Siapa yang tidak suka berbicara? Setiap manusia pasti
akan selalu berbicara dalam kehidupannya. Bahkan seorang yang bisu pun berusaha
untuk berbicara. Berbicara itu seperti bermain bulu tangkis, mengendarai mobil,
atau mengelola toko. Semakin sering
melakukannya, maka akan semakin mahir jadinya.
Meski
setiap manusia diberi anugerah oleh Allah SWT. berupa kemampuan untuk
berbicara, namun tidak setiap manusia bisa berbicara sesuai dengan tujuan yang
diinginkan. Kemampuan berbicara perlu dilatih secara sungguh-sungguh. Walaupun
berbicara merupakan anugerah atau bahkan bakat alami, namun apabila tidak
dilatih tidak akan membuahkan hasil yang maksimal. Sama halnya dengan David
Beckham, Christiano Ronaldo ataupun Lionel Messi. Mereka memiliki bakat alami
sebagai pesepakbola, tetapi mereka tetap harus berlatih untuk menjadi
seorang pemain sepak bola yang mendunia.
Larry
King, salah seorang pembawa acara talkshow di stasiun televisi CNN
menjelaskan, seorang pembicara yang baik adalah ketika ia memiliki paling tidak
8 hal berikut,:
-
Memandang
suatu hal dari sudut pandang baru.
-
Mempunyai
cakrawala luas.
-
Antusias.
-
Tidak
pernah membicarakan diri mereka sendiri.
-
Sangat
ingin tahu.
-
Memberi
ketegasan.
-
Mempunyai
selera humor.
-
Mempunyai
gaya bicara tersendiri.[1]
Berbicara
merupakan salah satu bagian atau media komunikasi. Dalam hal ini, etika
komunikasi memiliki tiga dimensi. Yakni dimensi yang terkait langsung dengan
perilaku aktor komunikasi. Yakni ditunjukkan pada kehendak baik untuk
bertanggung jawab. Kedua, dimensi moral dan ketiga adalah dimensi tujuan. [2]
Dalam
Islam, berbicara tidaklah sekedar berbicara. Rasulullah SAW bersabda yang
artinya: "Siapa
saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka berkatalah yang baik atau
diamlah.” (HR Bukhari dan Muslim). Maka dari itu, Islam mengatur tentang
etika berbicara. Al Qur’an mengajarkan umat Islam untuk berbicara sesuai dengan
kondisi dan tujuannya.
SURAH T}AHA> AYAT 44
wqà)sù ¼çms9 Zwöqs% $YYÍh©9 ¼ã&©#yè©9 ã©.xtFt ÷rr& 4Óy´øs (طه :٤٤)
44. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya
dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut".
Ayat ini berkaitan
dengan kisah Nabi Musa As, khususnya yang menguraikan pebugasan Nabi Mus As. dan
Nabi Harun As. kepada Fir’aun.
Tafsir
Ibnu Kathi>r
Ayat ini mengandung pelajaran yang penting, yaitu sekalipun Fir’aun
adalah orang yang sangat membangkang dan sangat takabur, sedangkan Musa adalah
makhluk pilihan Allah saat itu, Musa tetap diperintahkan dalam menyampaikan
risalah-Nya kepada Fir’aun memakai bahasa dan tutur kata yang lemah lembut dan
sopan santun. Seperti yang telah diterangkan oleh Yazid ar-Raqqasyi saat menafsirkan
firman-Nya:
wqà)sù ¼çms9 Zwöqs% $YYÍh©9 (طه :٤٤)
maka berbicaralah kamu berdua kepadanya
dengan kata-kata yang lemah lembut.
(Thaha:44)
Ia mengemukakan perkataan seorang penyair seperti berikut :
يا من يتحبب الي من يعادبه فكيف بمن يتولاهويناديه
Wahai orang yang bertutur lemah lembut
kepada orang yang memusuhinya, maka bagaimanakah ia bertutur kata dengan orang
yang menyukai dan mendambakannya (yakni tak terbayangkan kelembutan tutur
katanya)?
Wahb ibnu Munabbih mengartikan sebagai
berikut: “ Sesungguhnya aku lebih banyak memaaf dan mengampuninya daripada
marah dan menghukuminya.”
Sedangkan Ikrimah menjelaskan makna :
wqà)sù ¼çms9 Zwöqs% $YYÍh©9
(طه :٤٤)
maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah
lembut. (Thaha:44)
Yakni ucapan “Tidak ada Tuhan selain Allah”.
Amr ibnu Ubaid telah meriwayatkan dari Al Hasan Al Basri bahwa Musa
diperintahkan untuk menyampaikan kepada Fir’aun kalimat berikut, “Sesungguhnya
engkau mempunyai Tuhan, dan engkau mempunyai tempat kembali, dan sesungguhnya
di hadapanmu ada surga dan neraka.”
Baqiyyah telah meriwayatkan dari Ali ibnu Harun, dari seorang lelaki,
dari Ad Dahhak ibnu Muzahim, dari An Nizal ibnu Sabrah, dari Ali, bahwa
yang dimaksud dengan layyinan ialah dengan kata-kata sindiran (bukan
dengan kata-kata terus terang). Hal yang sama telah diriwayatkan dari Sufyan As-Sauri,
bahwa sebutlah dia dengan julukan Abu Murrah.
Pada garis besarnya pendapat mereka menyimpulkan bahwa Musa dan Harun
diperintahkan oleh Allah Swt. agar dalam dakwahnya kepada Fir'aun memakai
kata-kata yang lemah lembut, sopan santun, dan belas kasihan. Tujuannya agar
kesannya lebih mendalam dan lebih menggugah perasaan serta dapat membawa hasil
yang positif. Seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain yang
mengatakan:
í÷$# 4n<Î) È@Î6y y7În/u ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9Ï»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr& (النحل
١٢٥ )
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan
pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (An Nahl : 125)
Adapun firman Allah Swt.:
¼ã&©#yè©9 ã©.xtFt ÷rr& 4Óy´øs (طه :٤٤)
Mudah-mudahan ia ingat atau takut (Thaha: 44)
Yakni barangkali saja Fir’aun sadar dari kesesatannya
yang membinasakan dirinya itu, atau menjadi takut kepada Tuhannya, akhirnya ia
mau taat kepada-Nya. Seperti yang disebutkan Allah Swt. dalam ayat lain melalui
firman-Nya:
ô`yJÏj9 y#ur& br& t2¤t ÷rr& y#ur& #Yqà6ä© (الفرقان: ٦٢)
bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang
yang ingin bersyukur.(Al Furqan:62)
orang yang mau mengambil pelajaran
akan sadar dan menghindari hal-hal yang terlarang, sedangkan rasa syukur ini
timbul dari rasa takut kepada Allah dan sebagai ungkapan terima kasih
kepada-Nya, akhirnya ia mengerjakan ketaatan kepada-Nya.
Al-Hasan Al-Basri mengartikan:
¼ã&©#yè©9 ã©.xtFt ÷rr& 4Óy´øs (طه :٤٤)
Mudah-mudahan ia ingat atau takut (Thaha:
44)
Yakni janganlah kamu berdua mendoakan kebinasaan
untuknya sebelum kamu mengemukakan
alasanmu kepadanya. Sehubungan dengan hal ini, berikut syair Zaid ibnu Amr ibnu
Nufail yang telah diriwayatkan oleh ibnu Ishaq, menyitir kata-kata Umayyah ibnu
Abus Silt:
وانت الذي من فضل من
ورحمة بعثن الى موسى رسولامنا ديا
فقلت له: فذهب وها
رونفا دعوا الى الله فرعون الذي كا ن
با غيا
فقولاله: هل انت سويت
هذه بلا وتدحتى استقلت كما هيا
فقولاله: أأنت رفعت
هذه بلا عمدأرفق إذنبك با نيا
فقولاله: أأنت سويت
وسطها منيراذا ما جنه اليل هديا
فقولاله: من يخرج
الشمس بكرة فيصبح ما مست من الارض ضا
حيا
فقولاله: من ينبت
الحب فى الثر ى فيصبح منه البقل يهتز
رابيا
ويخرج منه حبه فى
رؤوسه ففي ذاك أياا ت لمن كا ن
واعيا
Engkaulah yang memberikan anugerah
dan rahmat kepada siapa yang Engkau kehendaki, Engkau telah mengutus Musa
sebagai Rasul yang menyeru (Fir’aun untuk menyembah-Mu). Maka Engkau berfirman
kepadanya, “ Pergilah kamu Harun, serulah Fir’aun untuk menyembah Allah, dia
adakah orang yang melampaui batas. Katakanlah olehmu berdua kepadanya,”Apakah
engkau mampu menghamparkan bumi ini tanpa pasak sehingga ia dapat terhampar
seperti sekarang?” Dan katakanlah olehmu berduakepadanya,’Apakah kamu mampu
meninggikan langit ini tanpa tiang penyangga? Kalau begitu cobalah kamu bangun
sendiri’. Dan katakanlah olehmu kepadanya,’ Apakah engkau yang menciptakan
bintang-bintang yang bersinar bila malam hari sehingga bisa dijadikan sebagai
pedoman arah?’ Dan katakanlah olehmu berdua kepadanya, ‘ Siapakah
yangmenerbitkan matahari di pagi hari, sehingga tiada suatu belahan bumipun
yang terkena sinarnya melainkan tampak dengan jelas?’ Dan katakanlah olehmu
berdua kepadanya,’ Siapakah yang menumbuhkan biji-bijian di bumi, sehingga
tumbuhlah tetumbuhan dengan pesatnya, lalu dikeluarkan pula dari pucuk
tetumbuhan itu biji-bijian?’Dalam semuanya itu terkandung tanda-tanda yang
menunjukkan kekuasaan Allah bagi orang yang berakal.
Tafsir Al Qurtubi>
wqà)sù çms9 Zwöqs% $YYÍh©9 ã&©#yè©9 ã©.xtFt ÷rr& 4Óy´øs (طه :٤٤)
44. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya
dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut".
Kalimat tersebut menunjukkan kebolehan
melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dan amar makruf nahi munkar itu dilakukan
dengan perkataan yang lembut jika yang diajak bicara adalah seorang raja, atau penguasa
yang mampu menjamin keamanan.
Perbedaan pendapat makna $YYÍh©9Zwöqs%
1. Al Kalbi dan Ikrimah, $YYÍh©9Zwöqs% adalah
panggilan yang ia senangi (كنيه).
Mengatakan كنيه kepada orang kafir itu boleh dilakukan jika berhadapan
dengan orang yang mulia dan diharapkan untuk masuk Islam. Boleh juga dilakukan
terhadap orang yang tidak diharapkan kemuliaannya.
كنيه adalah panggilan yang disenangi oleh orang yang
dipanggil. Dalam hal ini, konteksnya adalah orang Islam tertindas dan orang
kafir berkuasa. Boleh memuji orang kafir asalkan ia punya kemuliaan dan
diharapkan menjadi Islam.
Rasulullah SAW. bersabda:
Jika datang kepadamu orang yang mulia maka
muliakanlah dia.
Nabi Muhammad SAW. tidak pernah mengatakan
jika kamu mengharapkan ke-Islamannya. Diantara bentuk dari memuliakan orang
adalah memanggil كنيه -nya/nama yang disenangi.
2. Ibnu Mas’ud mengatakan, dalam
surat An Naziat 18-19, Allah berfirman :
ö@à)sù @yd y7©9 #n<Î) br& 4ª1ts? ÇÊÑÈ y7tÏ÷dr&ur 4n<Î) y7În/u 4Óy´÷tFsù ÇÊÒÈ
“Dan katakanlah (kepada Fir'aun):
"Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). dan
kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?"
3. Pendapat lain, $YYÍh©9Zwöqs% adalah perkataan Nabi Musa kepada Fir’aun,
“Wahai Fir’aun, sesungguhnya kami adalah utusan Tuhanmu, Tuhan semesta
alam.”
Musa menyebut Fir’aun dengan nama
ini karena dia adalah orang yang paling dicintainya dibandingkan dengan
orang-orang yang ada di sisi Fir’aun.
Al Qurtubi menjelaskan, $YYÍh©9Zwöqs% adalah ucapan yang tidak mengandung
perkataan kasar di dalamnya. Apabila Nabi Musa saja diperintah oleh Allah untuk
berkata $YYÍh©9 kepada Fir’aun, maka orang-orang yang
tingkatannya lebih rendah dari Nabi Musa lebih pantas untuk mengikutinya dalam menyeru
manusia kepada yang makruf.
ã&©#yè©9 ã©.xtFt ÷rr& 4Óy´øs
Mudah-mudahan ia ingat atau takut.
Maknanya, ini merupakan harapan dan
keinginan Nabi Musa dan Nabi Harun. Harapan ini menunjukkan sisi kemanusiaan Musa
dan Harun.
Az Zajjaj menjelaskan, &©#yè©9 adalah lafadz keinginan yang sangat dan
pengharapan.
Pendapat yang lain menyatakan bahwa &©#yè©9 artinya pertanyaan yaitu :
“Lihatlah! Apakah dia (Fir’aun ) ingat?”
Pendapat lain menyatakan bahwa maknanya ‘supaya’.
Abu Bakar al Waraq berpendapat, bahwa huruf &©#yè©9 dan 4Óy´øs dalam seluruh Al Qur’an menunjukkan sesuatu
yang telah terjadi.
“Dan Firaun telah ingat dan takut kepada
Allah ketika dia akan tenggelam sebagaimana dalam firmannya surat Yunus ayat
90, tetapi hal tersebut tidak memberi manfaat kepadanya.
Yahya ibnu Mu’az berkata, ayat ini adalah
sifat lembutmu kepada orang yang mengatakan, “Aku adalah Tuhan (sombong), maka
bagaimana sikap lembutmu kepada orang yang mengatakan, apakah engkau tuhan
(kita yang sombong)?”
Pendapat lain mengatakan sesungguhnya Fir’aun
mendekatkan telinganya kepada Nabi Musa ketika Musa mendakwahinya. Kemudian dia
(Firaun) bermusyawarah dengan istrinya, sehingga istrinya beriman. Setelah itu
bermusyawarah lagi dengan Haman (penasehatnya). Haman berkata, jangan engkau
turuti karena bila engkau turuti kamu akan menjadi rakyat. Yang dulunya kamu
seseorang yang disembah, akan menjadi orang yang menyembah. Selanjutnya Haman
berkata, kalau kamu tidak menuruti, aku akan menjadikanmu muda kembali.
Kemudian Haman menyemir jenggot Fir’aun dengan warna hitam. Dan dia adalah
orang yang pertama kali menyemir jenggot (dalam Jami’us S}aghir—riwayatnya dla’if)
Tafsir Al Muni>r
wqà)sù ¼çms9 Zwöqs% $YYÍh©9 ¼ã&©#yè©9 ã©.xtFt ÷rr& 4Óy´øs (طه :٤٤)
44. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya
dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut".
Ayat ini
adalah perintah bagi Nabi Musa dan Nabi Harun dalam berdakwah kepada Fir’aun.
“Pergilah engkau beserta saudaramu dengan
membawa benda-benda(kekuasaan)-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai
mengingat-Ku. Pergilah Kamu berdua kepada Fir’aun, karena dia benar-benar
melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang
lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut. Kemudian keduanya berkata: Hai
Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir dia akan segera menyiksa kami atau akan
bertambah melampaui batas. Dia (Allah) berfirman: Janganlah kalian berdua
khawatir. Sesungguhnya Aku bersama kamu berdua. Aku mendengar dan melihat. Maka
pergilah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dan katakan: Sungguh kami berdua
adalah utusan Tuhan-Mu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah
engkau menyiksa mereka. Sungguh, kami datang dengan membawa bukti (atas
kerasulan kami) dari Tuhan-Mu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada
orang-orang yang mengikuti petunjuk. Sungguh telah diwahyukan kepada kami bahwa
siksa itu (ditimpakan) kepada siapapun yang mendustakan (ajaran agama yang kami
bawa) dan berpaling (tidak memperdulikannya). ”
: بأيا تيdengan membawa mukjizat-Ku yang ada 9,
seperti tongkat dan tangan yang bersinar. Pada saat Fir’aun berkata kepada Nabi
Musa “bawalah bukti”, maka Nabi Musa melemparkan tongkat dan mengeluarkan
tangannya. Allah berfirman: Kedua hal itu adalah bukti dari Tuhan-Mu. Janganlah
kalian berdua lalai, tidak bersemangat dan ceroboh mengingat-Ku, yang artinya
kalian lupa bertasbih. Jadikan dzikir kepada-Ku sebagai pertolongan dan
kekuatan dari-Ku untuk kalian berdua.
Menurut Zamakhsary, yang disebut dzikir
adalah menyampaikan risalah karena dzikir memuat sebagian ibadah dan
menyampaikan risalah adalah ibadah yang paling agung.
Zwöqs% $YYÍh©9
dalam ungkapan ada kelembutan dan
menghindari kesesatan. Sebagaimana firman Allah:
ö@yd…
y7©9 #n<Î) br& 4ª1ts? ÇÊÑÈ y7tÏ÷dr&ur 4n<Î) y7În/u 4Óy´÷tFsù ÇÊÒÈ (النا زعا ت : ١۸-١٩)
18. …."Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri
(dari kesesatan)".
19. dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar
supaya kamu takut kepada-Nya?"
“Mudah-mudahan dia ingat,
berfikir, mengambil mauidzah yang kemudian beriman.” Sebagaimana firman Allah :
ã&©#yè©9" ã©.xtFt ÷rr& 4Óy´øs “
lakukanlah
perintah dengan berharap Fir’aun mengambil buahnya.
Meskipun Nabi Musa dan
Harun sudah diutus Allah, namun Fir’aun tidak akan beriman kepada Allah.
Kata ã©.xtFt dan
4Óy´øs
yang berarti mengingat dan takut/khawatir. Dua-duanya tidak dilakukan
oleh Fir’aun. Nabi Musa juga sebelumnya sudah khawatir bahwa Fir’aun tidak akan
mau mengingat dan takut kepada Allah. Sebagaimana firman Allah yang artinya:
“ Sesungguhnya Aku (Allah) bersama kalian berdua
dengan memberi pertolongan, perlindungan dan kemenangan. Aku (Allah) mendengar
apa yang diperintahkan oleh Fir’aun dan apa yang dikerjakannya. Aku akan
menghindarkan keburukan Fir’aun dari kalian berdua.
Kemudian Nabi Musa mengatakan
kepada Fir’aun,:
“Lepaskanlah Bani Israil bersama kami. Lepaskan mereka
dari tawanan, biarkan mereka pergi bersama kami ke Syam. Jangan engkau siksa
mereka dengan pekerjaan sulit, pekerjaan berat, seperti menggali, membangun dan
mengangkut barang-barang berat dan membunuh anak-anak laki-laki.”
Hal ini menunjukkan bahwa menyelamatkan orang mukmin lebih penting
daripada berdakwah kepada orang kafir.
Lalu Nabi Musa berkata lagi kepada Fir’aun:
“ Kami datang kepadamu dengan membawa (satu) ayat dan
petunjuk Tuhanmu. Ayat itu sendiri adalah hujjah/bukti kebenaran kita tentang
kerasulan.
Ayat tersebut di atas merupakan rangkaian kata yang ditetapkan dari
kandungan kalam sebelumnya tentang pengakuan kenabian.
Allah berfirman :
“Maka bicaralah kalian berdua kepada Fir’aun dengan
kata-kata yang lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.”
Artinya: berbicara dengan dengan
kata-kata yang halus dan tidak kasar.
Berbicaralah dengan kata-kata yang lembut agar memudahkan Fir’aun
memikirkan apa yang disampaikan. Dan takut pada siksaan Allah sebagai ancaman
yang disampaikan kedua Nabi tersebut. Yang dikehendaki adalah Nabi Musa dan
Harun tidak melakukan paksaan.
“Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami
bahwa siksa itu ditimpakan kepada siapapun yang mendustakan ajaran agama yang
kami bawa dan berpaling. Sesungguhnya kami membawa nasehat dan petunjuk berupa
wahyu.”
Dalam ayat ini dapat idambil pelajaran
diantaranya:
·
Allah
memerintahkan kepada Nabi Musa dan Harun untuk pergi berdakwah dan mengajak ia
untuk beribadah kepada Allah dan mengikrarkan bahwa Allah Tuhan Yang Maha Esa.
Untuk pertama kalinya Nabi Musa sendirian berdakwah kepada Firaun. Ini
menunjukkan betapa mulianya Nabi Musa. Ia kemudian bersama-sama Nabi Harun
untuk kedua kalinya.
·
Allah membekali
Nabi Musa dan saudaranya, Nabi Harun dengan 9 mukjizat yang berfungsi sebagai
bukti kenabiannya. Mukjizat ini untuk memberikan bukti dan meyakinkan Firaun dan
kaumnya bahwa Nabi Musa dan Harun adalah utusan Allah kepada Firaun dan
kaumnya.
·
Allah SWT
memilih Nabi Musa untuk menerima wahyu dan risalah-Nya serta menyampaikannya
kepada seluruh manusia.
·
Firman Allah
yang menyatakan :
wqà)sù ¼çms9 Zwöqs% $YYÍh©9
adalah sebagai dalil bolehnya melakukan amar makruf dan nahi munkar.
Kesemuanya itu dilakukan secara lemah lembut kepada orang yang mempunyai
kekuasaan/kedudukan tinggi. Qoulu layyin adalah perkataan tanpa kekerasan.
·
Takut
terhadap musuh yang dholim, yang sombong seperti Firaun adalah hal yang biasa.
Hal itu merupakan tabiat manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar