Mengkaji tentang Islam akan lebih sempurna bila
kita mengkaji Arab pra-Islam terlebih dahulu. Karena, Islam lahir di tengah-tengah masyarakat Arab
yang sudah mempunyai adat istiadat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Apalagi ia muncul di kota terpenting bagi mereka yang menjadi jalur penting
bagi lalu lintas perdagangan mereka kala itu. Islam dibawa oleh Muhammad yang merupakan salah satu
keturunan suku terhormat dan memiliki kedudukan terpandang di antara mereka
secara turun-temurun dalam beberapa generasi, Quraysh. Quraysh adalah suku
penguasa di atas suku-suku lainnya di Mekah, sebuah kota yang di dalamnya
terdapat bangunan suci tua yang memiliki daya tarik yang melebihi tempat-tempat
pemujaan lainnya di daerah Arab.
Sebagian
penulis sejarah Islam biasanya membahas Arab Pra-Islam sebelum menulis sejarah
Islam pada masa Muhammad (570-632 M) dan sesudahnya. Mereka menggambarkan
runtutan sejarah yang saling terkait satu sama lain yang dapat memberikan
informasi lebih komprehensif tentang Arab dan Islam tentang geografi, sosial,
budaya, agama, ekonomi, dan politik Arab pra-Islam dan relasi serta pengaruhnya
terhadap watak orang Arab dan doktrin Islam. Kajian semacam ini memerlukan
waktu dan referensi yang tidak sedikit, bahkan hasilnya bisa menjadi sebuah
buku tersendiri yang berjilid-jilid. Oleh karena itu, kita hanya akan
mencukupkan diri pada pembahasan data-data sejarah yang lebih familiar dan
gampang diakses mengenai hal itu.
Untuk
melacak asal-usul orang Arab, mereka
merunut jauh ke belakang yaitu pada sosok Ibrahim dan keturunannya yang
merupakan keturunan Sam bin Nuh, nenek moyang orang Arab.[1] Secara
geneaologis, para sejarahwan membagi orang Arab menjadi Arab Baydah dan Arab
Bāqiyah. Arab Baydah adalah orang Arab yang kini tidak ada lagi dan musnah. Di
antaranya adalah ‘Ad, Thamud, Ṭasm, Jadis, Aṣhab al-Ras, dan Madyan. Arab
Bāqiyah adalah orang Arab yang hingga saat ini masih ada. Mereka adalah Bani
Qaḥṭān dan Bani ‘Adnān. Bani Qaḥṭān adalah orang-orang Arab ‘Áribah (orang Arab
asli) dan tempat mereka di Jazirah Arab. Di antara mereka adalah raja-raja
Yaman, Munadharah, Ghassan, dan raja-raja Kindah. Di antara mereka juga ada
Azad yang darinya muncul Aus dan Khazraj. Sedangkan Bani ‘Adnān, mereka adalah
orang-orang Arab Musta’ribah, yakni orang-orang Arab yang mengambil bahasa Arab
sebagai bahasa mereka. Mereka adalah orang-orang Arab bagian utara. Sedangkan
tempat asli mereka adalah Mekah. Mereka adalah anak keturunan Nabi Isma’il bin
Ibrahim. Salah satu anak Nabi Isma’il yang paling menonjol adalah ‘Adnān.
Muhammad adalah keturunan ‘Adnān. Dengan demikian beliau adalah keturunan
Isma’il.[2] Menurut
Ibnu Hishām (w. 218 H), semua orang Arab adalah keturunan Isma’il dan Qaḥṭān.
Tetapi menurut sebagian orang Yaman, Qaḥṭān adalah keturunan Isma’il dan
Isma’il adalah bapak semua orang Arab.[3]
A. Geografis Arab
Jazirah Arab terletak di bagian barat daya Benua Asia.
Daratan ini dilingkupi oleh laut dari 3 sisinya, yaitu: Laut Merah, Lautan
Hindia, Laut Arab, Teluk Oman dan Teluk Persia. Kendatipun tanah Arab ini lebih
tepat disebut semenanjung, namun bangsa Arab menyebutnya jazirah atau pulau.
Jadi jazirah Arab artinya Pulau Arab.[4] Para
ahli geologi mengatakan bahwa wilayah itu pada awalnya merupakan bagian yang
tak terpisahkan dari dataran Sahara (kini dipisahkan oleh lembah Nil dan Laut
Merah) dan kawasan berpasir yang menyambungkan Asia melalui Persia bagian
tengah ke Gurun Gobi.[5]
Sebenarnya, Jazirah Arab bukanlah satu-satunya tempat
tinggal bangsa Arab, sebab mereka juga menghuni daerah-daerah lain di
sekitarnya. Akan tetapi, karena jazirah Arab merupakan tempat tinggal pertama
bangsa Arab, dan di jazirah ini pula sebagian besar mereka dahulu pernah
bertempat tinggal. Maka kepada merekalah jazirah ini dikaitkan. Philip K. Hitti
menyebut bangsa Arab sebagai Ras Semit, yang kemudian memunculkan tradisi
Yahudi, kemudian Kristen dan terakhir adalah Islam.[6]
Menurut Noeldeke dalam bukunya Historian History of The World, kata Arab
atau Arabia artinya padang pasir. Dinamakan jazirah Arab karena sebagian besar
wilayah ini adalah padang pasir. Namun menurut Muhammad Hasyim ‘Athiyah, kata Arab
berasal dari kata ‘abar yang artinya kembara. Penduduk jazirah ini dinamakan
bangsa Arab karena mereka bangsa pengembara yang suka berpindah-pindah dari
satu tempat ke tempat yang lain.[7]
Orang Arab membedakan padang pasir atas 2 macam. Yaitu
badiah dan shahra. Badiah adalah padang pasir yang bisa dihuni sedangkah shahra
belum tentu bisa dihuni dan menunjuk pengertian yang lebih umum daripada
badiah. Setiap badiah berarti shahra, namun tidak semua shahra adalah badiah.
Oleh karena itu penghuni padang pasir disebut sebagai badwi. Sebutan ini
dinisbatkan kepada badiah tempat mereka bergelut dalam kehidupan.
Dari segi pemukimannya bangsa Arab dapat di bedakan menjadi dua
bagian yaitu kaum al-Badwi dan kaum al-Had}ar. [8] Kaum
al-Badwi adalah penduduk padang pasir. Mereka tidak memiliki tempat
tinggal yang tetap, tetapi hidup secara nomaden, berpindah-pindah dari satu
tempat ketempat yang lain untuk mencari sumber mata air dan padang rumput. Mata
penghidupan mereka adalah berternak kambing, biri biri, dan unta. Mereka sering
kali mengelari binatang ternak mereka dengan nama “Safi>nat
al-S}ah}a>’”(bahtera padang pasir), karena mereka menganggap semua binatang
tersebut adalah suatu yang terpenting bagi
mereka. Kehidupan masyarakat al-Badwi yang nomaden tidak banyak
peluang untuk membangun peradaban. Oleh karena itu, sejarah mereka tidak
diketahui dengan tepat dan jelas. Sejarah mereka hanya dapat diketahui dari
masa kira-kira 150 tahun agama Islam diperoleh melalui sha’ir-sha’ir yang
beredar dikalangan para perawi sha’ir pada masa itu.[9]
Kaum al-Had}ar
adalah penduduk yang sudah tempat tinggal tetap di kota-kota dan
daerah-daerah yang subur. Mereka hidup dengan berdagang, bercocok tanam dan
industry sangat berbeda sekali dengan kaum al-Badwi. Sehingga sejarah
mereka bisa diketahui lebih jelas.
Sedangkan
Syalabi menyebutkan bahwa bangsa arab terbagi menjadi 2 Bagian yaitu: [10]
1.
Bagian
utara di sebut “Najed”
Daerah ini memilki tanah yang keras dimana mereka tidak bisa
bercocok tanam karena air tidak bisa masuk ke tanah. Arab utara dianggap
sebagai wilayah yang memiliki gurun pasir yang sangat luas, satu pertiga dari
daerah tersebut merupakan gurun pasir. Gurun terbesar adalah al-Dahna yang
terletak di tengah bagian selatan Arab[11]
2.
Bagian
selatan di sebut “al-Ah}qa>f”
Daerah ini memiliki tanah yang cepat menyerap air sehingga mereka
mudah bercocok tanam sehingga daerahnya subur akan tetapi warga penduduknya
sangat sedikit. Oleh karena itu, daerah ini disebut dengan al-Rab’u
al-Kha>ly (tempat
yang sunyi/kosong).
Dari
kondisi cuaca, Arab merupakan salah satu daerah terpanas dan terkering.
Betapapun Arab ini diapit oleh lautan akan tetapi hal ini tidak banyak mempengaruhi
curah hujan, lautan di sebelah selatan yang membawa partikel hujan disapu oleh
badai gurun sehingga hanya menyisakan sedikit kelembapan di wilayah daratan[12]
sehingga konsekuensinya musin kering berlangsung lebih lama. Akan tetapi
sekalipun turunnya hujan dapat dikatakan sangat jarang, di daerah yang memiliki
simpanan air menjadi daerah yang luar biasa subur sehingga masyarakat setempat
dapat memroduksi kopi, buah buahan dan lain sebagainya. Salah satunya adalah
negeri Yaman[13].
B. Agama Bangsa Arab
Ahli-ahli
sejarah agama berpendapat bahwa manusia itu menurut watak/nalurinya suka
beragama dan suka memikirkan Allah. Oleh karena itu, kalau dalam masyarakat
kedapatan oknum-oknum atau kelompok-kelompok manusia yang memungkiri adanya
tuhan atau berusaha memberantas agama, hal itu berarti bahwa mereka melawan
naluri yang ada pada diri mereka sendiri.[14]
Sebelum datangnya Islam, bangsa Arab bukanlah bangsa baru, tetapi
bangsa yang diwarnai berbagai macam agama dan kepercayaan dan mitos-mitos yang
dianut oleh nenek moyang mereka seperti kepercayaan pagan (watsaniyah), percaya pada dewa yang berkuasa atas segalanya,
percaya azimat yang dapat menangkal kejahatan seperti sihir, percaya bahwa Jin
dianggap sebagai “partner” tuhan dalam mengontrol dunia, percaya kepada
malaikat (angel) dianggap sebagai
anak tuhan dan menyembah benda-benda langit sepert suku Himyar yang menyembah matahari, suku Kinana yang
menyembah bulan.
Mayoritas bangsa Arab menyembah berhala, kecuali sebagian kecil
penganut agama yahudi dan nasrani. Setiap kabilah memiliki patung
sendiri, sehingga tidak kurang dari 360 patung bertengger di ka’bah yang suci
itu. Ada empat patung yang terkenal yaitu Lata, ‘Uzza[15],
Manah dan Hubal. Diantara berhala berhala terpenting yang disembah oleh bangsa Arab ialah
Hubal. Hubal ini berwarna merah dan berbentuk manusia. Berhala lain yang berkedudukan dibawah Hubal adalah ‘Uzza,
yang bertempat di Hijaz. Kemudian “Lata” yang tempatnya di Thaif dan yang menurut mereka Lata ini adalah
berhala yang paling tua selanjutnya “Manah” berada di Madinah dan ia dimuliakan
oleh penduduk Yatsrib.
Setidaknya
ada empat sebutan bagi berhala-hala itu: ṣanam, wathan, nuṣub, dan ḥubal. Ṣanam
berbentuk manusia dibuat dari logam atau kayu. Wathan juga dibuat dari batu.
Nuṣub adalah batu karang tanpa suatu bentuk tertentu. Ḥubal berbentuk manusia
yang dibuat dari batu akik. Dialah dewa orang Arab yang paling besar dan
diletakkan dalam Ka’bah di Mekah. Orang-orang dari semua penjuru jazirah datang
berziarah ke tempat itu. Beberapa kabilah melakukan cara-cara ibadahnya
sendiri-sendiri. Ini membuktikan bahwa paganisme sudah berumur ribuan tahun.
Sejak berabad-abad penyembahan patung berhala tetap tidak terusik, baik pada
masa kehadiran permukiman Yahudi maupun upaya-upaya kristenisasi yang muncul di
Syiria dan Mesir.[16]
Yahudi
dianut oleh para imigran yang bermukim di Yathrib dan Yaman. Tidak banyak data
sejarah tentang pemeluk dan kejadian penting agama ini di Jazirah Arab, kecuali
di Yaman. Dzū Nuwās adalah seorang penguasa Yaman yang condong ke Yahudi. Dia
tidak menyukai penyembahan berhala yang telah menimpa bangsanya. Dia meminta
penduduk Najran agar masuk agama Yahudi, kalau tidak akan dibunuh. Karena
mereka menolak, maka digalilah sebuah parit dan dipasang api di dalamnya.
Mereka dimasukkan ke dalam parit itu dan yang tidak mati karena api, dibunuh
dengan pedang atau dibuat cacat. Korban pembunuhan itu mencapai dua puluh ribu
orang. Tragedi berdarah dengan motif fanatisme agama ini diabadikan dalam
al-Quran dalam kisah “orang-orang yang membuat parit”.[17]
Adapun
Kristen di Jazirah Arab dan sekitarnya sebelum kedatangan Islam tidak ternodai
oleh tragedi yang mengerikan semacam itu. Yang ada adalah pertikaian di antara
sekte-sekte Kristen yang meruncing. Menurut Muḥammad ‘Ᾱbid al-Jābirī, al-Quran
menggunakan istilah “Naṣārā” bukan “al-Masīḥīyah” dan “al-Masīḥī” bagi pemeluk
agama Kristen. Bagi pendeta Kristen resmi (Katolik, Ortodoks, dan Evangelis)
istilah “Naṣārā” adalah sekte sesat, tetapi bagi ulama Islam mereka adalah
“Ḥawārīyūn”. Para misionaris Kristen menyebarkan doktrinnya dengan bahasa
Yunani yang waktu itu madhhab-madhhab filsafat dan aliran-aliran gnostik dan
hermes menyerbu daerah itu. Inilah yang menimbulkan pertentangan antara
misionaris dan pemikir Yunani yang memunculkan usaha-usaha mendamaikan antara
filsafat Yunani yang bertumpu pada akal dan doktrin Kristen yang bertumpu pada
iman. Inilah yang melahirkan sekte-sekte Kristen yang kemudian menyebar ke
berbagai penjuru, termasuk Jazirah Arab dan sekitarnya. Sekte Arius menyebar di
bagian selatan Jazirah Arab, yaitu dari Suria dan Palestina ke Irak dan Persia.
Misionaris sekte ini telah menjelajahi penjuru-penjuru Jazirah Arab yang
memastikan bahwa dakwah mereka telah sampai di Mekah, baik melalui misionaris
atau pedagang Quraysh yang mana mereka berhubungan terus-menerus dengan Syam,
Yaman, da Ḥabashah. Tetapi salah satu sekte yang sejalan dengan tauhid murni
agama samawi adalah sekte Ebionestes.[18]
Salah
satu corak beragama yang ada sebelum Islam datang selain tiga agama di atas
adalah Ḥanīfīyah, yaitu sekelompok orang yang mencari agama Ibrahim yang murni
yang tidak terkontaminasi oleh nafsu penyembahan berhala-berhala, juga tidak
menganut agama Yahudi ataupun Kristen, tetapi mengakui keesaan Allah. Mereka
berpandangan bahwa agama yang benar di sisi Allah adalah Ḥanīfīyah, sebagai
aktualisasi dari millah Ibrahim. Gerakan ini menyebar luas ke pelbagai penjuru
Jazirah Arab khususnya di tiga wilayah Hijaz, yaitu Yathrib, Ṭaif, dan Mekah.
Di antara mereka adalah Rāhib Abū ‘Ámir, Umayah bin Abī al-Ṣalt, Zayd bin ‘Amr
bin Nufayl, Waraqah bin Nawfal, ‘Ubaydullah bin Jaḥsh, Ka’ab bin Lu`ay, ‘Abd
al-Muṭallib, ‘As’ad Abū Karb al-Ḥamīrī, Zuhayr bin Abū Salma, ‘Uthmān bin
al-Ḥuwayrith.[19]
Tradisi-tradisi
warisan mereka yang kemudian diadopsi Islam adalah: penolakan untuk menyembah
berhala, keengganan untuk berpartisipasi dalam perayaan-perayaan untuk
menghormati berhala-berhala, pengharaman binatang sembelihan yang dikorbankan
untuk berhala-berhala dan penolakan untuk memakan dagingnya, pengharaman riba,
pengharaman meminum arak dan penerapan vonis hukuman bagi peminumnya,
pengharaman zina dan penerapan vonis hukuman bagi pelakunya, berdiam diri di
gua hira sebagai ritual ibadah di bulan ramaḍan dengan memperbanyak kebajikan
dan menjamu orang miskin sepanjang bulan ramaḍan, pemotongan tangan pelaku
pencurian, pengharaman memakan bangkai, darah, dan daging babi, dan larangan
mengubur hidup-hidup anak perempuan dan pemikulan beban-beban pendidikan
mereka.
Berhala berhala ini dijadikan sebagai keluarga atau agen Tuhan.
Orang-orang Arab pra-Islam sejatinya sudah mengenal Allah jauh sebelum Islam
datang akan tetapi konsep Allah dalam masyarakat ini tentu sangat berbeda
dengan yang ada atau diyakini dalam agama Islam. Pada komunitas
Arab Allah memiliki mempunyai keluarga, sementara Allah dalam agama Islam
adalah zat Yang Maha Esa.[20]
Patung-patung
tersebut berbentuk s}ana>m dalam bentuk manusia yang terbuat dari logam atau kayu, wathan terbuat dari batu[21]
dan nus}ub terbuat dari batu karang tanpa bentuk tertentu ia
dimiliki oleh kabilah Quraish[22].
Sebenarnya
mereka percaya kepada Allah sebagai pencipta, pengatur dan penguasa alam
semesta, Mereka menyembah patung dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah
SWT. Disebutkan dalam al-Qur’a>n[23]
…… 4 úïÏ%©!$#ur (#räsªB$# ÆÏB ÿ¾ÏmÏRrß uä!$uÏ9÷rr& $tB öNèdßç6÷ètR wÎ) !$tRqç/Ìhs)ãÏ9 n<Î) «!$# #s"ø9ã ………….
Artinya: dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah
(berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka
mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya".(QS.Az Zumar:3)
C. Kehidupan Sosial Bangsa Arab
Masyarakat Arab sebagaimana umumnya, memiliki sistem kehidupan
sosial yang unik, yang berbeda dengan masyarakat lainnya. Baik dari perkawinan, kekeluargaan dan adat istiadat.
Mereka sesungguhnya masyarakat yang memiliki banyak sisi positif seperti
dermawan, pemberani, setia, ramah, sederhana, pandai bersyair[24]
dan memiliki ingatan yang kuat. Akan tetapi kemerosotan moral, kejahatan,
kemusyrikan, ketidakadilan dan fanatisme suku mampu menenggelamkan jati diri
mereka. Sehingga kehidupan mereka oleh ahli sejarah menyebutnya zaman
jahiliyah.[25]
Zaman jahiliah terbagi menjadi 2 periode. Jahiliah pertama yaitu mempunyai masa
yang sangat panjang tetapi tidak banyak bisa diketahui karena penduduknya sudah
lenyap. Jahiliah
kedua yaitu jahiliah yang mempunyai sejarah yang jelas yang muncul sekita 150
tahun sebelum Islam.
Hubungan masyarakat sehari-hari sangat akrab pada kabilah mereka
sendiri karena menganggap masih kerabat sendiri, berbeda dengan antar kabilah.
Interaksi antar kabilah tidak memiliki kesetaraan. yang kuat selalu ingin
menindih dan meremehkan yang lemah. Rumah-rumah Quraish sebagai suku penguasa
membangun rumah paling dekat dengan Ka’bah lalu di belakang mereka rumah
kabilah yang agak kurang penting kedudukannya selanjutnya diikuti oleh kaum
yang lebih rendah derajatnya sampai ke lokasi tempat tinggal kaum budak dan
kaum gelandangan yang mata pencahariannya tidak menentu. [26]
Nasib perempuan
pada masa itu merupakan nasib yang tidak berharga. Karena perempuan harus rela untuk dijadikan sebagai gundik-gundik
penguasa mereka dipaksa bahkan sampai mati. Mereka mengawini perempuan
sebanyak-banyaknya tanpa mahar dan mereka sangat marah kalau yang lahir itu anak perempuan. Ketika
perempuan dalam keadaan haid, mereka tidak diperkenankan untuk tidur dalam satu
rumah bersama keluarganya dan mereka harus tidur di kandang bagian belakang
rumahnya karena dianggap kotor. Perempuan juga tidak diperbolehkan untuk tampil
ke permukaan publik sebagaimana laki-laki karena dianggap tidak memiliki
kapabilitas (keterampilan) yang layak untuk ditampilkan ke khalayak seperti
untuk memimpin perang maupun mencari nafkah.[27]
Problem lain yang tidak kalah memprihatinkan
adalah perbudakan (slavery). Sistem
perbudakan yang berlaku dan berkembang di kalangan Arab adalah memberlakukan
budak yang dimiliki tidak selayaknya manusia, mereka bisa dipekerjakan
sekehendak hati majikan, diperjual belikan serta dapat ditukar dengan barang
sebagaimana layaknya mekanisme jual beli barter.
D. Aspek Politik dan Pemerintahan
Masyarakat Arab pra-Islam tidak mengenal kepemimpinan sentral.
Kepemimpinan politik mereka didasarkan pada suku-suku maupun kabilah-kabilah
yang tujuannya hanya untuk mempertahankan diri dari serangan suku yang lain.
Sentral pemerintahan menyebabkan suku-suku ini selalu berada pada situasi
konflik dan konflik ini dapat berlangsung sampai bertahun tahun bahkan ada yang
sampai beberapa decade.[28]
Serangan dan peperangan merupakan sesuatu yang biasa terjadi dalam kehidupan
sehari-hari mereka, hal ini juga disebabkan tidak adanya sistem hukum yang binding (bersifat mengikat) terhadap
semua kabilah atau suku yang ada. Dalam konteks ini “Might is Right” atau “Kekuatan adalah kebenaran” yang menjadi
justifikasi mereka.
Ikatan kesukuan ini dibentuk berdasarkan hubungan nasab (sedarah), perkawinan, suaka
politik ataupun karena sumpah setia.[29]
Awalnya berasal dari unit masyarakat yang kecil yaitu keluarga, Sejumlah
keluarga yang sedarah secara bersama-sama membentuk suku (qabilah).[30] Masing-masing
suku memiliki pemimpin (leader) yang
biasanya disebut dengan Syeikh dan ia
dipilih karena dianggap tertua diantara anggota suku tersebut.
Ikatan kesukuan ini sangat kuat dalam diri anggotanya, ia tidak
hanya merupakan ikatan kekeluargaan tetapi juga memiliki ikatan politik. Ketika
salah satu anggota suku bermasalah dengan anggota suku yang lain, ini akan
menjadi masalah suku-suku tersebut secara keseluruhan.
Dinegeri-negeri
Jazirah Arab telah berdiri beberapa kerajaan yang terbagi menjadi dua macam
yaitu[31]:
1.
Kerajaan yang berdaulat tetapi tunduk pada kerajaan lain (mendapat
otonomi dalam negeri).
2.
Kerajaan tidak berdaulat, tetapi mempunyai kemerdekaan penuh. Ia juga
mempunyai apa yang dipunyai oleh kerajaan yang berdaulat.
1.
Kerajaan Makyam yaitu kerajaan ini berada
diselatan Arab yaitu di daerah Yaman.
2.
Kerajaan Saba', kerajaan ini juga berdiri
didaerah Yaman. Pada waktu itu kerajaan Saba' ini menggantikan kerajaan Makyam.
Kerajan Saba' mulai berdiri tahun 950 SM. Mula berdirinya merupakan satu
kerajaan kecil saja, kemudian bertambah besar dan luas. Sementara kerajan
Makyam dan Quthban semakin kecil dan lemah, sampai akhirnya roboh. Kerajaan Saba'
berdiri sampai tahuhn 115 SM.
3.
Kerajaan Himyar, berdiri mulai Kerajaan Saba'
mulai lemah. Kelemahan kerajaan Saba' memberi kesempatan bagi kerajaan Himyar
untuk tumbuh dan berkembang dengan pesat hingga akhirnya kerajaan Himyar dapat
menguasai kerajaan Saba'.
4.
Kerajaan Hirah, sejarah Hirah ini mulai sejak
abad 111 M. dan terus berdiri sampai lahirnya Islam. Kerajaan ini telah berjasa
juga terhadap kebudayaan Arab, karena warga negaranya, banyak mengadakan
perjalanan-perjalanan diseluruh jazirah Arab terutama untuk berniaga, dalam
pada itu mereka juga menyiarkan kepandaian menulis dan membaca. Karena itu
mereka dapat dianggap sebagai pennyiar ilmu pengetahuan di jazirah Arab.
5.
Kerajaan
Ghassan, nama Ghassan itu berasal dari mata air di Syam yang disebut " Ghassan".
Kaum Ghassan memerintah dibagian selatan dari negeri Syam dan dibagian utara
dari jazirah Arab. Mereka telah mempunyai kebudayaan yang tinggi, dan menganut
agama Masehi yang diterimanya dari bangsa Romawi dan merekalah yang memasukkan
agama Masehi itu ke jazirah Arab.
E. Keadaan Ekonomi dan
Budaya
Sebagai
lalu lintas perdagangan penting terutama Mekah yang merupakan pusat perdagangan
di Jazirah Arab. Baik
karena meluasnya pengaruh perdagangannya ke Persia dan Bizantium di sebelah
selatan dan Yaman di sebelah utara atau karena pasar-pasar perdagangannya yang
merupakan yang terpenting di Jazirah Arab karena begitu banyaknya. Pasar-pasar itu diantaranya Ukāẓ,
Majnah, dan Dzū al-Majāz yang menjadikannya kaya dan tempat bertemunya
aliran-aliran kebudayaan. Mekah merupakan pusat peradaban kecil. Bahkan masa
Jahiliah bukan masa kebodohan dan kemunduran seperti ilustrasi para sejarahwan,
tetapi ia merupakan masa-masa peradaban tinggi. Kebudayaan sebelah utara sudah
ada sejak seribu tahun sebelum masehi. Bila peradaban di suatu tempat melemah,
maka ia kuat di tempat yang lain. Ma’īn yang mempunyai hubungan dengan Wādī
al-Rāfidīn dan Syam, Saba` (955-115 SM), Anbāṭ (400-105 SM) yang mempunyai
hubungan erat dengan kebudayaan Helenisme, Tadmur yang mempunyai hubungan
dengan kebudayaan Persia dan Bizantium, Ḥimyar, al-Munādharah sekutu Persia,
Ghassan sekutu Rumawi, dan penduduk Mekah yang berhubungan dengan
bermacam-macam penjuru.[33]
Fakta di
atas menunjukkan bahwa pengertian Jahiliah yang tersebar luas di antara kita
perlu diluruskan agar tidak terulang kembali salah pengertian. Pengertian yang
tepat untuk masa Jahiliah bukanlah masa kebodohan dan kemunduran, tetapi masa
yang tidak mengenal agama tauhid yang menyebabkan minimnya moralitas.
Pencapaian mereka membuktikan luasnya interaksi dan wawasan mereka kala itu,
seperti bendungan Ma’rib yang dibangun oleh kerajaan Saba`, bangunan-bangunan
megah kerajaan Ḥimyar, ilmu politik dan ekonomi yang terwujud dalam eksistensi
kerajaan dan perdagangan, dan syi’ir-syi’ir Arab yang menggugah. Sebagian
syi’ir terbaik mereka dipajang di Ka’bah. Memang persoalan apakah orang Arab
bisa menulis atau membaca masih diperdebatkan. Tetapi fakta tersebut
menunjukkan adanya orang yang bisa mambaca dan menulis, meski tidak semuanya.
Mereka mengadu ketangkasan dalam berpuisi, bahkan hingga Islam datang tradisi
ini tetap ada. Bahkan al-Quran diturunkan untuk menantang mereka membuat
seindah mungkin kalimat Arab yang menunjukkan bahwa kelebihan mereka dalam
bidang sastra bukan main-main, karena tidak mungkin suautu mukjizat ada kecuali
untuk membungkam hal-hal yang dianggap luar biasa.[34]
F.
Kehidupan
Ekonomi
Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa
sebagian besar daerah Arab adalah daerah gersang dan tandus, kecuali daerah
Yaman yang terkenal subur dan bahwa ia terletak di daerah strategis sebagai
lalu lintas perdagangan. Ia terletak di tengah-tengah dunia dan jalur-jalur
perdagangan dunia, terutama jalur-jalur yang menghubungkan Timur Jauh dan India
dengan Timur Tengah melalui jalur darat yaitu dengan jalur melalui Asia Tengah
ke Iran, Irak lalu ke laut tengah, sedangkan melalui jalur laut yaitu dengan
jalur Melayu dan sekitar India ke teluk Arab atau sekitar Jazirah ke laut merah
atau Yaman yang berakhir di Syam atau Mesir. Oleh karena itu, perdagangan
merupakan andalan bagi kehidupan perekonomian bagi mayoritas negara-negara di
daerah-daerah ini.
Ditambah
lagi dengan kenyataan luasnya daerah di tengah Jazirah Arab, bengisnya alam,
sulitnya transportasi, dan merajalelanya badui yang merupakan faktor-faktor
penghalang bagi terbentuknya sebuah negara kesatuan dan menggagalkan tatanan
politik yang benar. Mereka tidak mungkin menetap. Mereka hanya bisa loyal ke
kabilahnya. Oleh karena itu, mereka tidak akan tunduk ke sebuah kekuatan
politik di luar kabilahnya yang menjadikan mereka tidak mengenal konsep negara.
Kondisi semacam ini sangat mempengaruhi corak perekonomian orang Arab pra-Islam
yang sangat bergantung pada perdagangan daripada peternakan apalagi pertanian.
Mereka dikenal sebagai pengembara dan pedagang tangguh. Mereka juga sudah
mengetahui jalan-jalan yang bisa dilalui untuk bepergian jauh ke negeri-negeri
tetangga.
Adalah
Hāshim (lahir 464 M), kakek buyut Nabi, yang pertamakali membudayakan bepergian
bagi suku Quraysh pada musim dingin ke Yaman dan ke Ḥabashah ke Negus dan pada
musim panas ke Syam dan ke Gaza dan barangkali hingga sampai di Ankara lalu
menemui kaisar. Ini merupakan perdangan lintas negara yang biasa mereka
lakukan. Mereka juga bisa menjalin hubungan perdagangan dengan dua kekuatan
politik yang saling bertentangan, yaitu Bizantium dan Persia tanpa memihak ke
salah satu di antara keduanya. Oleh karena itu, peradaban mereka dipengaruhi
oleh aktivitas perdagangan dalam arti bahwa mereka berinteraksi dengan
masyarakat-masyarakat seberang dan semakin menjauh dari pola badwi.[35]
Jauh
berbeda dengan Yaman, selain letak geografisnya yang strategis untuk
perdagangan, ia juga merupakan daerah subur. Dengan dua kelebihan yang ada,
mereka bisa mengandalkan perdangangan dan pertanian sebagai sumber ekonomi
mereka. Mereka mengirim kulit, sutera, emas, perak, batu mulia, dan lain-lain
Mesir kemudian ke Yunani, Rumania, dan imperium Bizantium. Kerajaan Ma`īn,
Saba`, dan Ḥimyar yang ada di Yaman mencapai stabilitas politik dan ekonomi,
bahkan menciptakan kehidupan yang beradab dengan tersebarnya pasar-pasar dan
bangunan-bangunan menakjubkan yang bersandar pada pertanian dan perdangangan
yang sangat maju. Ini menunjukkan bahwa pengetahuan mereka tentang ekonomi dan
politik lebih maju daripada daerah-daerah lain di Jazirah Arab, sehingga
merengkuh lebih awal peradaban yang tinggi.[36]
Sekitar
abad ke-7, kehidupan bangsa Arab Selatan sedang
berada dalam keadaan yang morat-marit. Negeri sudah sering tidak mempunyai
pemerintahan lagi. Penyembahan kepada dewa-dewiyang telah using itu telah tiba
pada suatu saat yang cukup lagi member kepuasan kepada kebutuhan rohaniah
bangsa itu. Pendapat yang samar-samar mengenai hanya adanya satu tuhan mulai
timbul dan berkembang dan menjadi suatu ibadah umum. Pengaruh Kristen makin
meluas walaupun pikiran agama itu tidak pernah masuk pada akal orang Arab.
Dalam keadaandemikian, agama Islam muncul. Tempatnya telah ada. Masanya telah
tiba. Dan lahirlah Nabi Muhammad SAW.[37]
A. KELAHIRAN MUHAMMAD SAW.
Muhammad
SAW. dilahirkan pada tanggal 9 atau 12 Rabi’ul Awal (20 April 571 M). sebelum
beliau meninggal, ayahnya meninggal terlebih dahulu. Kemudian ia diasuh oleh
kakeknya, yaitu Abdul Mutthalib. Sedangkan yang menyusuinya adalah Halimatus
Sa’diyah. Di kampung Halimatus Sa’diyah, Muhammad menggembala kambing.
Setelah neneknya meninggal dunia, ia diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.
Di rumah Abu Thalib inilah ia dididik. Beliau membantu Abu Thalib mengurus
perniagaannya. Bahkan pernah pergi berniaga ke negeri Syam saat masih remaja.[38]
Saat berusia 14 tahun, terjadilah
peperangan Fijar IV, antara Quraisy dan Kinanah di satu pihak, dan Hawazin di
pihak lain. Muhammad SAW ikut menyaksikan peperangan itu. Ada satu riwayat yang
menceritakan tentang hal itu. Bahkan Muhammad SAW sempat berkata, :[39]
“ Waktu peperangan Fijar itu, aku
ikut memberikan anak panah kepada paman-pamanku. Waktu itu aku sudah berusia 14
tahun.”
Salah satu dari usaha terpenting
sebelum diutus menjadi Rasul ialah berniaga ke Syam membawa barang-barang
perniagaan Khadijah binti Khuwailid, dengan ditemani oleh sahaya Khadijah yang
bernama Maisarah. Perniagaan ini menghasilkan laba yang banyak, dan menyebabkan
adanya pertalian antara Muhammad dan Khadijah. Mereka kemudian kawin. Waktu itu
Muhammad SAW. berusia 25 tahun sedangkan Khadijah 40 tahun.[40]
B. MUHAMMAD SAW. BERBUDI LUHUR
Dalam semua fase hidupnya, Muhammad
terkenal berbudi pekerti baik. Tidak ada sesuatu yang dapat dituduhkan
kepadanya. Tidak suka meminum khamar. Tidak suka mendatangi tempat-tempat
permainan atau tempat-tempat perjudian yang itu amat disukai oleh bangsa Arab
saat itu. Karena budi pekertinya yang luhur itulah ia dijuluki “Al Amin” (yang
dipercaya).
Sebagai seorang manusia yang bakal
menjadi pembimbing umat manusia, Muhammad SAW. memiliki bakat-bakat dan
kemampuan jiwa besar, kecerdasan pikirannya, ketajaman otaknya, kehalusan
perasaannya, kekuatan ingatannya, kecepatan tanggapannya, kekerasan kemauannya.
Segala pengalaman hidupnya mendapatkan pengolahan yang sempurna dalam jiwanya.
Dia mengetahui babak-babak sejarah negerinya, kesedihan masyarakat, dan
keruntuhan bangsanya. [41]
Menginjak usia 30 tahun, beliau ikut
serta memperbaiki Ka’bah bersama suku Quraisy. Setelah pekerjaan selesai, saat
mereka akan meletakkan Hajar Aswad, terjadilah perselisihan siapa yang akan
mengangkat Hajar Aaswad dan meletakkannya di tempatnya. Pereselisihan itu
nyaris menimbulkan peperangan. Kemudian Muhammad dipilih oleh para kaum Quraisy
untuk menyelesaikan persoalan itu. Muhammadpun melaksanakannya dengan adil dan
tanpa ada penolakan.
Muhammad juga tidak pernah memuja
berhala. Bahkan ia sangat benci kepada berhala-berhala serta agama yang dianut
oleh bangsa Arab. Akan tetapi, beliau seringkali mengasingkan diri untuk
berpikir tentang alam semesta dan Penciptanya. Tiap tahun, ia mengasingkan diri
di Gua Hira’ sebulan lamanya. Hingga kemudian beliau menyembah Allah menurut
ajarab Nabi Ibrahim. Muhammad juga tidak pernah melakukan perbuatan yang keji
yang amat digemari pemuda-pemuda saat itu. [42]
C. MENJADI NABI DAN MENYERU
Setelah sekian lama mengasingkan
diri dan berfikir tentang alam dan Khaliq-nya, jiwa Muhammad semakin suci. Maka
di usia 40 tahun, turunlah kepadanya malaikat Jibril sambil membawa wahyu
pertama berupa Surat Al ‘Alaq ayat 1-5.:
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ ù&tø%$# y7/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷èt ÇÎÈ
1.
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang
Menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha
pemurah,
4. yang mengajar (manusia) dengan
perantaran kalam[1589],
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang
tidak diketahuinya.
Ayat-ayat di atas belum menyuruh
Muhammad menyeru manusia kepada suatu agama, dan belum pula memberitahukan
kepadanya bahwa dia adalah utusan Allah. Tetapi ayat-ayat itu mengesankan
sesuatu yang luar biasa yang belum diketahui oleh Muhammad. Itulah sebabnya ia
segera kembali ke rumahnya dalam keadaan gemetar, apalagi dia dipeluk dengan
keras oleh Jibril beberapa kali, kemudian dilepaskan dan disuruhnya membaca sebagaimana
disebutkan dalam ayat-ayat itu.
Kemudian datanglah ayat yang kedua
yang cara diwahyukannya berbeda dengan yang pertama. Tiba-tiba terdengar suara
yang dating dari langit. Ketika itu Nabi Muhammad SAW. menoleh ke atas, saat
itulah dating malaikat Jibril membawa wahyu yang kedua. Melihat pemandangan itu,
tubuhnya gemetar. Ia bergegas pulang dan minta keluarganya menyelimutinya.
Kemudian Jibril dating dalam keadaan demikian dan menyampaikan wahyu yang kedua
yang berbunyi :
$pkr'¯»t ãÏoO£ßJø9$# ÇÊÈ óOè% öÉRr'sù ÇËÈ y7/uur ÷Éi9s3sù ÇÌÈ y7t/$uÏOur öÎdgsÜsù ÇÍÈ tô_9$#ur öàf÷d$$sù ÇÎÈ wur `ãYôJs? çÏYõ3tGó¡n@ ÇÏÈ Îh/tÏ9ur ÷É9ô¹$$sù ÇÐÈ
1. Hai orang yang
berkemul (berselimut),
2. bangunlah, lalu
berilah peringatan!
3. dan Tuhanmu
agungkanlah!
4. dan pakaianmu
bersihkanlah,
5. dan perbuatan
dosa tinggalkanlah,
6. dan janganlah
kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.
7. dan untuk
(memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.[44]
Ayat-ayat inilah yang mula-mula
menyuruh Rasulullah menyeru kepada agama Allah. Dengan demikian, mulailah
fase-fase seruan kepada agama yang baru itu. Maka dakwah beliau pertama-tama
ditujukan kepada lingkungan anggota keluarganya. Diantara inti dari ajaran yang
ia sampaikan kepada anggota keluarganya adalah Ke-Esa-an Tuhan, penghapusan
patung-patung berhala, kewajiban manusia beribadah kepada Tuhan Maha Pencipta.
Khadijah adalah orang pertama yang masuk Islam. Seorang isteri yang secara
lahiriah telah memungkinkan beliau hidup dalam tingkatan social sebagaimana
layaknya sesuai dengan asal-usul keturunannya. Tetapi hal itu belum sebanding
dengan kesetiaan dan kemesraan cintanya yang dapat meringankan kecemasan hati
beliau dan mendorong beliau dengan perasaan simpati yang dalam pada saat-saat
beliau mengalami goncangan batin.
Setelah Khadijah, pemeluk Islam selanjutnya adalah
sahaya beliau Zaid bin Haritsah serta Ali bin Abi Thalib. Kemudian disusul Abu
Bakar As Siddiq. Abu Bakar adalah seorang kaya raya, yang sangat dihormati oleh
masyarakat karena keluhuran budi pekertinya dank arena kecakapan serta
kekayaannya. Setelah masuk Islam, Abu Bakar banyak mengeluarkan hartanya untuk
memerdekakan budak-budak Muslim yang menderita karena disiksa majikannya.
Melalui Abu Bakar, bertambahlah pendukung agama Islam dengan lima orang penting
lainnya. Diantaranya Sa’ad bin Abi Waqash, Az Zubair bin al Awwam, Thalhah bin
Ubaidillah, Abdurrahman bin ‘Auf, serta Uthman bin Affan.[45]
Dengan tambahan pengikut-pengikut
lain, Nabi Muhammad berhasil membentuk kelompok kecil selama 3 tahun pertama
untuk mendukung dakwah Islam. Namun dakwah Islam tidak bisa berkembang pesat
karena adanya ancaman dan hambatan dari kaum kafir Quraisy. Bahkan ancaman itu
semakin menjadi-jadi sehingga Nabi Muhammad memerintahkan beberapa sahabatnya
berhijrah ke Abyssinia. Setelah peristiwa hijrah ini, pemuka suku Quraisy, Umar
bin Khattab kemudian masuk Islam setelah adiknya masuk Islam.
Islam telah mengajarkan bangsa Arab
menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa serta meninggalkan kebiasaan-kebiasaan
menyembah batu-batu berhala. Islam juga mengajarkan berkata benar, menepati
janji, hormat dan bakti kepada orang tua dan tetangga, menahan diri dari yang
haram dan pertumpahan darah. Islam juga melarang melakukan kejahatan, dusta,
merampas harta anak yatim piatu dan merendahkan martabat wanita. Islam
memerintahkan menyembah kepada Allah dengan sholat, zakat dan puasa.
Tekanan yang dilakukan orang-orang
Quraisy semakin menjadi-jadi. Bahkan mereka melakukan boikot terhadap Bani
Hasyim, keluarga besar Rasulullah SAW., dan membatasi ruang gerak mereka. Hal
itu dilakukan karena berbagai hal. Pertama, persaingan pengaruh dan
kekuasaan. Orang-orang kafir Quraisy belum bisa membedakan antara kenabian dan
kerajaan. Mereka mengira memenuhi seruan Rasulullah berarti tunduk kepada
Abdullah al Muthalib. Hal ini, menurut anggapan mereka, akan menyebabkan
suku-suku Arab kehilangan pengaruhnya dalam masyarakat.
Kedua, persamaan derajat.
Rasulullah mengajarkan persamaan derajat di antara umat manusia. Hal ini
berlawanan dengan tradisi Arab jahiliah yang membeda-bedakan derajat manusia
berdasarkan kedudukan dan status sosial. Bangsawan Quraisy belum siap menerima
ajaran yang akan meruntuhkan tradisi dan dasar-dasarkehidupan mereka.
Ketiga, takut
dibangkitkan setelah mati.gambaran akan dibangkitkan setelah mati sebagaimana
diajarkan Islam. di mata suku Quraisy begitu mengerikan. Oleh karena itu mereka
enggan memeluk Islam yang mengajarkan bahwa kelak, umat manusia akan
dibangkitkan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya di dunia.
Keempat, taklid kepada nenek
moyang. Bangsa Arab jahiliah menganggap tradisi nenek moyang merupakan sesuatu
yang mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Apalagi yang diajarkan Rasulullah
bertolak belakang dengan ajaran nenek moyang mereka.
Kelima, perniagaan patung.
Larangan menyembah patung, memahat dan memperjual belikan jelas akan mengancam
usaha pemahat dan penjual patung. Para penjaga Ka’bah juga tidak mau kehilangan
sumber penghasilan dan pengaruh yang diperoleh dari jasa pelayanan terhadap
orang-orang yang dating ke Makkah untuk menyembah berhala.[46]
Setelah 10 tahun berdakwah di
Makkah, jumlah pengikut Islam tidak seperti yang diharapkan.Nabi Muhammad SAW
akhirnya mencoba berdakwah ke Thaif, sebuah kota yang berjarak sekitar 70 mil
dari Makkah. Di sana, ia justru disambut dengan lemparan batu.
Demikianlah yang terjadi hingga Rasulullah memutuskan
untuk berhijrah ke Madinah dan menyebarkan Islam di sana hingga akhir hayatnya.
[1] Ahmad
al-‘Usayrī, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX, (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2003), 58.
[2] Ibid., 62-63.
[3]Abū Muḥammad ‘Abd al-Mālik bin Hishām, Sirah
Nabawi Ibnu Hisyam (terj.), (Jakarta: Darul Haq,2004), 16.
[8] Dudung
Abdurrahman et.al, Sejarah Peradaban Islam (Yogyakarta: LESFI,
2009)18-19. Lihat pula Ahmad Shalabi, Sejarah……89.
[11] K Ali, Study of Islamic History (India: Iradah
Adabiyah, 2009),14.
[12] Hitti, History….,20.
[13] Negeri
Yaman adalah tempat tumbuh
kebudayaan yang paling penting yang pernah tumbuh di Jazirah Arab sebelum Agama
Islam datang. Nama Yaman berasal dari
kata “Yumn” yang artinya “berkat”. Lihat A.
Syalabi, Sejarah….hal. 36.
[15] Al Lata, Al Uzza dan Manah adalah nama berhala-berhala yang
disembah orang Arab Jahiliyah dan dianggapnya anak-anak perempuan Tuhan.
Lihat Al-Quran QS. 53:20-21.
[20] Muh. Zuhri, Hukum Islam dalam Lintasan Sejarah (Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 1996), 6.
[21] Masyarakat
Arab menggunakan batu sebagai materi untuk membuat simbol Tuhan mereka adalah
ketika mereka menganggap Mekkah terlalu sempit bagi mereka untuk melakukan
thawaf secara bersama-sama. Oleh karena itu, untuk tetap dapat menghormati
Ka’bah, mereka membawa batu yang ada di ka’bah ke negeri mereka dan kemudian
mereka mengelilinginya sebagaimana mereka berkeliling di area ka’bah. Inilah prototype menyembahan batu di masyarakat
Arab. Lihat A Guillame, The Life of
Muhammad (London: Oxford university Press, 1970), 35. Juga dijelaskan secara gambling oleh A. Syalabi, Sejarah….63
[23] Departemen
Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya (Semarang: CV. Asy Syifa’, 2004),
745.
[24] Sha’ir-sha’ir
amat kaya dengan informasi yang berkaitan dengan peradaban mereka itu sehingga
sejarah peradaban mereka bisa didapatkan. Lihat. Dudung, Sejarah…………….. 19.
[25] Kata jahiliah
berasal dari bahasa Arab yaitu jahl yang diartikan bodoh lawan dari kata
ilmu. Tetapi jahl bangsa arab dulu bukan berarti mereka tidak
mengetahuhi, jadi jahl yang dimaksud adalah lawan dari kata hilm yang
artinya sabar, murah hati dan penyantun. Lihat., Ibid.,…… 19.
[26] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam: Bagian Kesatu dan Kedua, (Jakarta:
PT. RajaGrafindo Persada, 1999), 110.
[27] Nur Hakim, Sejarah dan Peradaban Islam (Malang: UMM
Press, 2004), 16.
[28] Seperti perang
antara suku Banu Bakr dan Banu Taghlib yang berlangsung selama 40 tahun dengan
cara menyerang dan saling merampok. Penyebab dari
peperangan itu hanyalah karena seekor unta betina yang dimiliki seorang
perempuan tua dari Bani bakr yang bernama Basus dilukai oleh kepala suku dari
bani Taghlib. lihat pula Marshall G.S.Hodson, The Venture of Islam, terj.Mulyani kartanegara (Jakarta:
Paramadina, 2002),111.
[30] Hitti, History…., 32.
[33] M.M. al-A’ẓamī, Sejarah Teks al-Quran dari
Wahyu sampai Kompilasi (Jakarta: Gema Insani, 2005), 23.
[45] Thomas W. Arnold, The Preaching of Islam (Sejarah
Da’wah Islam), (Jakarta: WIdjaya, 1985), 11-16.
[46] Siti Maryam (ed),Sejarah Peradaban Islam dari Masa
Klasik hingga Modern, (Yogyakarta: LESFI, 2009), 20.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar