Selasa, 10 Januari 2012

Mu'jizat Al Qur'an

Al-Qur’a>n adalah kitab petunjuk dan hidayah bagi manusia dan seluruh makhluk yang bertakwa di atas bumi ini. Sesuai dengan penegasan al-Qur’a>n:
         
Artinya: Kitab (al-Qur’a>n) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. ( QS.2:2)
Tujuannya agar mereka dapat hidup teratur dan tertib serta benar dalam kehidupan ini. Seluruh alam yang luas beserta isinya dari bumi, laut dan segala isinya akan menjadi kecil di hadapan manusia yang lemah, karena ia telah diberi keistimewaan-keistimewaan seperti kemampuan berpikir untuk mengelola seluruh yang ada di hadapannya.
Allah tidak akan membiarkan manusia tanpa adanya wahyu pada setiap masa, agar mendapat petunjuk dan menjalankan kehidupannya dengan terang dan benar. Maka Allah mengutus Rasul-Nya dengan mu’jizat yang sesuai dengan kecanggihan kaum pada masanya, agar manusia mempercayai bahwa ajaran yang ia bawa datang dari Allah swt. Allah SWT menyampaikan risalah lewat orang yang memiliki kesucian jiwa dan kecerdasan yang luar biasa, sehingga mampu menerima informasi-informasi dari yang gaib.
Oleh karena akal manusia pada masa pertama perkembangannya lebih dapat menerima mu’jizat yang bersifat materi, maka mu’jizat juga berbentuk materi. Seperti tongkat Nabi Musa as yang bisa berubah menjadi ular besar. Demikian juga mu’jizat Nabi Isa as yang dapat menghidupkan orang yang mati dengan izin Allah, dan dapat menyembuhkan orang yang buta.
Ketika akal manusia mencapai kesempurnaannya, Allah memberikan risalah Muhammad yang kekal kepada seluruh umat manusia yang tidak terbatas pada kaum di masanya saja. Maka mu’jizatnya adalah mu’jizat yang kekal sesuai dengan kematangan perkembangan akal manusia.
Al-Qur’a>n sebagai Kalam Allah mempunyai banyak fungsi, salah satunya sebagai petunjuk yang jelas dan pedoman yang kekal bagi kebahagiaan hidup manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Al-Qur’a>n memberikan petunjuk global apa yang harus dilakukan hamba Allah SWT di dunia ini, baik untuk dirinya sendiri, dengan sesamanya dan dengan Allah Yang Maha Pencipta.
Al-Qur’a>n sebagai sumber ajaran, dan bukti kebenaran kerasulan Nabi Muhammad SAW. Sebagai sumber ajaran, memberikan berbagai norma kehidupan untuk petunjuk bagi kehidupan manusia mencapai kehidupan di dunia dan di akhirat, yang merupakan akhir dari pejalanan kehidupan mereka. Dengan berpegang teguh kepada al-Qur’a>n, merefleksikan ajarannya serta menghindari larangan-larangannya, maka manusia akan mendapatkan kebahagian di dunia maupun di akhirat kelak.
Sebagai mukjizat bagi Rasul dengan misi yang luar biasa, tentu al-Qur’a>n adalah kitab suci yang sangat luar biasa. berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya yaitu jaminan Allah SWT atas kemurniannya di sebut dalam Surah Al-Hijir 9;
  •     
Artinya: “Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (QS. 15: 9).

Sebagian keistimewaan al-Qur’a>n terletak pada ketinggian dan keunggulan susunan bahasanya. Sejak pertama kali diturunkan hingga sekarang tidak ada seorangpun yang sanggup meniru gubahannya, apalagi hendak menandinginya.
Pada sisi lain pula kita melihat al-Qur’a>n yang mempunyai nilai sastra yang tinggi, menjadikannya sebagai kitab yang mempunyai redaksi singkat, padat, penuh dengan metafosis (maja>z), sangat lentur, mempunyai banyak arti dan makna.

MUKJIZAT AL-QUR’AN

A. Pengertian Mukjizat al-Qur’an
Menurut bahasa kata mukjizat berasal dari bahasa Arab yaitu إعجــــــز berarti menetapkan kelemahan. Kelemahan menurut pengertian umum adalah ketidakmampuan mengerjakan sesuatu, lawan dari kemampuan. Apabila kemukjizatan telah terbukti maka nampaklah kemampuan mu’jiz (sesuatu yang melemahkan). Quraish Shihab mendefiniskan pelakunya dengan sebutan معجــــــز. Bila kemampuan membuktikan pada pihak lawan amat menonjol sehingga mampu membungkam lawan, maka ia dinamai معجــــــزة , tambahan ( ة ) ta marbutah pada akhir kata itu mengandung makna muba>laghah (superlative).
Mukjizat secara istilah berarti sesuatu yang luar biasa yang kelihatan pada diri seorang hamba pilihan Allah SWT yaitu Nabi dan Rasul. Keluarbiasaan yang dimiliki hamba pilihan Allah SWT ini akan terlihat dengan jelas apabila ditantang oleh orang lain. Namun tantangan itu tidak akan mampu mengalahkan keluarbiasaan hamba pilihan Allah SWT tersebut.
Mu’jizat al-Qur’a>n pada diri Nabi, merupakan bukti kebenaran bahwa dia adalah seorang Nabi utusan Allah untuk menyampaiakan risalah dari Allah SWT. Dan juga sebagai bukti bahwa al-Qur’a>n.sebagai kitab yang dapat dipercaya sekaligus bersih dari campur tangan dan rekayasa Nabi Muhammad SAW. Bila beritanya tidak terpercaya otomatis kerasulan Nabi Muhammad SAW tidak diakui keotentisitasnya dan tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Mu’jizat yang mampu mengantisipasi semua serangan yang ditujukan kepada al-Qur’a>n mutlak diperlukan karena posisi al-Qur’a>n yang sangat menentukan. Mu’jizat al-Qur’a>n.dalam pengertian ini adalah sesuatu yang dapat melemahkan lawan atau mengalahkan kecerdikan dan kekuatan musuh, karena keadaannya sangat menyalahi adat kebiasaan yang ada, melemahkan kekuatan lawan baik lahir maupun batin, baik kekuatan badan maupun kekuatan pikiran, guna membandinginya, mengimbanginya, menyerupainya dan bahkan menolaknya.
Dinamakan mukjizat (melemahkan) karena manusia lemah mendatangkan yang semisalnya, karena mukjizat sesuatu yang bertentangan dengan kebiasaan, keluar dari batas-batas sebab yang diketahui.
Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan bahwa mukjizat al-Qur’a>n adalah kemampuan internal al-Qur’a>n.yang sangat luar biasa yang membuktikan kepada lawan-lawannya, bahwa mereka tidak mampu membuat satu ayat pun sebagai tandingan yang akan menyamainya, baik secara perorangan maupun kelompok.
B. Tujuan dan Peranan Mukjizat al-Qur’a>n.
Al-Qur’a>n diturunkan berbahasa Arab kepada bangsa Arab. Datang dengan nilai sastra kepada kaum yang ahli sastra. Sementara Nabi pembawanya dikenal sebagai orang yang tidak mempuyai tradisi tulis baca (ummi), sehingga amat tidak mungkin mengarang al-Qur’a>n.
Dalam kondisi demikian al-Qur’a>n menantang bangsa Arab untuk mendatangkan karya yang menyamainya. Ketika tantangan itu tidak dipenuhi, maka nyatalah tujuan dan peranan mukjizat al-Qur’a>n, yakni memperlihatkan kebenaran kerasulan Muhammad SAW dan kitab suci yang dibawanya. Selain itu, untuk memperlihatkan kekeliruan bangsa Arab yang menantangnya, karena tantangan-tantangan yang dilontarkan Allah SWT dalam al-Qur’a>n tidak dapat mereka layani.
Ada banyak tujuan dan peranan mu’jizat al-Qur’a>n, diantaranya:
1. Membuktikan bahwa Nabi Muhammad SAW yang membawa mu’jizat kitab al-Qur’a>n adalah benar-benar seorang Nabi/Rasul Allah.
2. Membuktikan bahwa kitab al-Qur’a>n adalah benar-benar wahyu Allah, bukan buatan malaikat Jibril atau tulisan Nabi Muhammad SAW.
3. Menunjukkan kelemahan mutu sastra dan balaghah bahasan manusia, karena terbukti pakar-pakar pujangga sastra dan seni bahasa Arab tidak ada yang mampu mendatangkan kitab tandingan yang sama seperti al-Qur’a>n sebagaimana yang ditantangkan kepada mereka dalam berbagai tingkat dan bagian al-Qur’a>n
4. Menunjukkan kelemahan daya upaya dan rekayasa umat manusia yang tidak sebanding dengan keangkuhan dan kesombongannya.

Berdasarkan pemaparan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan dan peranan mukjizat al-Qur’a>n adalah sebagai keabsahan kerasulan Nabi Muhammad SAW yang diterimanya melalui wahyu dari Allah SWT yang membuat ketidakberdayaan mutu sastra dan balaghah bahasa manusia khususnya bangsa Arab pada waktu itu, dan pembuktian betapa lemahnya kemampuan manusia di hadapan Allah SWT. Hal itu disampaikan Allah:

     •               
Artinya dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.




C. Tahapan-tahapan dan Kadar Mukjizat al-Qur’an
1. Tahapan-tahapan Mukjizat al-Qur’an
Masyarakat Arab adalah masyarakat yang menyukai karya-karya sastra atau syair berbahasa Arab. masyarakat Arab pada waktu itu, syair dan penyair mendapat tempat tersendiri dan mempunyai kedudukan tinggi dalam masyarakat. Gambaran begitu tingginya apresiasi sastra dalam masyarakat Arab, setiap tahun para penyair terkemuka memasang karya mereka di Ka’bah dan nantinya dipilih yang terbaik dari karya-karya tersebut.
Mereka adalah ahli bahasa, sastrawan yang mahir mengenai syair-syair, pidato, dan pintar melukiskan keindahan dengan gubahan kata mutiara. Bahasa al-Qur’a>n adalah bahasa mereka sehari-hari. Mereka mempuyai kemampuan melahirkan karya-karya sastra dan merasa unggul dalam bidang kefasihannya. Itulah bahasa mereka sejak lahir yaitu bahasa al-Qur’a>n.
Keadaan ini sangat mendukung bagi terpenuhinya tantangan al-Qur’a>n. Semua persyaratan relatif terpenuhi, terlebih kemampuan sastra Arab mereka sebagai orang Arab sangat terlatih dan teruji. Dalam keadaan inilah tantangan al-Qur’a>n diajukan secara bertahap dengan tahapan sebagai berikut :

a. Tantangan untuk menandingi al-Qur’a>n secara utuh, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’a>n Surah al-Thur: 33-34
              
Artinya: Ataukah mereka mengatakan: "Dia (Muhammad) membuat-buatnya". Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal al-Qur’a>n itu jika mereka orang-orang yang benar (QS. 52: 33-34) ..

Tantangan semakna terdapat dalam surah al-Isra>’: 88. sebagai berikut :
                  
Artinya: Katakanlah! "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’a>n ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, Sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain".(QS. 17: 88) .
b. Tantangan untuk Menandingi Sepuluh Surah al-Qur’a>n
Karena tidak seorangpun yang bisa melayani tantangan al-Qur’a>n yang pertama karena terlalu berat, maka bobot tantangan dikurangi. Sebelumnya mereka harus membuat kitab besar dan lengkap, membahas berbagai asfek alam nyata dan ghaib, masa lalu, kini dan mendatang, serta menyangkut dunia dengan segala isinya dan akhirat dengan seluruh prosesnya. Lalu diturunkan kadar tantangan hanya mendatangkan sepuluh surah saja. Disebutkan dalam Surah Hud: 13-14.
                                     
Artinya: 13. bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat al-Qur’a>n itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), Maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar".14. jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu Maka ketahuilah, Sesungguhnya al-Qur’a>n itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, Maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)? (QS. 11: 13-14) .

c. Tantangan untuk Menandingi Satu Surah al-Qur’a>n.
Manakala sepuluh surat tidak mampu dibuat oleh bangsa Arab, bobot tantangan kembali menurun. Kali ini mereka ditantang untuk mendatangkan satu surah saja yang dapat menyamai al-Qur’a>n
Tantangan ketiga ini termaktub dalam Surah al-Baqarah: 22-23 dan Surah Yunus 38, sebagai berikut :
              •                •               
Artinya: “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’a>n yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), maka buatlah satu surah (saja)yang semisal al-Qur’a>n itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya), maka peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir”.
                 
Artinya: “Atau (patutkah) mereka mengatakan: “Muhammad membuat-buatnya”. Katakanlah: “ (Kalau benar yang kamu katakana itu), maka datangkan sebuah surah seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”.

Dari beberapa ayat al-Qur’a>n tadi penulis menyimpulkan bahwa tantangan al-Qur’a>n tidak saja menantang orang Arab yang hidup di masa turunnya al-Qur’a>n dan Rasulullah masih hidup, tetapi berlaku sepanjang masa bagi orang yang meragukan bahkan menolak dan mengingkari al-Qur’a>n. Namun bagi orang-orang yang beriman, kegagalan penentang dan perlawanan al-Qur’a>n sebagai pengokoh iman bahwa al-Qur’a>n benar-benar kitab suci yang dijadikan pedoman yang tidak ada seorang pun bisa menandinginya baik dari segi susunan bahasa, maupun maknannya.
2. Kadar Mukjizat al-Qur’a>n
Al-Qur’a>n secara terus menerus menantang semua ahli kesusastraan Arab untuk mencoba menandinginya, tapi tak seorang pun yang mampu menjawab tantangan al-Qur’a>n. Mereka bahkan tak sanggup menirunya karena memang al-Qur’a>n berada di atas puncak yang tak mungkin diungguli karena bukan kalam manusia.
Mukjizat al-Qur’a>n menurut Mu’tazilah terdapat pada setiap surah secara utuh. Kelemahan bangsa Arab mendatangkan semisal al-Qur’a>n secara keseluruhan dari awal sampai akhir adalah bukti mukjizat al-Qur’a>n.
‘Ulama>’ lain mengemukakan tiga macam pendapat tentang kadar mukjizat al-Qur’a>n, yaitu :
1. Mu’tazilah berpendapat bahwa mu’jizat al-Qur’a>n terletak pada seluruh al-Qur’a>n secara utuh.
2. Ada yang berpendapat bahwa mu’jizat al-Qur’a>n sedikit atau banyak tanpa mengharuskan satu surah. Hal ini didasari oleh pemahaman mereka terhadap surah al-Thur 34:
      
34. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Quran itu jika mereka orang-orang yang benar.

3. Yang lain berpendapat bahwa mukjizat al-Qur’a>n minimal satu surah yang sempurna walaupun pendek, bisa juga satu ayat atau beberapa ayat yang jumlah hurufnya sama dengan satu surah.
Berdasarkan beberapa pendapat yang sudah disampaikan, dapat dianalisa bahwa, al-Qur’a>n secara utuh adalah mukjizat. Lemahnya setiap upaya yang menandinginya sudah terbukti sampai saat ini. Hanya saja untuk menentukan kadar minimal mukjizat al-Qur’a>n haruslah berhati-hati dan merujuk pada teks al-Qur’a>n.
Ada 3 tahapan orang kafir ingin menandingi al-Qur’a>n tapi mereka tidak mampu. Selain tiga tahapan tantangan itu, tidak ada lagi dalil yang bermakna tantangan dan tidak ditemukan tantangan yang kurang dari satu surah. Seandainya kadar mukjizat al-Qur’a>n ukuran satu kata umpamanya, dan tantangan itu terpenuhi, tentu bukan mukjizat lagi namanya. Dan bila hal ini terjadi, mukjizat al-Qur’a>n sebagi perangkat pendukung pembenaran kerasulan Muhammad SAW tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.


D. Aspek-Aspek Mukjizat al-Qur’a>n
Mukjizat al-Qur’a>n ditinjau dari berbagai aspek, antara lain sebagai berikut :
1. Aspek Kebahasaan
Para pakar bahasa mengatakan “sebaik-baik pembicaraan adalah yang singkat tetapi mencakup”. Maksudnya adalah Kalimat yang baik adalah yang tidak bertele-tele dan tidak pula singkat sehingga mengaburkan pesan, Selanjutnya kata yang dipilih tidak asing bagi pendengar, mudah diucapkan serta tidak “berat” terdengar ditelinga. Diantara mukjizat al-Qur’a>n dari segi kebahasaan sebagai berikut:

a. Susunan Kata dan Kalimat al-Qur’a>n
Sebelum seseorang terpesona dengan kemukjizatan al-Qur’a>n terlebih dahulu ia akan terpukau oleh beberapa hal yang berkaitan dengan susunan kata dan kalimatnya. Antara lain sebagai berikut:
1. Nada dan lagunya
2. Singkat dan padat
3. Memuaskan para pemikir dan orang kebanyakan
4. Memuaskan akal dan jiwa
5. Keindahan dan ketepatan maknanya


b. Keseimbangan kosa kata al-Qur’a>n
1. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya. Contohnya adalah kata al-hayy (hidup) dan al-mawt (mati) masing-masing sebanyak 145 kali; an-naf’ (manfaat dan al-madharah (mudharat) masing-masing sebanyak 50 kali; al-harr (panas) dan al-bard (dingin) masing-masing sebanyak 4 kali; ash-sha>lihat (kebajikan) dan as-sayyiat (keburukan) masing-masing sebanyak 167 kali; dan al-rabh (cemas atau takut) dan raghbah (harap atau dingin) masing-masing sebanyak 8 kali.
2. Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonim atau makna yang dikandungnya. Antara lain, kata al-harts dan az-zira’ah (membajak, bertani) masing-masing sebanyak 14 kali; al-‘ushb dan adh-dhurur (membanggakan diri, angkuh) masing-masing sebanyak 27 kali; adh-dhallun dan mawta (orang sesat, mati jiwanya) masing-masing sebanyak 17 kali; al-qura>n, al-wahy, dan al-Isla>m (Alquran, wahyu dan Islam) masing-masing sebanyak 70 kali; al-‘aql dan an-nu>r (akal dan cahaya) masing-masing sebanyak 49 kali; dan aj-jahr dan al-’alaniyah (nyata) masing-masing sebanyak 16 kali.
3. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjuk kepada akibatnya. Diantaranya, kata al-infa>q (infak) dan ar-ridha> (kerelaan) masing-masing sebanyak 73 kali; al-bukhl (kekikiran) dan al-khasarah (penyesalan) masing-masing sebanyak 12 kali; dan an-na>r, al-ah}raq (neraka, pembakaran) masing-masing sebanyak 154 kali; az-zaka>h (zakat, penyucian) dengan ba>rakah (kebajikan) masing-masing sebanyak 32 kali; dan al-fah}syah (kekejian) dengan al-ghadhab (murka) masing-masing sebanyak 26 kali.
4. Keseimbangan antara jumlah kata dengan kata penyebabnya. Antara lain ada pada kata al-isyra>f (pemborosan) dengan as-sur’ah (ketergesa-gesaan) masing-masing sebanyak 23 kali; al-maw’izhah (nasihat, petuah) dengan al-lisa>n (lidah) masing-masing sebanyak 25 kali; al-asra> (tawanan) dan al-h{arb (perang) masing-masing sebanyak 6 kali; as-sala>m (kedamaian) dan ath-thayyibah (kebajikan) masing-masing sebanyak 60 kali
5. Keseimbangan khusus. Misalnya, kata yawm (hari) dalam bentuk tunggal ada sebanyak 365 yangs esuai dengan jumlah hari dalam setahun. Sedangkan kata ayya>m (hari dalam bentuk jamak) atau yawmaini (bentyk mutsanna) jumlah pemakaiannya hanya 30 atau sama dengan jumlah hari dalam sebulan. Di sisi lain, kata yang berarti “bulan” (syahr) hanya terdapat sebanyak 12 kali, atau sama dengan jumlah bulan dalam setahun. Demikian juga kata-kata yang menunjuk pada utusan Tuhan, yakni rasu>l, nabiy, basyi>r dan nadzi>r secara keseluruhan berjumlah 518 yang seimbang dengan jumlah penyebutan nama-nama nabi-rasul-pembawa berita ajaran keagamaan, yakni sebanyak 518.
2. Aspek Ilmiah
Di antara segi kemukjizatan al-Qur’a>n adalah adanya beberapa petunjuk yang detail mengenai sebagian ilmu pengetahuan umum yang telah ditemukan terlebih dahulu dalam al-Qur’a>n sebelum ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern. Teori al-Qur’a>n sama sekali tidak bertentangan dengan teori-teori ilmu pengetahuan modern.
Secara Ilmiah redaksi al-Qur’a>n sangat singkat dan sarat makna, sekaligus tidak terlepas dari ciri umum redaksinya yakni memuaskan orang awam dan para pemikir. Orang awam memahami redaksi tersebut ala kadarnya sedangkan para pemikir melalui renungan dan analisis mendapatkan makna-makna yang tidak terjangkau oleh orang awam. Seperti masalah Reproduksi Manusia, Kejadian Alam Semesta, awan, gunung, Pohon Hijau, Kalender Syamsiah dan Qamariah. Dll.
3. Aspek Pemberitaan Alam Gaib
al-Qur’a>n mengungkapkan sekian banyak hal gaib. al-Qur’a>n mengungkap kejadian masa lampau yang tidak diketahui lagi oleh manusia, karena masanya telah demikian lama, dan mengungkap juga peristiwa masa datang atau masa kini yang belum diketahui manusia. contohnya antara lain:
a. Berita gaib tentang masa lampau
1. Kaum ‘Ad serta kehancuran kota Ira>n
2. Berita tentang tenggelamnya dan selamatnya badan Fir’aun
3. Ashha>b Al-Kahfi
b. Prediksi berita gaib pada masa yang akan datang terbukti
1. Kemenangan Romawi setelah kekalahannya
2. Kasus al-Wali>d ibn Mughirah
3. Kasus Abu> Jahl
4. Aspek Akidah dan Shari’ah
Kemukjizatan dalam bidang Akidah merupakan tujuan utama dari semua segi mukjizat al-Qur’a>n. Kemukjizatan dalam asfek ini karena al-Qur’an telah membawa satu bentuk akidah yang belum pernah dikenal sebelumnya, baik dalam lingkungannya maupun oleh penganut-penganut agama-agama samawi sebelumnya. Ketuhanan yang diajarkannya jelas berbeda dengan konsep ketuhanan Yahudi, Nasrani, Persia dan lain-lain. Al-Qur’an datang dengan membawa akidah yang penuh toleran, murni, suci dan bersih tentang Zat Allah SWT. dan hak-hak Rasul-Nya yang mulia.
Dalam bidang shari’ah, al-Qur’a>n menetapkan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan sesama, antara sesama Muslim atau non muslim, baik dirumah, di dalam masyarakat, bangsa, maupun dalam masyarakat internasional. Kemukjizatan asfek syariah al-Qur’a>n terletak pada kemampuannya menciptakan keadilan antarsesama manusia tanpa mempertimbangkan jenis, warna kulit, bahkan agama.

5. Aspek Lain Sesuai Perkembangan Zaman
Al-Qur’a>n dengan seluruh aspek kemukjizatannya adalah abadi, tidak akan hilang dengan berlalunya masa, tidak akan terhenti dengan wafatnya Rasulullah SAW. al-Qur’a>n datang setelah kemampuan manusia itu lengkap, dan pola pemikirannya pun meningkat, karena risalah Nabi Muhammad SAW adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia setelah mencapai tahap kepintarannya sempurna. Ia berupa ide-ide abadi yang bias ditangkap kearifannya oleh setiap manusia dalam setiap generasi. Ia juga merupakan mukjizat untuk membimbing dan meluruskan jalan hidup semua manusia.


E. Karakteristik Mukjizat al-Qur’a>n
Terdapat 3 Karakteristik Mukjizat al-Qur’a>n
1. Ilmiah
Bila mukjizat-mukjizat Nabi dan Rasul terdahulu berupa mukjizat meteri yang bersifat indrawi maka mukjizat Nabi Muhammad SAW adalah berupa mukjiza ruhiyah yang bersifat rasional. Allah memberi keistimewaan kepadanya berupa al-Qur’a>n sebagai mukjizat rasional yang kekal sepanjang masa agar diperhatiakan oleh orang yang mempunyai hati dan pemikiran. Sehingga mereka bisa terkena pantulan sinarnya dan mempergunakan petunjuknya, di saat kini dan nanti. Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda yang artinya: “Tiada seorang Nabi pun dari Nabi-Nabi yang terdahulu, kecuali mereka diberi mukjizat yang sesuai, agar manusia mempercayainya, tetapi mukjizat yang diberikan kepadaku adalah berupa wahyu (pengetahuan) yang disampaikan Allah kepadaku. Aku mengharapkan agar aku menjadi Nabi yang paling banyak pengikutnya”.
2. Abadi
Al-Qur’an mengajak (mengantarkan) seluruh manusia untuk mengikuti petunjuk keselamatan dan kebaagiaan umat manusia, karena itu jelaslah perbedaan antara mukjizat Nabi Muhammad SAW dengan Nabi-Nabi yang lain. Mukjizat Nabi Muhammad SAW berlaku sepanjang masa sedangkan mukjizat Nabi-Nabi sebelumnya terbatas dan pendek masanya. Ia akan lenyap dengan tenggelamnya masa dan akan hilang dengan wafatnya mereka.
3. Selaras Dengan Perkembangan Zaman
Misi Rasulullah SAW penyempurna dan penutup risalah kenabian, yang bentuk risalahnya selalu selaras dengan perkembangan zaman. al-Qur’a>n hadir ditengah-tengah masyarakat dalam kondisi apapun selalu menawarkan petunjuk keselamatan dunia dan akhirat.

P E N U T U P
1. Mukjizat al-Qur’a>n adalah kemampuan internal al-Qur’a>n yang luar biasa dalam membuktikan kebenaran al-Qur’a>n sehingga mampu membungkam lawan-lawannya.
2. Tujuan dan Peranannya adalah :
a. Membenarkan kerasulan Muhammad SAW
b. Membuktikan bahwa al-Qur’a>n itu benar-benar wahyu Allah SWT.
c. Menunjukkan rendahnya mutu sastra makhluk dan tingginya (nilai) sastra Khalik.
d. Menunjukkan lemahnya kemampuan orang-orang sombong yang mengingkari kebenaran al-Qur’a>n.
3. Tahapan-tahapannya ialah :
a. Menantang menandingi al-Qur’a>n secara utuh.
b. Menantang mendatangkan sepuluh surah seperti surah al-Qur’a>n.
c. Menantang membuat satu surah yang menyerupai surah al-Qur’a>n.
4. Kadar mukjizat al-Qur’a>n dapat dibuktikan dengan satu huruf saja.
5. Berbagai kemukjizatan al-Qur’a>n, seperti :
a. Asfek Kebahasaan
b. Asfek Ilmiah
c. Aspek Pemberitaan Alam Gaib
d. Asfek Akidah dan Shari’ah





DAFTAR PUSTAKA

Djalal, Abdul. Ulu>mul Qur’a>n, Surabaya: Dunia Ilmu, 1998.
Izzan, Ahmad. Ullumul Quran, Bandung: Tafakur, 2009.
Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, Semarang: CV. Asy Syifa’, 2004.
Khalil, Munawar. Al-Qur’an dari Masa ke Masa, Semarang: CV. Ramadhani, tt.
Ash-Shaabuuniy, Muhammad Ali. Studi Ilmu Al-Qur’an: Terjemahan al-Tibyan fi Ulu>m al-Qur’a>n, Bandung: Pustaka Setia, 1998.
Qaththan (al), Manna’. Studi Ilmu-ilmu Qur’an, Bogor: Litera Antarnusa, 2011.
Abdullah, Mawardi. Ullumul Quran, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011.
Nasir, Ridlwan, H.M. Memahami Al-Qur’an; Perspektif Baru Metodologi Tafsir Muqarin, Surabaya: Indra Media, 2003.
Ritonga, A.Rahman. et.al., Ensiklopedi Hukum Islam, Vol. 4, ed. Abdul Aziz Dahlan et.al, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996.
Shihab, M. Quraish. Membumikan al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1998.
. Mukjizat al-Qur’an, Bandung: Mizan, 2001.
. Sejarah dan Ulumul Qur’an, ed. Azzumardi Azra, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001.
Syafruddin, Didin. Ilmu al-Qur’an sebagai Sumber Pemikiran, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam; Pemikiran dan Peradaban, ed. Taufiq Abdullah, et. Al., Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2001.

Ittihad dengan Tuhan

Berbicara tentang tasawuf tidak terlepas dari pembahasan tentang para sufi. Tujuan kaum sufi adalah mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Tuhan, sehingga mereka dapat melihat Tuhan (ma’rifat), bahkan lebih dekat dari itu, bisa mengalami persatuan (ittihad) dengan Tuhan.

Landasan filsafat tasawuf adalah Tuhan bersifat immateri dan Mahasuci. Maka unsur dari manusia yang dapat bertemu dengan Tuhan adalah unsur immateri manusia, yaitu ruh, dan ruh ini harus suci. Karena yang dapat mendekati Yang Mahasuci adalah yang suci. Ruh manusia, yang masuk ke tubuh manusia yang bernafsu, bisa dibuat kotor oleh hawa nafsu. Oleh karena itu, ruh harus disucikan dahulu dari kotoran-kotoran yang melekat pada dirinya.[1]

Pembersihan itu dilakukan dengan melaksanakan ibadah shalat, puasa dan haji, membaca al Qur’a>n dan banyak mengingat Tuhan dengan berdzikir. Maka dari itu, seorang sufi banyak melakukan shalat, puasa dan haji. Shalatnya tidak cukup hanya shalat lima waktu, tetapi dilengkapi dengan shalat sunnah dan lain-lain. Mereka banyak membaca al Qur’a>n, bahkan ada yang mengkhatamkannya dalam waktu sehari. Lidah mereka senantiasa berdzikir mengingat Tuhan. Kaum sufi juga banyak melakukan puasa. Dalam istilah sufi, puasa dapat mematikan nafsu. Kalau nafsu mati, sufi pun bebas dari godaan materi, dan ia pun menjadi suci. Pada saat itu, ia sudah mulai dekat dengan Tuhan.

Untuk mencapai kedekatan dengan Tuhan, seorang sufi harus menempuh jalan (thari}qah) yang tidak mudah, dan berisi stasiun-stasiun (maqa>mat)[2]. Stasiun pertama adalah tobat. Baik tobat dari dosa besar maupun dosa kecil. Kemudian tobat lagi dari hal-hal yang makruh dan syubhat.

Stasiun selanjutnya adalah zuhd atau mengasingkan diri dari dunia ramai. Maqam selanjutnya adalah wara’. Setelah wara’, para sufi pindah ke stasiun faqr. Mereka hidup sebagai orang fakir. Bagi mereka cukup satu helai pakaian. Jika ada makanan akan dimakan. Namun apabila tidak maka mereka akan puasa. Mereka tidak meminta, namun juga tidak menolak pemberian.

Ketika faqr sudah dilalui maka mereka harus memasuki shabr atau sabar. Mereka harus bersabar atas apa yang mereka alami. Kemudian mereka harus tawakkal, menyerah sebulat-bulatnya kepada keputusan Tuhan. Mereka lalu mengalami ridha>, yaitu dekat dengan Tuhan. Rasa cinta yang bergelora dalam hatinya membuatnya sampai ke stasiun mahabbah, cinta Ilahiah. Di hatinya tidak ada lagi rasa benci terhadap apa dan siapapun. Kemudian Tuhan membalas rasa cinta sehingga para sufi mampu melihat Tuhan dengan mata hatinya. Tidak ada tabir lagi. Mereka telah sampai ke stasiun ma’rifah.

Namun para sufi masih juga belum puas. Mereka ingin lebih dekat lagi, ingin bersatu dengan Tuhan. Mereka berusaha melupakan diri dan memusatkan kesadaran pada diri Tuhan. Mereka pun sampai ke tingkat fana’, hancur kesadaran tentang dirinya dan tinggal kesadarannya tentang diri Tuhan. Yang terakhir ini disebut baqa’.[3] Dengan hancurnya kesadaran para sufi tentang dirinya dan tinggal kesadaran mereka tentang diri Tuhan, mereka akhirnya sampai pada tingkat ittihad, bersatu dengan Tuham. Di sini pada sufi sampai pada tujuan akhirnya. Mereka telah sampai ke Tuhan, bahkan bersatu dengan Tuhan, dasar dari segala dasar.

Rosihon Anwar membagi tasawuf menjadi dua. Pertama adalah tasawuf akhlaki, yang berarti membersihkan tingkah laku manusia. Di dalamnya membahas moralitas yang terukur, seperti kejujuran, keikhlasan dan berkata benar. Kedua, tasawuf irfani yang tidak hanya membahas tentang keikhlasan dalam hubungan antarmanusia, namun lebih jauh menetapkan bahwa apa yang kita lakukan sesungguhnya tidak pernah kita lakukan. ini adalah tingkatan ikhlas paling tinggi. Karena tidak ingin dipuji, atau jika dipuji tidak berubah dan apabila dicaci maki juga tidak akan berubah. Ittihad termasuk dalam kategori yang kedua. Ulama sufi yang memperkenalkan konsep-konsep ittihad dan yang menyertainya adalah Abu Yazid al Bustami.[4]

Dalam makalah ini akan dipaparkan tentang sejarah Abu Yazid al Bustami dan konsep-konsepnya tentang ittihad dengan Tuhan.


ABU YAZID AL BUSTAMI DAN KONSEP ITTIHAD

  1. Riwatyat Singkat Abu Yazid Al Bustami

Abu Yazid al Bustami lahir di Bustam, bagian Timur Laut Persia pada sekitar tahun 200H (813 M) dengan nama kecil Taifur. Sedangkan nama lengkapnya adalah Abu Yazid Taifur bin Isa bin Syurusan al-Bustami.[5] Kakeknya bernama Surusyan, seorang penganut agama Zoroaster, kemudian masuk dan memeluk agama Islam di Bustam. Keluarga Abu Yazid termasuk golongan menengah, namun mereka memilih untuk hidup sederhana.[6]

Sejak dalam kandungan ibunya, Abu Yazid sudah memiliki kelebihan. Menurut ibunya, apabila ia memakan makanan yang diragukan kehalalannya maka jabang bayinya akan memberontak dan ibunya akan memuntahkan makanan tersebut.[7]

Saat menginjak remaja, Abu Yazid terkenal sebagai murid yang pandai dan selalu taat pada perintah agama dan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Perlu berpuluh-puluh tahun bagi Abu Yazid untuk menjadi seorang sufi. Sebelum menjadi sufi, ia terlebih dulu menjadi seorang faqih dari madzhab Hanafi. Gurunya yang terkenal adalah Abu Ali al-Sindi dari India. Abu Yazid mendapatkan ilmu tauhid, ilmu hakikat dan ilmu lainnya dari dia. Setelah menjadi seorang faqih, Abu Yazid kemudian menjadi seorang zahid selama 13 tahun. Ia mengembara di gurun-gurun pasir di Syam, dengan sedikit makan, minum dan tidur. Baginya, zahid itu adalah seoarang yang telah menyediakan dirinya untuk hidup berdekatan dengan Allah. Hal ini berjalan melalui tiga fase, yaitu zuhud terhadap dunia, zuhud terhadap akhirat dan zuhud terhadap selain Allah. Dalam fase terakhir ini ia berada dalam kondisi mental yang menjadikan dirinya tidak mengingat apa-apa lagi selain Allah.[8]

Karena ajaran yang adibawa berbeda dengan ajaran-ajaran tasawuf sebelumnya, ia banyak ditentang oleh ulama Fiqh dan Kalam sehingga menyebabkan ia keluar masuk penjara. Meski demikian, ia memperoleh banyak pengikut yang percaya kepada ajaran yang dibawanya. Pengikut-pengikutnya menamakannya Taifur. Kata yang diucapkannya seringkali mempunyai arti yang begitu mendalam, sehingga jika ditangkap secara lahir akan membawa kepada syirik, karena mempersekutukan antara Tuhan dengan manusia.[9]

Abu Yazid meninggal dunia pada tahun 261 H (875 M) di Bustam. Makamnya masih ada hingga saat ini. Makamnya yang terletak di tengah kota menarik banyak pengunjung dari berbagai tempat. Pada tahun 1313 M, didirikan di atasnya sebuah kubah yang indah oleh seorang Sultan Mongol, Muhammad Khudabanda atas nasehat gurunya Syekh Syafruddin, salah seoarang keturunan dari Bustam.[10]

  1. Ajaran Tasawuf Abu Yazid al-Bustami

Aboebakar Atheh menandai ajaran sufi pada abad yang ke-III, orang membicarakan latihan rohani, yang dapat membawa manusia kepada Tuhannya. Jika pada akhir abad ke-II ajaran sufi merupakan kezuhudan (asceticisme), dalam abad ke-III ini orang sudah meningkat kepada ittihad dengan Tuhan (mistikisme). Orang sudah ramai membicarakan tentang lenyap tentang kecintaan, fana fil mahbub, bersatu dengan kecintaan, ittihād fil mahbub, bertemu dengan Tuhan, liqa’; dan menjadi satu dengan Dia. ‘ainul jama’ sebagai yang diucapkan oleh Abu Yazid Bustami.[11]

Sebelum seorang sufi memasuki tahap persatuan dengan Tuhan (al-ittihād), ia harus terlebih dahulu dapat menghancurkan dirinya melalui fana’. Penghancuran diri (fana’) dalam khazanah sufi senantiasa diiringi dengan baqa’. Fana’ dan baqa’ inilah yang diajarkan Abu Yazid.

  1. Fana’

Dari segi bahasa, fana’ berasal dari kata faniya yang berarti musnah atau lenyap. [12] Namun dalam dunia tasawuf, istilah fana’ adakalanya diartikan sebagai keadaan moral yang luhur. Dalam istilah tasawuf, fana’ berarti penghancuran diri yaitu al-fana’‘an al-nafs. Yang dimaksud dengan al-fana’ ‘an al-nafs ialah hancurnya perasaan atau kesadaran seseorang terhadap wujud tubuh kasarnya dan alam sekitarnya.

Salah satau ayat yang seringkali digunakan oleh ahli tasawuf terkait dengan fana’ adalah Surat Yusuf ayat 31:

"Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian Dia berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka". Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: "Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah Malaikat yang mulia."[13]

Wanita-wanita bangsawan Mesir ketika melihat ketampanan Yusuf As. saat melintas di depan mereka, mereka terkejut, malu, segan, kagum, dan amat tertarik, sehingga tidak terasa pisau yang dipegangnya memotong tangan mereka sendiri. Mereka adalah selemah-lemahnya manusia.

Ini merupakan gambaran makhluk yang lupa terhadap keberadaan dirinya ketika bertemu dengan makhluk yang lain. Maka, bagaimana jika seseorangtersingkap dari tabir yangmenutupi Tuhannya? Jika makhluk saja lupa akan keberadaan dirinya sendiri saat berjumpa dengan sesama makhluk, maka apakah tidak akan lebih menakjubkan jika yang ditemuinya adalah Sang Khalik?[14]

Harun Nasution menjelaskan tahapan-tahapan dalam sufi yang menuju ke-fana’-an:

الموافقات فى بقى المخالفات عن فنى من -

المحمودة بالاوصاف بقى المذمومة الأوصاف عن فنى من -

الحق بأوصاف بقى أوصافه عن فنى من -

- Jika seseorang dapat menghilangkan maksiatnya, yang akan tinggal ialah taqwanya.

- Siapa yang menghancurkan sifat-sifat (akhlak) yang buruk, tinggal baginya sifat-sifat yang baik.

- Siapa yang menghilangkan sifat-sifatnya, tinggal baginya sifat-sifat Tuhan.[15]

Menurut Abu Bakar Al-Kalabadzi sebagaimana dikutip Rosihon,

“hilangnya semua keinginan hawa nafsu seseorang, tidak ada pamrih dari segala perbuatan manusia, sehingga ia kehilangan segala perasaannya dan dapat membedakan sesuatu secara sadar, dan ia telah menghilangkansemua kepentingan ketika berbuat sesuatu.”[16]

Asmaran mengutip Nicholson menjelaskan, istilah fana’ memiliki beberapa tingkatan, aspek dan makna. Semuanya dapat diringkaskan sebagai berikut :

a. Transformasi moral dari jiwa yang dicapai melalaui pengendalian nafsu dan keinginan.

b. Abstraksi mental dan berlakunya pikiran dari seluruh objek persepsi, pemikiran, tindakan dan perasaan; dan dengan mana kemudian memusatkan fikiran tentang Tuhan. Yang dimaksud dengan memikirkan Tuhan adalah memikirkan dan merenunggi sifat-sifat-Nya.

c. Berhentinya pemikiran yang dilandasi kesadaran. Tingkat fana yang tertinggi akan tercapai apabila kesadaran tentanag fana itu sendiri juga hilang. Inilah yang oleh para sufi dikenal “kefanaan dari fana” atau lenyapnya kesadaran tentang tiada (fana’ al-fana’)

Sedangkan Harun Nasution menyebutkan:

الجنون فقلت ...... فعشت به جننى ثم فمتّ بى جننى -

بقاء بك الجنون و فناء بى

“ Ia membuat aku gila pada diriku sehingga aku mati; kemudian Ia membuat aku gila pada-Nya, dan akupun hidup, ………..aku berkata : Gila pada diriku adalah kehancuran dan gila pada-Mu adalah kelanjutan hidup.[17]

Jadi kalau seoarang sufi telah mencapai al-fana’ ‘an al-nafs, yaitu kalau wujud jasmaniah tidak ada lagi yaitu kalau wujud jasmaninya tidak ada lagi (dalam arti tidak disadarinya lagi) maka yang akan tinggal ialah wujud rohaninya dan ketika itu dapatlah ia bersatu dengan Tuhan. Dan kelihatannya persatuan denngan Tuhan ini terjadi langsung setelah tercapainya al-fana’ ‘an al-nafs.

Selanjutnya, tahap terakhir dari fana’ adalah lenyapnya diri secara penuh, yang merupakan bentuk permulaan dari baqa’, yang artinya berkesinambungan di dalam Tuhan.

Dengan demikian jelaslah bahwa dalam faham fana materi manusianya tetap ada dan sama sekali tidak hilang atau hancur, yang hilang hanya kesadaran akan dirinya sebagai manusia. Ia tidak merasakan lagi akan eksistensi jasad kasarnya.

Ketika sedang dalam kondisi fana’, maka tidak ada lagi keinginan selain keinginan kepada Allah SWT. Seperti yang diungkapkan Abu Yazid:

“Setelah aku menyaksikan kesucian hatiku yang terdalam, maka aku mendengar puas dari-Nya. Maka diriku dicap dengan keridhaan-Nya. Mintalah kepada-Ku semua yang kau inginkan, kata-Nya. ’Engkaulah yang aku inginkan,’ jawabku, ‘Karena Engkau lebih utama daripada anugerah, lebih besar daripada kemurahan, dan melalui Engkau aku mendapat kepuasan dalam diri-Mu’..... “ [18]

Kemudian Abu Yazid bermimpi menatap Tuhan. Ia bertanya, “Bagaimana caranya agar aku sampai kepada-Mu?” Tuhan menjawab, “ Tinggalkan diri (nafsu)mu dan kemarilah”

Abu Yazid pernah melontarkan kata fana’ dalam salah satu ucapannya: “Aku tahu pada Tuhan melalui diriku hingga aku fana’, kemudian aku tahu pada-Nya melalui diri-Nya, maka aku pun hidup.”

  1. Baqa’

Berasal dari kata baqiya. Artinya tetap atau kekal.[19] Dalam istilah tasawuf, baqa’ berarti mendirikan sifat-sifat terpuji kepada Allah SWT. Baqa’ tidak bisa dipisahkan dari fana’. Jika seorang sufi menjalani fana’, ketika itu pula ia menjalani baqa’. Dalam menerangkan baqa’, al Qusyairi menyatakan:

“Barangsiapa meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tercela, ia sedang fana’ dari syahwatnya. Tatkala fana’ dari syahwatnya, ia baqa’ dalam niat dan keikhlasan ibadah;... Barangsiapa yang hatinya zuhud dari keduniaan, ia sedang fana’ dari keinginannya, berarti pula sedang baqa’ dalam ketulusan inabahnya....”[20]

  1. Ittihad

Secara etimologi, ittihad berarti persatuan. Dalam kamus sufisme berarti persatuan antara manusia dengan Tuhan. Ittihad adalah tahapan selanjutnya yang dialami para sufi setelah melakukan fana’ dan baqa’. Dalam tahapan ittihad, seorang sufi bersatu dengan Tuhan. Antara yang mencintai dan yang dicintai menyatu. Baik secara substansi maupun perbuatannya. Dengan mengutip A.R. Baidlawi, Harun Nasution memaparkan, dalam ittihad yang dilihat hanya satu wujud, meskpiun ada dua wujud yang berpisah satu dengan yang lain. Karena yang didilihat dan dirasakan hanya satu wujud, maka dalam ittihad bisa terjadi pertukaran antara yang mencintai dan yang dicintai, atau dengan kata lain antara sufi dengan Tuhan. Dalam ittihad, identitas telah hilang, identitas telah menjadi satu. Karena fana’-nya, sufi yang bersangkutan tidak mempunyai kesadaran lagi dan berbicara dengan nama Tuhan.[21]

Faham ittihād ini dalam istilah Abu Yazid disebut tajrîd fana’ fî al-tauhîd, yaitu perpaduan dengan Tuhan tanpa diantarai sesuatu apapun. Ungkapan Abu Yazid tentang peristiwa mi’rajnya berikut ini akan memperjelas pengertian ini. Dia mengatakan :

خلقى ان: يزيد ابا يا لى قال و يديه بين فأقامنى مرة الله رفعنى

ارفعنى و انانيتك والبسنى بوحدانيتك زينى فقلت يروك ان يحبون

ذاك أنت فتكون رأيناك قالوا خلقك رانى اذا حتى أحدبتك الى

هناك أنا أكون ولا

Pada suatu ketika aku dinaikkan ke hadirat Tuhan dan Ia berkata : Abu Yazid makhluk-Ku ingin melihat engkau, Aku Menjawab : Kekasih-Ku, aku tidak ingin melihat mereka. Tetapi jika itulah kehendak-Mu, maka aku tidak berdaya untuk menentang kehendak-Mu. Hiasilah aku dengan keesaan-Mu, sehingga jika makhluk-Mu melihat daku, mereka akan berkata : Telah kami lihat Engkau. Tetapi yang merasa lihat akan aku tidak ada di sana.[22]

Rangkaian ungkapan Abu Yazid ini merupakan ilustrasi proses terjadinya ittihād. Dalam bagian awal ungkapan itu melukiskan alam ma’rifah dan selanjutnya memasuki alam fana’ ‘an nafs sehingga ia berada sangat dekat dengan Tuhan dan akhirnya terjadi perpaduan. Situasi ittihād ini lebih jelas lagi dalam ungkapannya :

و أنت فأنا: فقلت غيرك خلقى كلهم إﻧﻬم يزيد ابا يا: قال

أنت أنا و أنا أنت

Tuhan berkata : semua mereka kecuali engkau adalah makhluk-Ku. Ataupun berkata: Aku adalah Engkau, Engkau adalah aku dan aku adalah Engkau [23]

Selanjutnya Abu Yazid berkata :

فاعبدنى أنا إلا اله لا الله أنا إنى

Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku.[24]

Secara lahiriyah, ungkapan-ungkapan Abu Yazid di atas itu seakan-akan ia mengaku dirinya Tuhan. Akan tetapi bukan demikian maksudnya. Di sini Abu Yazid mengucapkan kata “Aku” bukan sebagai gambaran dari diri Abu Yazid sendiri, tetapi sebagai gambaran Tuhan, karena Abu Yazid telah bersatu dengan diri Tuhan. Dengan kata lain Abu Yazid dalam ittihād berbicara dengan nama Tuhan. Atau lebih tepat lagi Tuhan “berbicara” melalui lidah Abu Yazid. Dalam hal ini Abu Yazid menjelaskan :

فنيت فقد أنا أما بنسانى يتكلم الذى هو لأنه

Sebenarnya Dia berbicara melalui lidahku sedang aku sendiri dalam keadaan fana. [25]

Oleh karena itu sebenarnya Abu Yazid tidak mengaku dirinya sebagai Tuhan. Kata-kata serupa di atas bukan diucapkan oleh Abu Yazid sebagai kata-katanya sendiri, tetapi kata-kata itu diucapkan dalam keadaan ittihād. Hamka menyebutnya sebagai kata-kata Syathahat, artinya kata-kata yang penuh khayal, yang tidak dapat dipegangi dan dikenakan hukum. Karena orang yang sedang berkata pada saat itu sedang mabuk (bukan mabuk karena alkohol). Mabuk oleh fana’-nya, oleh tiada sadar akan diri lagi. Sebab tenggelam dalam lautan tafakkur. Abu Yazid jugalah yang menciptakan suatu istilah dalam tasawuf yang bernama “As-sakar”, yang berarti mabuk. Dan “Al-‘Isyq”, artinya rindu-dendam.[26]

  1. Pro-Kontra Ittihad

Semenjak masanya Abu Yazid pendapat sufi condong kepada kepada konsepsi “kesatuan wujud”. Faham ini muncul sebagai konsepsi lanjut dari pendapat sufi bahwa dunia fenomena ini hanyalah bayangan dari “realita” yang sesungguhnya, yaitu Tuhan. Satu-satunya wujud yang hakiki hanyalah wujud Tuhan, sesuatu yang menjadi dasar bagi adanya segala sesuatu yang ada. Dunia hanyalah bayangan dan khayal, wujudnya tergantung pada wujud Tuhan. Atas dasar pemikiran tentang Tuhan yang demikian itu, mereka berpendapat, bahwa alam ini termasuk manusia merupakan refleksi dari hakikat Ilahi. Dalam diri manusia terdapat unsur ketuhanan karena ia merupakan pancaran Nur Ilahi, seperti pancaran cahaya matahari. Oleh karena itu, jiwa manusia selalu bergerak berusaha untuk bersatu kembali dengan sumber asalnya.

Menurut Abu Yazid, manusia yang pada hakikatnya seesensi dengan Tuhan dapat bersatu dengan Tuhan dapat bersatu dengan-Nya apabila ia mampu melebur eksistensi keberadaannya sebagai suatu pribadi sehingga ia tidak menyadari pribadinya, fana’ ‘an al-nafs.[27] Dengan istilah lain, barang siapa yang mampu menghapuskan kesadaran pribadinya dan mampu membebaskan diri dari alam sekelilingnya, ia akan memperoleh jalan kembali kepada sumber asalnya. Ia akan menyatu padu dengan yang Tunggal, yang dilihat dan dirasakannya hanya satu. Keadaan seperti inilah yang disebut ittihād..

Meski demikian, kontroversi sekitar faham fana’, baqa’ dan ittihād dalam tasawuf terus berkembang hingga sekarang. Ibrahim Madkur seperti yang disebutkan Asmaran melihat bahwa faham ittihād adalah sesuatu yang paling rumit dalam tasawuf Islam, sehingga para pengamat tasawuf dalam menilainya bisa dibagi menjadi dua kelompok: ada yang menerimanya, tetapi juga ada yang menolaknya.[28]

Madkur mengatakan bahwa faham ittihād sebenarnya tidak bersumber dari Islam. Al-Qur’an dengan ungkapan yang tegas, secara mutlak, tidak memberi tempat pada adanya faham ittihād. Namun para pendukungnya tidak kehilangan akal untuk melandasinya dengan ayat al-Qur’an dan hadith Nabi.[29]

Hal senada juga diungkapkan Aboebakar Atjeh. Tidak ada sesuatu petunjuk pun dalam Qur’an yang dengan tegas-tegas menerangkan ada ittihād itu. [30]Ada beberapa ayat Qur’an yang menerangkan keadaan akrabnya Tuhan dengan hamba-Nya, seperti ayat :

ôs)s9ur $uZø)n=yz z`»|¡SM}$# ÞOn=÷ètRur $tB â¨Èqóuqè? ¾ÏmÎ/ ¼çmÝ¡øÿtR ( ß`øtwUur Ü>tø%r& Ïmøs9Î) ô`ÏB È@ö7ym σÍuqø9$# ÇÊÏÈ

16. dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (QS. 50:16)[31]

Selanjutnya Aboebakar Atjeh menyebutkan satu hadith yang berbunyi: ”Mutaqqarribun itu tidaklah dapat mendekati Aku dengan hanya menunaikan segala ibadah yang perlu, yang sudah diwajibkan kepadanya, tetapi seorang hamba-Ku yang senantiasa mengerjakan segala ibadat-ibadat sunnat, dapatlah mendekati Daku, sehinga ia mencintai Daku dan Aku mencintai dia, maka pendengaran-Ku menjadi pendengarannya dan penglihatan-Ku menjadi matanya untuk melihatnya.[32]

Asmaran lebih jauh berpendapat bahwa faham fana’ dalam tasawuf Islam ini berasal dari ajaran Buddhaisme tentang faham nirwana, karena faham nirwana dalam ajaran Buddhaisme ini hampir serupa dengan faham fana’ dalam tasawuf. Untuk mencapai nirwana orang harus meninggalkan dunia dan memasuki hidup kontemplasi.

Ajaran-ajaran non Islam seperti ajaran Buddhaisme ini, masuk ke dalam ajaran Islam seperti dalam tasawuf, adalah akibat logis dari perluasan daerah kekuasaan Islam, pertemuan berbagai suku bangsa, kebudayaan, agama dan kepercayaan di dalam satu wadah pergaulan pemerintahan Islam pasti akan saling mempengaruhi antara yang satu dengan lainnya.

Di sisi lain, Asmaran juga menyebutkan pendapat orientalis AR Nicholson yang mengatakan bahwa konsepsi sufi tentang kefanaan diri adalah dapat dipastikan berasal dari India. Penganjurannya seorang ahli mistik Persi, Bayazid dari Bistam mungkin telah menerima dari gurunya, Abu Ali dari Sind (India).

Tambahan lagi bahwa dalam sejarah, selama ribuan tahun sebelum kemenangan umat Islam Buddhisme pernah memiliki akar yang kuat di kawasan timur Persia dan Bactria, sehingga oleh karenanya hampir dapat dipastikan adanya pengaruh terhadap perkembangan ajaran tasawuf di daerah tersebut.[33]

Keterangan-keterangan yang ada belum memberikan kepastian, karena analisis yang diberikan hanya berupa pemikiran-pemikiran. Terlepas dari maksud untuk menerima atau menolaknya, faham ini bisa saja lahir dari ajaran Islam sendiri, baik dari al-Qur’an ataupun Hadis. Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Rahman ayat 26-27 :

@ä. ô`tB $pköŽn=tæ 5b$sù ÇËÏÈ 4s+ö7tƒur çmô_ur y7În/u rèŒ È@»n=pgø:$# ÏQ#tø.M}$#ur ÇËÐÈ

26. semua yang ada di bumi itu akan binasa.

27. dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.[34]

Dan sabda Rasulullah saw. :

عرفونى فبى الخلق فخلقت أعرف أن فأحببت مخفيا ا كتركنت

Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal, maka Kuciptakanlah makhluk dan melalui Aku merekapun kenal pada-Ku.[35]

Faham yang dibawa Abu Yazid ini tidak terlepas dari pro-kontra yang muncul karena perbedaan penafsiran dalam Al-Qur’a>n. Beberapa kaum sufi yang lain ketika melakukan penolakan juga memaksakan dalam melihat dan menafsirkan ayat atau hadith yang digunakan. Karena ayat atau hadis tersebut dapat mengandung lebih dari satu arti. Orang sufi biasanya mengambil arti batin, arti yang tersirat. Sedangkan orang lain mengambil arti lahir, arti yang tersurat. Mereka menilai tasawuf dengan norma-norma atau nilai-nilai yang berlaku di kalangan mereka, sehingga berkesimpulan bahwa ajaran tasawuf tersebut bertentangan dengan Islam atau tidak bersumber dari ajaran Islam.

Untuk menghindari dari perselisihan verbal dan sikap saling menyalahkan, Asmaran meyitir pendapat William James dalam bukunya The Varieties of Religion Experience. James menyebutkan ada empat karakter khas pengalaman mistis :

1. Tidak bisa diungkapkan. Orang yang mengalaminya mengatakan bahwa pengalaman itu tidak bisa diungkapkan; tidak ada uraian manapun yang memadai untuk bisa mengisahkannya dalam katakata. Ini berarti bahwa kualitas semacam ini harus dialami secara langsung dan tidak bisa diberikan atau dipindahkan kepada orang lain.

2. Kualitas neotik. Meskipun sangat mirip dengan situasi perasaan, bagi orang yang mengalami situasi mistis ini juga adalah situasi berpengetahuan. Dalam situasi ini, orang mendapatkan wawasan tentang kedalaman kebenaran yang tidak bisa digali melalui intelek yang bersifat diskursif. Semua ini merupakan peristiwa pencerahan dan pewahyuan yang penuh dengan makna dan arti yang hanya bisa dirasakan.

3. Situasi transien. Keadaan mistik tidak bisa dipertahankan dalam waktu yang cukup lama. Kecuali pada kesempatan-kesempatan yang jarang terjadi; batas-batas yang bisa dialami seseorang sebelum kemudian pulih kekeadaan biasa adalah sekitar setengah jam, atau paling lama satu atau dua jam.

4. Kefasifan. Datangnya situasi mistik bisa dikondisikan oleh beberapa tindakan pendahuluan yang dilakukan secara sengaja, seperti melakukan pemusatan pikiran, gerakan tubuh tertentu, atau menggunakan cara-cara yang diuraikan dalam pelbagai buku panduan mistisime. Meskipun demikian, saat kesadaran khas yang ada pada situasi ini muncul, sang mistikus merasa bahwa untuk sementara hasratnya menghilang dan ia merasa direngkuh dan dikuasai oleh suatu kekuatan yang lebih tinggi [36]


BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Abu Yazid al- Bustami adalah pencetus dari fana’, baqa’ dan ittihad. Fana ‘ dan baqa’ merupakan dua hal yang tidak terpisah dalam pencapaian ittihad. Dengan kata lain, ittihad akan bisa tercapai setelah melewati fana’ dan baqa’.

Fana’ yang dimaksudkan disini ialah hilangnya kesadaran akan wujud dirinya (al-fana ‘an nafs ) dan wujud alam sekelilingnya (al-fana ‘an al-Khaluq) hingga ia (sufi) tidak tahu bahwa dirinya dalam keadan fana’ (al-fana ‘an Allah). Kerena seluruh aktivitas dan kesadarannya terkonsentrasi pada Allah. Ia larut dalam kesadaran Allah (al-fana fi Allah) dan akhirnya pada saat itu yang ada dalam perasaannya hanyalah Allah (al-baqa’ bi Allah).

Dalam keadaan demikian ia merasa dirinya telah bersatu dengan Allah (ittihad). Meski demikian ittihad sebagai pengalaman sufistik haruslah dikaji. Ittihad memiliki beberapa ciri yang harus diperhatikan oleh pengkajian tasawuf sehingga pro-kontra seputar terjadinya ittihad bisa diminimalisasi.

Adapun ciri-ciri pengalaman sufistik diantaranya:

1. tidak bisa diungkap kepada orang yang belum mampu atau belum siap menerimanya.

2. memberikan pencerahan dan kesadaran baru yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan nalar intelek.

3. pengalaman seperti itu hanya terjadi sebentar, paling lama hanya berlangsung dua jam.

4. terjadi kepasifan total, perasaannya butuh ke dalam kesadaran terhadap sesuatu yang menguasai dirinya.

Pengalaman mistik tertinggi akan mengahasilkan situasi kejiwaan yang disebut ekstase. Dalam khazanah kaum sufi’, ekstase sering dilukiskan sebagai keadaan mabuk kepayang oleh minuman kebenaran (al-Haqq) yang memabukkan. Bahkan untuk mereka minuman yang memabukkan itu tidak lain ialah apa yang mereka namakan dlamir al-sya’n, yaitu kata “an” yang berarti “bahwa” dalam kalimat syahadath pertama asyhadu al lailaha illa Allah (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah). Pelukisan ini untuk menunjukkan betapa intensenya mereka menghayati tauhid, sehingga mereka tidak menyadari apapun yang lain selain Dia yang Maha Ada.


DAFTAR PUSTAKA

’Aththar (Al), Faridudin, Warisan Para Auliya’, Bandung: Pustaka, 1983.

Anwar, Rosihon, Akhlak Tasawuf, Bandung: Pustaka Setia, 2010.

As, Asmaran, Makalah: Mengkaji Ulang Ajaran Tasawuf Ittihad Abu Yazid Al Bustami, tanpa tahun.

Atjeh, Aboebakar, Pengantar Sejarah Sufi & Tasawuf, Solo: Ramadhani, 1984.

Darmawan, Yatno, Tasawuf Islam, Surabaya: Pustakamas, 2011.

Departemen Agama, Al Quran dan Terjemahnya, Semarang: CV. As Syfa, 2004.

Hamka, Tasauf: Perkembangan dan Pemurniannya, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984.

Nasution, Harun, Filsafat & Mistisisme dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1973.

_____________, Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran, Bandung: Mizan, 1995.

Sulistri, Munib Hr, Memahami Kata dan Istilah Agama, Surabaya: Darussagaff, 1985.

Team Penyusun Naskah, Pengantar Ilmu Tasawuf, Proyek Binperta IAIN Sumatera Utara: 1981/1982.



[1] Harun Nasution, Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran (Bandung: Mizan, 1995), 360.

[2] Ada yang mengartikan maqam sebagai suatu nilai etika yang diperjuangkan dan diwujudkan dengan melalui beberapa tingkatan mujahadah secara gradual. Lebih lengkapnya lihat Yatno Darmawan, Tasawuf Islam (Surabaya: Pustakamas, 2011), 41.

[3] Harun Nasution menyebutkan fana’ dan baqa’ merupakan kembar dua. Tidak banyak perbedaan diantara keduanya. Lihat Harun Nasution, Islam Rasional, halaman 362.

[4] Rosihon Anwar, Akhlak Tasawuf (Bandung: Pustaka Setia, 2010), 230.

[5] Ada versi lain yang menyebutkan ia lahir tahun 874M seperti yg ditulis Rosihon Anwar dalam Akhlak Tasawuf.

[6] Faridudin Al-’Aththar, Warisan Para Auliya’ (Bandung: Pustaka, 1983), 128.

[7] Ibid, hal. 129.

[8] Rosihon, Akhlak Tasawuf, 265

[9] Asmaran As, Makalah: Mengkaji Ulang Ajaran Tasawuf Ittihad Abu Yazid Al Bustami.

[10] Aboebakar Atjeh, Pengantar Sejarah Sufi & Tasawuf (Solo: Ramadhani, 1984), 259.

[11] Ibid, 169.

[12] Munib Hr Sulistri, Memahami Kata dan Istilah Agama (Surabaya: Darussagaff, 1985),34.

[13] Departemen Agama, Al Quran dan Terjemahnya (Semarang:CV. As Syfa, 2004), 352-353.

[14] Yatno, Tasawuf Islam, 76-77.

[15] Harun Nasution, Filsafat & Mistisisme dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), 80.

[16] Rosihon, Akhlak Tasawuf, 266.

[17] Harun Nasution, Filsafat, 81

[18] Ibid.

[19] Munib, Memahami..., 30.

[20] Rosihon, Akhlak..., 267.

[21] Harun Nasution, Filsafat..., 79.

[22] Aboebakar Atjeh, Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf (Solo: Ramadhani, 1984), 136.

[23] Harun Nasution, Filsafat..., 85.

[24] Ibid, 86.

[25] Ibid.

[26] Hamka, Tasauf: Perkembangan dan Pemurniannya (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984), 104.

[27] Team Penyusun Naskah, Pengantar Ilmu Tasawuf (Proyek Binperta IAIN Sumatera Utara: 1981/1982), 160.

[28] Asmaran, Makalah. 11.

[29] Ibid.

[30] Aboebakar Atjeh, Pengantar ...., 137

[31] Departemen Agama RI, Al Quran dan Terjemahnya (Semarang:CV. As Syifa, 2004), 852.

[32] Aboebakar Atjeh, Pengantar, 137

[33] Asmaran, Makalah, 13

[34] Departemen, Al Quran..., 886.

[35] Harun Nasution, Filsafat...., 61.

[36] Asmaran, Makalah, 18.