Senin, 31 Desember 2012

ETIKA PENGGUNAAN KATA DALAM BERDAKWAH


Siapa yang tidak suka berbicara? Setiap manusia pasti akan selalu berbicara dalam kehidupannya. Bahkan seorang yang bisu pun berusaha untuk berbicara. Berbicara itu seperti bermain bulu tangkis, mengendarai mobil, atau mengelola toko. Semakin sering melakukannya, maka akan semakin mahir jadinya.
Meski setiap manusia diberi anugerah oleh Allah SWT. berupa kemampuan untuk berbicara, namun tidak setiap manusia bisa berbicara sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Kemampuan berbicara perlu dilatih secara sungguh-sungguh. Walaupun berbicara merupakan anugerah atau bahkan bakat alami, namun apabila tidak dilatih tidak akan membuahkan hasil yang maksimal. Sama halnya dengan David Beckham, Christiano Ronaldo ataupun Lionel Messi. Mereka memiliki bakat alami sebagai pesepakbola, tetapi mereka tetap harus berlatih untuk menjadi seorang pemain sepak bola yang mendunia.
Larry King, salah seorang pembawa acara talkshow di stasiun televisi CNN menjelaskan, seorang pembicara yang baik adalah ketika ia memiliki paling tidak 8 hal berikut,:
-          Memandang suatu hal dari sudut pandang baru.
-          Mempunyai cakrawala luas.
-          Antusias.
-          Tidak pernah membicarakan diri mereka sendiri.
-          Sangat ingin tahu.
-          Memberi ketegasan.
-          Mempunyai selera humor.
-          Mempunyai gaya bicara tersendiri.[1]
Berbicara merupakan salah satu bagian atau media komunikasi. Dalam hal ini, etika komunikasi memiliki tiga dimensi. Yakni dimensi yang terkait langsung dengan perilaku aktor komunikasi. Yakni ditunjukkan pada kehendak baik untuk bertanggung jawab. Kedua, dimensi moral dan ketiga adalah dimensi tujuan. [2]
Dalam Islam, berbicara tidaklah sekedar berbicara. Rasulullah SAW bersabda yang artinya:  "Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka berkatalah yang baik atau diamlah.” (HR Bukhari dan Muslim). Maka dari itu, Islam mengatur tentang etika berbicara. Al Qur’an mengajarkan umat Islam untuk berbicara sesuai dengan kondisi dan tujuannya.

SURAH T}AHA> AYAT 44

Ÿwqà)sù ¼çms9 Zwöqs% $YYÍh©9 ¼ã&©#yè©9 ㍩.xtFtƒ ÷rr& 4Óy´øƒs  (طه :٤٤)
44. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut".
Ayat ini berkaitan dengan kisah Nabi Musa As, khususnya yang menguraikan pebugasan Nabi Mus As. dan Nabi Harun As. kepada Fir’aun.

Tafsir Ibnu Kathi>r
Ayat ini mengandung pelajaran yang penting, yaitu sekalipun Fir’aun adalah orang yang sangat membangkang dan sangat takabur, sedangkan Musa adalah makhluk pilihan Allah saat itu, Musa tetap diperintahkan dalam menyampaikan risalah-Nya kepada Fir’aun memakai bahasa dan tutur kata yang lemah lembut dan sopan santun. Seperti yang telah diterangkan oleh Yazid ar-Raqqasyi saat menafsirkan firman-Nya:
Ÿwqà)sù ¼çms9 Zwöqs% $YYÍh©9 (طه :٤٤)
maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut. (Thaha:44)
Ia mengemukakan perkataan seorang penyair seperti berikut :
يا من يتحبب الي من يعادبه فكيف بمن يتولاهويناديه
Wahai orang yang bertutur lemah lembut kepada orang yang memusuhinya, maka bagaimanakah ia bertutur kata dengan orang yang menyukai dan mendambakannya (yakni tak terbayangkan kelembutan tutur katanya)?
Wahb ibnu Munabbih mengartikan sebagai berikut: “ Sesungguhnya aku lebih banyak memaaf dan mengampuninya daripada marah dan menghukuminya.”
Sedangkan Ikrimah menjelaskan makna :
Ÿwqà)sù ¼çms9 Zwöqs% $YYÍh©9 (طه :٤٤)
maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut. (Thaha:44)
Yakni ucapan “Tidak ada Tuhan selain Allah”.
Amr ibnu Ubaid telah meriwayatkan dari Al Hasan Al Basri bahwa Musa diperintahkan untuk menyampaikan kepada Fir’aun kalimat berikut, “Sesungguhnya engkau mempunyai Tuhan, dan engkau mempunyai tempat kembali, dan sesungguhnya di hadapanmu ada surga dan neraka.”
Baqiyyah telah meriwayatkan dari Ali ibnu Harun, dari seorang lelaki, dari Ad Dahhak ibnu Muzahim, dari An Nizal ibnu Sabrah, dari Ali, bahwa yang dimaksud dengan layyinan ialah dengan kata-kata sindiran (bukan dengan kata-kata terus terang). Hal yang sama telah diriwayatkan dari Sufyan As-Sauri, bahwa sebutlah dia dengan julukan Abu Murrah.
Pada garis besarnya pendapat mereka menyimpulkan bahwa Musa dan Harun diperintahkan oleh Allah Swt. agar dalam dakwahnya kepada Fir'aun memakai kata-kata yang lemah lembut, sopan santun, dan belas kasihan. Tujuannya agar kesannya lebih mendalam dan lebih menggugah perasaan serta dapat membawa hasil yang positif. Seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain yang mengatakan:
í÷Š$# 4n<Î) È@Î6y y7În/u ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9Ï»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr& (النحل ١٢٥  )
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (An Nahl : 125)
Adapun firman Allah Swt.:
¼ã&©#yè©9 ㍩.xtFtƒ ÷rr& 4Óy´øƒs   (طه :٤٤)
Mudah-mudahan ia ingat atau takut (Thaha: 44)
Yakni barangkali saja Fir’aun sadar dari kesesatannya yang membinasakan dirinya itu, atau menjadi takut kepada Tuhannya, akhirnya ia mau taat kepada-Nya. Seperti yang disebutkan Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya:
ô`yJÏj9 yŠ#ur& br& tž2¤tƒ ÷rr& yŠ#ur& #Yqà6ä© (الفرقان: ٦٢)
bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.(Al Furqan:62)
orang yang mau mengambil pelajaran akan sadar dan menghindari hal-hal yang terlarang, sedangkan rasa syukur ini timbul dari rasa takut kepada Allah dan sebagai ungkapan terima kasih kepada-Nya, akhirnya ia mengerjakan ketaatan kepada-Nya.
Al-Hasan Al-Basri mengartikan:
¼ã&©#yè©9 ㍩.xtFtƒ ÷rr& 4Óy´øƒs   (طه :٤٤)
Mudah-mudahan ia ingat atau takut (Thaha: 44)
Yakni janganlah kamu berdua mendoakan kebinasaan untuknya sebelum kamu mengemukakan alasanmu kepadanya. Sehubungan dengan hal ini, berikut syair Zaid ibnu Amr ibnu Nufail yang telah diriwayatkan oleh ibnu Ishaq, menyitir kata-kata Umayyah ibnu Abus Silt:
وانت الذي من فضل من ورحمة      بعثن الى موسى رسولامنا ديا
فقلت له: فذهب وها رونفا دعوا       الى الله فرعون الذي كا ن با غيا
فقولاله: هل انت سويت هذه           بلا وتدحتى استقلت كما هيا
فقولاله: أأنت رفعت هذه               بلا عمدأرفق إذنبك با نيا
فقولاله: أأنت سويت وسطها           منيراذا ما جنه اليل هديا
فقولاله: من يخرج الشمس بكرة       فيصبح ما مست من الارض ضا حيا
فقولاله: من ينبت الحب فى الثر ى    فيصبح منه البقل يهتز رابيا
ويخرج منه حبه فى رؤوسه          ففي ذاك أياا ت لمن كا ن واعيا
Engkaulah yang memberikan anugerah dan rahmat kepada siapa yang Engkau kehendaki, Engkau telah mengutus Musa sebagai Rasul yang menyeru (Fir’aun untuk menyembah-Mu). Maka Engkau berfirman kepadanya, “ Pergilah kamu Harun, serulah Fir’aun untuk menyembah Allah, dia adakah orang yang melampaui batas. Katakanlah olehmu berdua kepadanya,”Apakah engkau mampu menghamparkan bumi ini tanpa pasak sehingga ia dapat terhampar seperti sekarang?” Dan katakanlah olehmu berduakepadanya,’Apakah kamu mampu meninggikan langit ini tanpa tiang penyangga? Kalau begitu cobalah kamu bangun sendiri’. Dan katakanlah olehmu kepadanya,’ Apakah engkau yang menciptakan bintang-bintang yang bersinar bila malam hari sehingga bisa dijadikan sebagai pedoman arah?’ Dan katakanlah olehmu berdua kepadanya, ‘ Siapakah yangmenerbitkan matahari di pagi hari, sehingga tiada suatu belahan bumipun yang terkena sinarnya melainkan tampak dengan jelas?’ Dan katakanlah olehmu berdua kepadanya,’ Siapakah yang menumbuhkan biji-bijian di bumi, sehingga tumbuhlah tetumbuhan dengan pesatnya, lalu dikeluarkan pula dari pucuk tetumbuhan itu biji-bijian?’Dalam semuanya itu terkandung tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan Allah bagi orang yang berakal.


Tafsir Al Qurtubi>
Ÿwqà)sù çms9 Zwöqs% $YYÍh©9 ã&©#yè©9 ㍩.xtFtƒ ÷rr& 4Óy´øƒs  (طه :٤٤)
44. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut".
Kalimat tersebut menunjukkan kebolehan melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dan amar makruf nahi munkar itu dilakukan dengan perkataan yang lembut jika yang diajak bicara adalah seorang raja, atau penguasa yang mampu menjamin keamanan.
Perbedaan pendapat makna  $YYÍh©9Zwöqs%
1.      Al Kalbi dan Ikrimah, $YYÍh©9Zwöqs%  adalah panggilan yang ia senangi (كنيه).
Mengatakan كنيه   kepada orang kafir itu boleh dilakukan jika berhadapan dengan orang yang mulia dan diharapkan untuk masuk Islam. Boleh juga dilakukan terhadap orang yang tidak diharapkan kemuliaannya.
  كنيه  adalah panggilan yang disenangi oleh orang yang dipanggil. Dalam hal ini, konteksnya adalah orang Islam tertindas dan orang kafir berkuasa. Boleh memuji orang kafir asalkan ia punya kemuliaan dan diharapkan menjadi Islam.
Rasulullah SAW. bersabda:
Jika datang kepadamu orang yang mulia maka muliakanlah dia. 
Nabi Muhammad SAW. tidak pernah mengatakan jika kamu mengharapkan ke-Islamannya. Diantara bentuk dari memuliakan orang adalah memanggil كنيه -nya/nama yang disenangi.
2.       Ibnu Mas’ud mengatakan, dalam surat An Naziat 18-19, Allah berfirman :
ö@à)sù @yd y7©9 #n<Î) br& 4ª1ts? ÇÊÑÈ   y7tƒÏ÷dr&ur 4n<Î) y7În/u 4Óy´÷tFsù ÇÊÒÈ  
“Dan katakanlah (kepada Fir'aun): "Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?"
3.     Pendapat lain, $YYÍh©9Zwöqs% adalah perkataan Nabi Musa kepada Fir’aun,
“Wahai Fir’aun, sesungguhnya kami adalah utusan Tuhanmu, Tuhan semesta alam.”
 Musa menyebut Fir’aun dengan nama ini karena dia adalah orang yang paling dicintainya dibandingkan dengan orang-orang yang ada di sisi Fir’aun.
Al Qurtubi menjelaskan, $YYÍh©9Zwöqs% adalah ucapan yang tidak mengandung perkataan kasar di dalamnya. Apabila Nabi Musa saja diperintah oleh Allah untuk berkata  $YYÍh©9 kepada Fir’aun, maka orang-orang yang tingkatannya lebih rendah dari Nabi Musa lebih pantas untuk mengikutinya dalam menyeru manusia kepada yang makruf.   
ã&©#yè©9 ㍩.xtFtƒ ÷rr& 4Óy´øƒs
Mudah-mudahan ia ingat atau takut.
Maknanya, ini merupakan harapan dan keinginan Nabi Musa dan Nabi Harun. Harapan ini menunjukkan sisi kemanusiaan Musa dan Harun.
Az Zajjaj menjelaskan, &©#yè©9 adalah lafadz keinginan yang sangat dan pengharapan.
Pendapat yang lain menyatakan bahwa &©#yè©9 artinya pertanyaan yaitu :
“Lihatlah! Apakah dia (Fir’aun ) ingat?”
Pendapat lain menyatakan bahwa maknanya ‘supaya’. Abu Bakar al Waraq berpendapat, bahwa huruf &©#yè©9 dan 4Óy´øƒs  dalam seluruh Al Qur’an menunjukkan sesuatu yang telah terjadi.
“Dan Firaun telah ingat dan takut kepada Allah ketika dia akan tenggelam sebagaimana dalam firmannya surat Yunus ayat 90, tetapi hal tersebut tidak memberi manfaat kepadanya.
Yahya ibnu Mu’az berkata, ayat ini adalah sifat lembutmu kepada orang yang mengatakan, “Aku adalah Tuhan (sombong), maka bagaimana sikap lembutmu kepada orang yang mengatakan, apakah engkau tuhan (kita yang sombong)?”
Pendapat lain mengatakan sesungguhnya Fir’aun mendekatkan telinganya kepada Nabi Musa ketika Musa mendakwahinya. Kemudian dia (Firaun) bermusyawarah dengan istrinya, sehingga istrinya beriman. Setelah itu bermusyawarah lagi dengan Haman (penasehatnya). Haman berkata, jangan engkau turuti karena bila engkau turuti kamu akan menjadi rakyat. Yang dulunya kamu seseorang yang disembah, akan menjadi orang yang menyembah. Selanjutnya Haman berkata, kalau kamu tidak menuruti, aku akan menjadikanmu muda kembali. Kemudian Haman menyemir jenggot Fir’aun dengan warna hitam. Dan dia adalah orang yang pertama kali menyemir jenggot (dalam Jami’us S}aghir—riwayatnya dla’if)

Tafsir Al Muni>r
 Ÿwqà)sù ¼çms9 Zwöqs% $YYÍh©9 ¼ã&©#yè©9 ㍩.xtFtƒ ÷rr& 4Óy´øƒs  (طه :٤٤)
44. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut".
Ayat ini adalah perintah bagi Nabi Musa dan Nabi Harun dalam berdakwah kepada Fir’aun.
“Pergilah engkau beserta saudaramu dengan membawa benda-benda(kekuasaan)-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai mengingat-Ku. Pergilah Kamu berdua kepada Fir’aun, karena dia benar-benar melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut. Kemudian keduanya berkata: Hai Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir dia akan segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas. Dia (Allah) berfirman: Janganlah kalian berdua khawatir. Sesungguhnya Aku bersama kamu berdua. Aku mendengar dan melihat. Maka pergilah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dan katakan: Sungguh kami berdua adalah utusan Tuhan-Mu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah engkau menyiksa mereka. Sungguh, kami datang dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhan-Mu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang-orang yang mengikuti petunjuk. Sungguh telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) kepada siapapun yang mendustakan (ajaran agama yang kami bawa) dan berpaling (tidak memperdulikannya).  ”
    : بأيا تيdengan membawa mukjizat-Ku yang ada 9, seperti tongkat dan tangan yang bersinar. Pada saat Fir’aun berkata kepada Nabi Musa “bawalah bukti”, maka Nabi Musa melemparkan tongkat dan mengeluarkan tangannya. Allah berfirman: Kedua hal itu adalah bukti dari Tuhan-Mu. Janganlah kalian berdua lalai, tidak bersemangat dan ceroboh mengingat-Ku, yang artinya kalian lupa bertasbih. Jadikan dzikir kepada-Ku sebagai pertolongan dan kekuatan dari-Ku untuk kalian berdua.
Menurut Zamakhsary, yang disebut dzikir adalah menyampaikan risalah karena dzikir memuat sebagian ibadah dan menyampaikan risalah adalah ibadah yang paling agung.
Zwöqs% $YYÍh©9
dalam ungkapan ada kelembutan dan menghindari kesesatan. Sebagaimana firman Allah:
ö@yd y7©9 #n<Î) br& 4ª1ts? ÇÊÑÈ   y7tƒÏ÷dr&ur 4n<Î) y7În/u 4Óy´÷tFsù ÇÊÒÈ   (النا زعا ت : ١۸-١٩)
18. …."Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)".
19. dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?"
“Mudah-mudahan dia ingat, berfikir, mengambil mauidzah yang kemudian beriman.” Sebagaimana firman Allah :
ã&©#yè©9" ㍩.xtFtƒ ÷rr& 4Óy´øƒs  
lakukanlah perintah dengan berharap Fir’aun mengambil buahnya.
Meskipun Nabi Musa dan Harun sudah diutus Allah, namun Fir’aun tidak akan beriman kepada Allah.
Kata ㍩.xtFtƒ  dan 4Óy´øƒs  yang berarti mengingat dan takut/khawatir. Dua-duanya tidak dilakukan oleh Fir’aun. Nabi Musa juga sebelumnya sudah khawatir bahwa Fir’aun tidak akan mau mengingat dan takut kepada Allah.  Sebagaimana firman Allah yang artinya:
“ Sesungguhnya Aku (Allah) bersama kalian berdua dengan memberi pertolongan, perlindungan dan kemenangan. Aku (Allah) mendengar apa yang diperintahkan oleh Fir’aun dan apa yang dikerjakannya. Aku akan menghindarkan keburukan Fir’aun dari kalian berdua.
 Kemudian Nabi Musa mengatakan kepada Fir’aun,:
“Lepaskanlah Bani Israil bersama kami. Lepaskan mereka dari tawanan, biarkan mereka pergi bersama kami ke Syam. Jangan engkau siksa mereka dengan pekerjaan sulit, pekerjaan berat, seperti menggali, membangun dan mengangkut barang-barang berat dan membunuh anak-anak laki-laki.”
Hal ini menunjukkan bahwa menyelamatkan orang mukmin lebih penting daripada berdakwah kepada orang kafir.
Lalu Nabi Musa berkata lagi kepada Fir’aun:
“ Kami datang kepadamu dengan membawa (satu) ayat dan petunjuk Tuhanmu. Ayat itu sendiri adalah hujjah/bukti kebenaran kita tentang kerasulan.
Ayat tersebut di atas merupakan rangkaian kata yang ditetapkan dari kandungan kalam sebelumnya tentang pengakuan kenabian.
Allah berfirman :
“Maka bicaralah kalian berdua kepada Fir’aun dengan kata-kata yang lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.”
 Artinya: berbicara dengan dengan kata-kata yang halus dan tidak kasar.
Berbicaralah dengan kata-kata yang lembut agar memudahkan Fir’aun memikirkan apa yang disampaikan. Dan takut pada siksaan Allah sebagai ancaman yang disampaikan kedua Nabi tersebut. Yang dikehendaki adalah Nabi Musa dan Harun tidak melakukan paksaan.

“Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu ditimpakan kepada siapapun yang mendustakan ajaran agama yang kami bawa dan berpaling. Sesungguhnya kami membawa nasehat dan petunjuk berupa wahyu.”
 Dalam ayat ini dapat idambil pelajaran diantaranya:
·         Allah memerintahkan kepada Nabi Musa dan Harun untuk pergi berdakwah dan mengajak ia untuk beribadah kepada Allah dan mengikrarkan bahwa Allah Tuhan Yang Maha Esa. Untuk pertama kalinya Nabi Musa sendirian berdakwah kepada Firaun. Ini menunjukkan betapa mulianya Nabi Musa. Ia kemudian bersama-sama Nabi Harun untuk kedua kalinya.
·         Allah membekali Nabi Musa dan saudaranya, Nabi Harun dengan 9 mukjizat yang berfungsi sebagai bukti kenabiannya. Mukjizat ini untuk memberikan bukti dan meyakinkan Firaun dan kaumnya bahwa Nabi Musa dan Harun adalah utusan Allah kepada Firaun dan kaumnya.
·         Allah SWT memilih Nabi Musa untuk menerima wahyu dan risalah-Nya serta menyampaikannya kepada seluruh manusia.
·         Firman Allah yang menyatakan :
Ÿwqà)sù ¼çms9 Zwöqs% $YYÍh©9
adalah sebagai dalil bolehnya melakukan amar makruf dan nahi munkar. Kesemuanya itu dilakukan secara lemah lembut kepada orang yang mempunyai kekuasaan/kedudukan tinggi. Qoulu layyin adalah perkataan tanpa kekerasan.
·         Takut terhadap musuh yang dholim, yang sombong seperti Firaun adalah hal yang biasa. Hal itu merupakan tabiat manusia.


[1] Larry King dan Bill Gilbert, Seni Berbicara Kepada Siapa Saja, Kapan Saja, Di Mana Saja, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005), hal. 47-48.
[2] Haryatmoko. Etika Komunikasi , (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2007), hal 45-48. 

Tidak ada komentar: