperkenalkan konsep-konsep ittihad dan yang menyertainya adalah Abu Yazid al Bustami.[4]

Dalam makalah ini akan dipaparkan tentang sejarah Abu Yazid al Bustami dan konsep-konsepnya tentang ittihad dengan Tuhan.


ABU YAZID AL BUSTAMI DAN KONSEP ITTIHAD

  1. Riwatyat Singkat Abu Yazid Al Bustami

Abu Yazid al Bustami lahir di Bustam, bagian Timur Laut Persia pada sekitar tahun 200H (813 M) dengan nama kecil Taifur. Sedangkan nama lengkapnya adalah Abu Yazid Taifur bin Isa bin Syurusan al-Bustami.[5] Kakeknya bernama Surusyan, seorang penganut agama Zoroaster, kemudian masuk dan memeluk agama Islam di Bustam. Keluarga Abu Yazid termasuk golongan menengah, namun mereka memilih untuk hidup sederhana.[6]

Sejak dalam kandungan ibunya, Abu Yazid sudah memiliki kelebihan. Menurut ibunya, apabila ia memakan makanan yang diragukan kehalalannya maka jabang bayinya akan memberontak dan ibunya akan memuntahkan makanan tersebut.[7]

Saat menginjak remaja, Abu Yazid terkenal sebagai murid yang pandai dan selalu taat pada perintah agama dan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Perlu berpuluh-puluh tahun bagi Abu Yazid untuk menjadi seorang sufi. Sebelum menjadi sufi, ia terlebih dulu menjadi seorang faqih dari madzhab Hanafi. Gurunya yang terkenal adalah Abu Ali al-Sindi dari India. Abu Yazid mendapatkan ilmu tauhid, ilmu hakikat dan ilmu lainnya dari dia. Setelah menjadi seorang faqih, Abu Yazid kemudian menjadi seorang zahid selama 13 tahun. Ia mengembara di gurun-gurun pasir di Syam, dengan sedikit makan, minum dan tidur. Baginya, zahid itu adalah seoarang yang telah menyediakan dirinya untuk hidup berdekatan dengan Allah. Hal ini berjalan melalui tiga fase, yaitu zuhud terhadap dunia, zuhud terhadap akhirat dan zuhud terhadap selain Allah. Dalam fase terakhir ini ia berada dalam kondisi mental yang menjadikan dirinya tidak mengingat apa-apa lagi selain Allah.[8]

Karena ajaran yang adibawa berbeda dengan ajaran-ajaran tasawuf sebelumnya, ia banyak ditentang oleh ulama Fiqh dan Kalam sehingga menyebabkan ia keluar masuk penjara. Meski demikian, ia memperoleh banyak pengikut yang percaya kepada ajaran yang dibawanya. Pengikut-pengikutnya menamakannya Taifur. Kata yang diucapkannya seringkali mempunyai arti yang begitu mendalam, sehingga jika ditangkap secara lahir akan membawa kepada syirik, karena mempersekutukan antara Tuhan dengan manusia.[9]

Abu Yazid meninggal dunia pada tahun 261 H (875 M) di Bustam. Makamnya masih ada hingga saat ini. Makamnya yang terletak di tengah kota menarik banyak pengunjung dari berbagai tempat. Pada tahun 1313 M, didirikan di atasnya sebuah kubah yang indah oleh seorang Sultan Mongol, Muhammad Khudabanda atas nasehat gurunya Syekh Syafruddin, salah seoarang keturunan dari Bustam.[10]

  1. Ajaran Tasawuf Abu Yazid al-Bustami

Aboebakar Atheh menandai ajaran sufi pada abad yang ke-III, orang membicarakan latihan rohani, yang dapat membawa manusia kepada Tuhannya. Jika pada akhir abad ke-II ajaran sufi merupakan kezuhudan (asceticisme), dalam abad ke-III ini orang sudah meningkat kepada ittihad dengan Tuhan (mistikisme). Orang sudah ramai membicarakan tentang lenyap tentang kecintaan, fana fil mahbub, bersatu dengan kecintaan, ittihād fil mahbub, bertemu dengan Tuhan, liqa’; dan menjadi satu dengan Dia. ‘ainul jama’ sebagai yang diucapkan oleh Abu Yazid Bustami.[11]

Sebelum seorang sufi memasuki tahap persatuan dengan Tuhan (al-ittihād), ia harus terlebih dahulu dapat menghancurkan dirinya melalui fana’. Penghancuran diri (fana’) dalam khazanah sufi senantiasa diiringi dengan baqa’. Fana’ dan baqa’ inilah yang diajarkan Abu Yazid.

  1. Fana’

Dari segi bahasa, fana’ berasal dari kata faniya yang berarti musnah atau lenyap. [12] Namun dalam dunia tasawuf, istilah fana’ adakalanya diartikan sebagai keadaan moral yang luhur. Dalam istilah tasawuf, fana’ berarti penghancuran diri yaitu al-fana’‘an al-nafs. Yang dimaksud dengan al-fana’ ‘an al-nafs ialah hancurnya perasaan atau kesadaran seseorang terhadap wujud tubuh kasarnya dan alam sekitarnya.

Salah satau ayat yang seringkali digunakan oleh ahli tasawuf terkait dengan fana’ adalah Surat Yusuf ayat 31:

"Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian Dia berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka". Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: "Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah Malaikat yang mulia."[13]

Wanita-wanita bangsawan Mesir ketika melihat ketampanan Yusuf As. saat melintas di depan mereka, mereka terkejut, malu, segan, kagum, dan amat tertarik, sehingga tidak terasa pisau yang dipegangnya memotong tangan mereka sendiri. Mereka adalah selemah-lemahnya manusia.

Ini merupakan gambaran makhluk yang lupa terhadap keberadaan dirinya ketika bertemu dengan makhluk yang lain. Maka, bagaimana jika seseorangtersingkap dari tabir yangmenutupi Tuhannya? Jika makhluk saja lupa akan keberadaan dirinya sendiri saat berjumpa dengan sesama makhluk, maka apakah tidak akan lebih menakjubkan jika yang ditemuinya adalah Sang Khalik?[14]

Harun Nasution menjelaskan tahapan-tahapan dalam sufi yang menuju ke-fana’-an:

الموافقات فى بقى المخالفات عن فنى من -

المحمودة بالاوصاف بقى المذمومة الأوصاف عن فنى من -

الحق بأوصاف بقى أوصافه عن فنى من -

- Jika seseorang dapat menghilangkan maksiatnya, yang akan tinggal ialah taqwanya.

- Siapa yang menghancurkan sifat-sifat (akhlak) yang buruk, tinggal baginya sifat-sifat yang baik.

- Siapa yang menghilangkan sifat-sifatnya, tinggal baginya sifat-sifat Tuhan.[15]

Menurut Abu Bakar Al-Kalabadzi sebagaimana dikutip Rosihon,

“hilangnya semua keinginan hawa nafsu seseorang, tidak ada pamrih dari segala perbuatan manusia, sehingga ia kehilangan segala perasaannya dan dapat membedakan sesuatu secara sadar, dan ia telah menghilangkansemua kepentingan ketika berbuat sesuatu.”[16]

Asmaran mengutip Nicholson menjelaskan, istilah fana’ memiliki beberapa tingkatan, aspek dan makna. Semuanya dapat diringkaskan sebagai berikut :

a. Transformasi moral dari jiwa yang dicapai melalaui pengendalian nafsu dan keinginan.

b. Abstraksi mental dan berlakunya pikiran dari seluruh objek persepsi, pemikiran, tindakan dan perasaan; dan dengan mana kemudian memusatkan fikiran tentang Tuhan. Yang dimaksud dengan memikirkan Tuhan adalah memikirkan dan merenunggi sifat-sifat-Nya.

c. Berhentinya pemikiran yang dilandasi kesadaran. Tingkat fana yang tertinggi akan tercapai apabila kesadaran tentanag fana itu sendiri juga hilang. Inilah yang oleh para sufi dikenal “kefanaan dari fana” atau lenyapnya kesadaran tentang tiada (fana’ al-fana’)

Sedangkan Harun Nasution menyebutkan:

الجنون فقلت ...... فعشت به جننى ثم فمتّ بى جننى -

بقاء بك الجنون و فناء بى

“ Ia membuat aku gila pada diriku sehingga aku mati; kemudian Ia membuat aku gila pada-Nya, dan akupun hidup, ………..aku berkata : Gila pada diriku adalah kehancuran dan gila pada-Mu adalah kelanjutan hidup.[17]

Jadi kalau seoarang sufi telah mencapai al-fana’ ‘an al-nafs, yaitu kalau wujud jasmaniah tidak ada lagi yaitu kalau wujud jasmaninya tidak ada lagi (dalam arti tidak disadarinya lagi) maka yang akan tinggal ialah wujud rohaninya dan ketika itu dapatlah ia bersatu dengan Tuhan. Dan kelihatannya persatuan denngan Tuhan ini terjadi langsung setelah tercapainya al-fana’ ‘an al-nafs.

Selanjutnya, tahap terakhir dari fana’ adalah lenyapnya diri secara penuh, yang merupakan bentuk permulaan dari baqa’, yang artinya berkesinambungan di dalam Tuhan.

Dengan demikian jelaslah bahwa dalam faham fana materi manusianya tetap ada dan sama sekali tidak hilang atau hancur, yang hilang hanya kesadaran akan dirinya sebagai manusia. Ia tidak merasakan lagi akan eksistensi jasad kasarnya.

Ketika sedang dalam kondisi fana’, maka tidak ada lagi keinginan selain keinginan kepada Allah SWT. Seperti yang diungkapkan Abu Yazid:

“Setelah aku menyaksikan kesucian hatiku yang terdalam, maka aku mendengar puas dari-Nya. Maka diriku dicap dengan keridhaan-Nya. Mintalah kepada-Ku semua yang kau inginkan, kata-Nya. ’Engkaulah yang aku inginkan,’ jawabku, ‘Karena Engkau lebih utama daripada anugerah, lebih besar daripada kemurahan, dan melalui Engkau aku mendapat kepuasan dalam diri-Mu’..... “ [18]

Kemudian Abu Yazid bermimpi menatap Tuhan. Ia bertanya, “Bagaimana caranya agar aku sampai kepada-Mu?” Tuhan menjawab, “ Tinggalkan diri (nafsu)mu dan kemarilah”

Abu Yazid pernah melontarkan kata fana’ dalam salah satu ucapannya: “Aku tahu pada Tuhan melalui diriku hingga aku fana’, kemudian aku tahu pada-Nya melalui diri-Nya, maka aku pun hidup.”

  1. Baqa’

Berasal dari kata baqiya. Artinya tetap atau kekal.[19] Dalam istilah tasawuf, baqa’ berarti mendirikan sifat-sifat terpuji kepada Allah SWT. Baqa’ tidak bisa dipisahkan dari fana’. Jika seorang sufi menjalani fana’, ketika itu pula ia menjalani baqa’. Dalam menerangkan baqa’, al Qusyairi menyatakan:

“Barangsiapa meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tercela, ia sedang fana’ dari syahwatnya. Tatkala fana’ dari syahwatnya, ia baqa’ dalam niat dan keikhlasan ibadah;... Barangsiapa yang hatinya zuhud dari keduniaan, ia sedang fana’ dari keinginannya, berarti pula sedang baqa’ dalam ketulusan inabahnya....”[20]

  1. Ittihad

Secara etimologi, ittihad berarti persatuan. Dalam kamus sufisme berarti persatuan antara manusia dengan Tuhan. Ittihad adalah tahapan selanjutnya yang dialami para sufi setelah melakukan fana’ dan baqa’. Dalam tahapan ittihad, seorang sufi bersatu dengan Tuhan. Antara yang mencintai dan yang dicintai menyatu. Baik secara substansi maupun perbuatannya. Dengan mengutip A.R. Baidlawi, Harun Nasution memaparkan, dalam ittihad yang dilihat hanya satu wujud, meskpiun ada dua wujud yang berpisah satu dengan yang lain. Karena yang didilihat dan dirasakan hanya satu wujud, maka dalam ittihad bisa terjadi pertukaran antara yang mencintai dan yang dicintai, atau dengan kata lain antara sufi dengan Tuhan. Dalam ittihad, identitas telah hilang, identitas telah menjadi satu. Karena fana’-nya, sufi yang bersangkutan tidak mempunyai kesadaran lagi dan berbicara dengan nama Tuhan.[21]

Faham ittihād ini dalam istilah Abu Yazid disebut tajrîd fana’ fî al-tauhîd, yaitu perpaduan dengan Tuhan tanpa diantarai sesuatu apapun. Ungkapan Abu Yazid tentang peristiwa mi’rajnya berikut ini akan memperjelas pengertian ini. Dia mengatakan :

خلقى ان: يزيد ابا يا لى قال و يديه بين فأقامنى مرة الله رفعنى

ارفعنى و انانيتك والبسنى بوحدانيتك زينى فقلت يروك ان يحبون

ذاك أنت فتكون رأيناك قالوا خلقك رانى اذا حتى أحدبتك الى

هناك أنا أكون ولا

Pada suatu ketika aku dinaikkan ke hadirat Tuhan dan Ia berkata : Abu Yazid makhluk-Ku ingin melihat engkau, Aku Menjawab : Kekasih-Ku, aku tidak ingin melihat mereka. Tetapi jika itulah kehendak-Mu, maka aku tidak berdaya untuk menentang kehendak-Mu. Hiasilah aku dengan keesaan-Mu, sehingga jika makhluk-Mu melihat daku, mereka akan berkata : Telah kami lihat Engkau. Tetapi yang merasa lihat akan aku tidak ada di sana.[22]

Rangkaian ungkapan Abu Yazid ini merupakan ilustrasi proses terjadinya ittihād. Dalam bagian awal ungkapan itu melukiskan alam ma’rifah dan selanjutnya memasuki alam fana’ ‘an nafs sehingga ia berada sangat dekat dengan Tuhan dan akhirnya terjadi perpaduan. Situasi ittihād ini lebih jelas lagi dalam ungkapannya :

و أنت فأنا: فقلت غيرك خلقى كلهم إﻧﻬم يزيد ابا يا: قال

أنت أنا و أنا أنت

Tuhan berkata : semua mereka kecuali engkau adalah makhluk-Ku. Ataupun berkata: Aku adalah Engkau, Engkau adalah aku dan aku adalah Engkau [23]

Selanjutnya Abu Yazid berkata :

فاعبدنى أنا إلا اله لا الله أنا إنى

Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku.[24]

Secara lahiriyah, ungkapan-ungkapan Abu Yazid di atas itu seakan-akan ia mengaku dirinya Tuhan. Akan tetapi bukan demikian maksudnya. Di sini Abu Yazid mengucapkan kata “Aku” bukan sebagai gambaran dari diri Abu Yazid sendiri, tetapi sebagai gambaran Tuhan, karena Abu Yazid telah bersatu dengan diri Tuhan. Dengan kata lain Abu Yazid dalam ittihād berbicara dengan nama Tuhan. Atau lebih tepat lagi Tuhan “berbicara” melalui lidah Abu Yazid. Dalam hal ini Abu Yazid menjelaskan :

فنيت فقد أنا أما بنسانى يتكلم الذى هو لأنه

Sebenarnya Dia berbicara melalui lidahku sedang aku sendiri dalam keadaan fana. [25]

Oleh karena itu sebenarnya Abu Yazid tidak mengaku dirinya sebagai Tuhan. Kata-kata serupa di atas bukan diucapkan oleh Abu Yazid sebagai kata-katanya sendiri, tetapi kata-kata itu diucapkan dalam keadaan ittihād. Hamka menyebutnya sebagai kata-kata Syathahat, artinya kata-kata yang penuh khayal, yang tidak dapat dipegangi dan dikenakan hukum. Karena orang yang sedang berkata pada saat itu sedang mabuk (bukan mabuk karena alkohol). Mabuk oleh fana’-nya, oleh tiada sadar akan diri lagi. Sebab tenggelam dalam lautan tafakkur. Abu Yazid jugalah yang menciptakan suatu istilah dalam tasawuf yang bernama “As-sakar”, yang berarti mabuk. Dan “Al-‘Isyq”, artinya rindu-dendam.[26]

  1. Pro-Kontra Ittihad

Semenjak masanya Abu Yazid pendapat sufi condong kepada kepada konsepsi “kesatuan wujud”. Faham ini muncul sebagai konsepsi lanjut dari pendapat sufi bahwa dunia fenomena ini hanyalah bayangan dari “realita” yang sesungguhnya, yaitu Tuhan. Satu-satunya wujud yang hakiki hanyalah wujud Tuhan, sesuatu yang menjadi dasar bagi adanya segala sesuatu yang ada. Dunia hanyalah bayangan dan khayal, wujudnya tergantung pada wujud Tuhan. Atas dasar pemikiran tentang Tuhan yang demikian itu, mereka berpendapat, bahwa alam ini termasuk manusia merupakan refleksi dari hakikat Ilahi. Dalam diri manusia terdapat unsur ketuhanan karena ia merupakan pancaran Nur Ilahi, seperti pancaran cahaya matahari. Oleh karena itu, jiwa manusia selalu bergerak berusaha untuk bersatu kembali dengan sumber asalnya.

Menurut Abu Yazid, manusia yang pada hakikatnya seesensi dengan Tuhan dapat bersatu dengan Tuhan dapat bersatu dengan-Nya apabila ia mampu melebur eksistensi keberadaannya sebagai suatu pribadi sehingga ia tidak menyadari pribadinya, fana’ ‘an al-nafs.[27] Dengan istilah lain, barang siapa yang mampu menghapuskan kesadaran pribadinya dan mampu membebaskan diri dari alam sekelilingnya, ia akan memperoleh jalan kembali kepada sumber asalnya. Ia akan menyatu padu dengan yang Tunggal, yang dilihat dan dirasakannya hanya satu. Keadaan seperti inilah yang disebut ittihād..

Meski demikian, kontroversi sekitar faham fana’, baqa’ dan ittihād dalam tasawuf terus berkembang hingga sekarang. Ibrahim Madkur seperti yang disebutkan Asmaran melihat bahwa faham ittihād adalah sesuatu yang paling rumit dalam tasawuf Islam, sehingga para pengamat tasawuf dalam menilainya bisa dibagi menjadi dua kelompok: ada yang menerimanya, tetapi juga ada yang menolaknya.[28]

Madkur mengatakan bahwa faham ittihād sebenarnya tidak bersumber dari Islam. Al-Qur’an dengan ungkapan yang tegas, secara mutlak, tidak memberi tempat pada adanya faham ittihād. Namun para pendukungnya tidak kehilangan akal untuk melandasinya dengan ayat al-Qur’an dan hadith Nabi.[29]

Hal senada juga diungkapkan Aboebakar Atjeh. Tidak ada sesuatu petunjuk pun dalam Qur’an yang dengan tegas-tegas menerangkan ada ittihād itu. [30]Ada beberapa ayat Qur’an yang menerangkan keadaan akrabnya Tuhan dengan hamba-Nya, seperti ayat :

ôs)s9ur $uZø)n=yz z`»|¡SM}$# ÞOn=÷ètRur $tB â¨Èqóuqè? ¾ÏmÎ/ ¼çmÝ¡øÿtR ( ß`øtwUur Ü>tø%r& Ïmøs9Î) ô`ÏB È@ö7ym σÍuqø9$# ÇÊÏÈ

16. dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (QS. 50:16)[31]

Selanjutnya Aboebakar Atjeh menyebutkan satu hadith yang berbunyi: ”Mutaqqarribun itu tidaklah dapat mendekati Aku dengan hanya menunaikan segala ibadah yang perlu, yang sudah diwajibkan kepadanya, tetapi seorang hamba-Ku yang senantiasa mengerjakan segala ibadat-ibadat sunnat, dapatlah mendekati Daku, sehinga ia mencintai Daku dan Aku mencintai dia, maka pendengaran-Ku menjadi pendengarannya dan penglihatan-Ku menjadi matanya untuk melihatnya.[32]

Asmaran lebih jauh berpendapat bahwa faham fana’ dalam tasawuf Islam ini berasal dari ajaran Buddhaisme tentang faham nirwana, karena faham nirwana dalam ajaran Buddhaisme ini hampir serupa dengan faham fana’ dalam tasawuf. Untuk mencapai nirwana orang harus meninggalkan dunia dan memasuki hidup kontemplasi.

Ajaran-ajaran non Islam seperti ajaran Buddhaisme ini, masuk ke dalam ajaran Islam seperti dalam tasawuf, adalah akibat logis dari perluasan daerah kekuasaan Islam, pertemuan berbagai suku bangsa, kebudayaan, agama dan kepercayaan di dalam satu wadah pergaulan pemerintahan Islam pasti akan saling mempengaruhi antara yang satu dengan lainnya.

Di sisi lain, Asmaran juga menyebutkan pendapat orientalis AR Nicholson yang mengatakan bahwa konsepsi sufi tentang kefanaan diri adalah dapat dipastikan berasal dari India. Penganjurannya seorang ahli mistik Persi, Bayazid dari Bistam mungkin telah menerima dari gurunya, Abu Ali dari Sind (India).

Tambahan lagi bahwa dalam sejarah, selama ribuan tahun sebelum kemenangan umat Islam Buddhisme pernah memiliki akar yang kuat di kawasan timur Persia dan Bactria, sehingga oleh karenanya hampir dapat dipastikan adanya pengaruh terhadap perkembangan ajaran tasawuf di daerah tersebut.[33]

Keterangan-keterangan yang ada belum memberikan kepastian, karena analisis yang diberikan hanya berupa pemikiran-pemikiran. Terlepas dari maksud untuk menerima atau menolaknya, faham ini bisa saja lahir dari ajaran Islam sendiri, baik dari al-Qur’an ataupun Hadis. Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Rahman ayat 26-27 :

@ä. ô`tB $pköŽn=tæ 5b$sù ÇËÏÈ 4s+ö7tƒur çmô_ur y7În/u rèŒ È@»n=pgø:$# ÏQ#tø.M}$#ur ÇËÐÈ

26. semua yang ada di bumi itu akan binasa.

27. dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.[34]

Dan sabda Rasulullah saw. :

عرفونى فبى الخلق فخلقت أعرف أن فأحببت مخفيا ا كتركنت

Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal, maka Kuciptakanlah makhluk dan melalui Aku merekapun kenal pada-Ku.[35]

Faham yang dibawa Abu Yazid ini tidak terlepas dari pro-kontra yang muncul karena perbedaan penafsiran dalam Al-Qur’a>n. Beberapa kaum sufi yang lain ketika melakukan penolakan juga memaksakan dalam melihat dan menafsirkan ayat atau hadith yang digunakan. Karena ayat atau hadis tersebut dapat mengandung lebih dari satu arti. Orang sufi biasanya mengambil arti batin, arti yang tersirat. Sedangkan orang lain mengambil arti lahir, arti yang tersurat. Mereka menilai tasawuf dengan norma-norma atau nilai-nilai yang berlaku di kalangan mereka, sehingga berkesimpulan bahwa ajaran tasawuf tersebut bertentangan dengan Islam atau tidak bersumber dari ajaran Islam.

Untuk menghindari dari perselisihan verbal dan sikap saling menyalahkan, Asmaran meyitir pendapat William James dalam bukunya The Varieties of Religion Experience. James menyebutkan ada empat karakter khas pengalaman mistis :

1. Tidak bisa diungkapkan. Orang yang mengalaminya mengatakan bahwa pengalaman itu tidak bisa diungkapkan; tidak ada uraian manapun yang memadai untuk bisa mengisahkannya dalam katakata. Ini berarti bahwa kualitas semacam ini harus dialami secara langsung dan tidak bisa diberikan atau dipindahkan kepada orang lain.

2. Kualitas neotik. Meskipun sangat mirip dengan situasi perasaan, bagi orang yang mengalami situasi mistis ini juga adalah situasi berpengetahuan. Dalam situasi ini, orang mendapatkan wawasan tentang kedalaman kebenaran yang tidak bisa digali melalui intelek yang bersifat diskursif. Semua ini merupakan peristiwa pencerahan dan pewahyuan yang penuh dengan makna dan arti yang hanya bisa dirasakan.

3. Situasi transien. Keadaan mistik tidak bisa dipertahankan dalam waktu yang cukup lama. Kecuali pada kesempatan-kesempatan yang jarang terjadi; batas-batas yang bisa dialami seseorang sebelum kemudian pulih kekeadaan biasa adalah sekitar setengah jam, atau paling lama satu atau dua jam.

4. Kefasifan. Datangnya situasi mistik bisa dikondisikan oleh beberapa tindakan pendahuluan yang dilakukan secara sengaja, seperti melakukan pemusatan pikiran, gerakan tubuh tertentu, atau menggunakan cara-cara yang diuraikan dalam pelbagai buku panduan mistisime. Meskipun demikian, saat kesadaran khas yang ada pada situasi ini muncul, sang mistikus merasa bahwa untuk sementara hasratnya menghilang dan ia merasa direngkuh dan dikuasai oleh suatu kekuatan yang lebih tinggi [36]


BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Abu Yazid al- Bustami adalah pencetus dari fana’, baqa’ dan ittihad. Fana ‘ dan baqa’ merupakan dua hal yang tidak terpisah dalam pencapaian ittihad. Dengan kata lain, ittihad akan bisa tercapai setelah melewati fana’ dan baqa’.

Fana’ yang dimaksudkan disini ialah hilangnya kesadaran akan wujud dirinya (al-fana ‘an nafs ) dan wujud alam sekelilingnya (al-fana ‘an al-Khaluq) hingga ia (sufi) tidak tahu bahwa dirinya dalam keadan fana’ (al-fana ‘an Allah). Kerena seluruh aktivitas dan kesadarannya terkonsentrasi pada Allah. Ia larut dalam kesadaran Allah (al-fana fi Allah) dan akhirnya pada saat itu yang ada dalam perasaannya hanyalah Allah (al-baqa’ bi Allah).

Dalam keadaan demikian ia merasa dirinya telah bersatu dengan Allah (ittihad). Meski demikian ittihad sebagai pengalaman sufistik haruslah dikaji. Ittihad memiliki beberapa ciri yang harus diperhatikan oleh pengkajian tasawuf sehingga pro-kontra seputar terjadinya ittihad bisa diminimalisasi.

Adapun ciri-ciri pengalaman sufistik diantaranya:

1. tidak bisa diungkap kepada orang yang belum mampu atau belum siap menerimanya.

2. memberikan pencerahan dan kesadaran baru yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan nalar intelek.

3. pengalaman seperti itu hanya terjadi sebentar, paling lama hanya berlangsung dua jam.

4. terjadi kepasifan total, perasaannya butuh ke dalam kesadaran terhadap sesuatu yang menguasai dirinya.

Pengalaman mistik tertinggi akan mengahasilkan situasi kejiwaan yang disebut ekstase. Dalam khazanah kaum sufi’, ekstase sering dilukiskan sebagai keadaan mabuk kepayang oleh minuman kebenaran (al-Haqq) yang memabukkan. Bahkan untuk mereka minuman yang memabukkan itu tidak lain ialah apa yang mereka namakan dlamir al-sya’n, yaitu kata “an” yang berarti “bahwa” dalam kalimat syahadath pertama asyhadu al lailaha illa Allah (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah). Pelukisan ini untuk menunjukkan betapa intensenya mereka menghayati tauhid, sehingga mereka tidak menyadari apapun yang lain selain Dia yang Maha Ada.


DAFTAR PUSTAKA

’Aththar (Al), Faridudin, Warisan Para Auliya’, Bandung: Pustaka, 1983.

Anwar, Rosihon, Akhlak Tasawuf, Bandung: Pustaka Setia, 2010.

As, Asmaran, Makalah: Mengkaji Ulang Ajaran Tasawuf Ittihad Abu Yazid Al Bustami, tanpa tahun.

Atjeh, Aboebakar, Pengantar Sejarah Sufi & Tasawuf, Solo: Ramadhani, 1984.

Darmawan, Yatno, Tasawuf Islam, Surabaya: Pustakamas, 2011.

Departemen Agama, Al Quran dan Terjemahnya, Semarang: CV. As Syfa, 2004.

Hamka, Tasauf: Perkembangan dan Pemurniannya, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984.

Nasution, Harun, Filsafat & Mistisisme dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1973.

_____________, Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran, Bandung: Mizan, 1995.

Sulistri, Munib Hr, Memahami Kata dan Istilah Agama, Surabaya: Darussagaff, 1985.

Team Penyusun Naskah, Pengantar Ilmu Tasawuf, Proyek Binperta IAIN Sumatera Utara: 1981/1982.



[1] Harun Nasution, Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran (Bandung: Mizan, 1995), 360.

[2] Ada yang mengartikan maqam sebagai suatu nilai etika yang diperjuangkan dan diwujudkan dengan melalui beberapa tingkatan mujahadah secara gradual. Lebih lengkapnya lihat Yatno Darmawan, Tasawuf Islam (Surabaya: Pustakamas, 2011), 41.

[3] Harun Nasution menyebutkan fana’ dan baqa’ merupakan kembar dua. Tidak banyak perbedaan diantara keduanya. Lihat Harun Nasution, Islam Rasional, halaman 362.

[4] Rosihon Anwar, Akhlak Tasawuf (Bandung: Pustaka Setia, 2010), 230.

[5] Ada versi lain yang menyebutkan ia lahir tahun 874M seperti yg ditulis Rosihon Anwar dalam Akhlak Tasawuf.

[6] Faridudin Al-’Aththar, Warisan Para Auliya’ (Bandung: Pustaka, 1983), 128.

[7] Ibid, hal. 129.

[8] Rosihon, Akhlak Tasawuf, 265

[9] Asmaran As, Makalah: Mengkaji Ulang Ajaran Tasawuf Ittihad Abu Yazid Al Bustami.

[10] Aboebakar Atjeh, Pengantar Sejarah Sufi & Tasawuf (Solo: Ramadhani, 1984), 259.

[11] Ibid, 169.

[12] Munib Hr Sulistri, Memahami Kata dan Istilah Agama (Surabaya: Darussagaff, 1985),34.

[13] Departemen Agama, Al Quran dan Terjemahnya (Semarang:CV. As Syfa, 2004), 352-353.

[14] Yatno, Tasawuf Islam, 76-77.

[15] Harun Nasution, Filsafat & Mistisisme dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), 80.

[16] Rosihon, Akhlak Tasawuf, 266.

[17] Harun Nasution, Filsafat, 81

[18] Ibid.

[19] Munib, Memahami..., 30.

[20] Rosihon, Akhlak..., 267.

[21] Harun Nasution, Filsafat..., 79.

[22] Aboebakar Atjeh, Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf (Solo: Ramadhani, 1984), 136.

[23] Harun Nasution, Filsafat..., 85.

[24] Ibid, 86.

[25] Ibid.

[26] Hamka, Tasauf: Perkembangan dan Pemurniannya (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984), 104.

[27] Team Penyusun Naskah, Pengantar Ilmu Tasawuf (Proyek Binperta IAIN Sumatera Utara: 1981/1982), 160.

[28] Asmaran, Makalah. 11.

[29] Ibid.

[30] Aboebakar Atjeh, Pengantar ...., 137

[31] Departemen Agama RI, Al Quran dan Terjemahnya (Semarang:CV. As Syifa, 2004), 852.

[32] Aboebakar Atjeh, Pengantar, 137

[33] Asmaran, Makalah, 13

[34] Departemen, Al Quran..., 886.

[35] Harun Nasution, Filsafat...., 61.

[36] Asmaran, Makalah, 18.

Tidak ada komentar: